Mewariskan Tradisi Literasi Kepada Anak-anak Muhammadiyah

Publish

10 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
107
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Mewariskan Tradisi Literasi Kepada Anak-anak Muhammadiyah

Penulis: Yudha Kurniawan, Ketua LPO PDM Bantul, Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY

Literasi menjadi salah satu pilar awal berdirinya Muhammadiyah. Kyai Ahmad Dahlan beserta para perintis persyarikatan memprioritaskan  gerakan dakwah, Pendidikan, sosial dan kesehatan, pemberdayaan Perempuan, serta literasi sebagai strategi membangun Muhammadiyah.

Dengan label Taman Pustaka, Muhammadiyah mengibarkan benderanya sebagai gerakan literasi. Sebuah pilihan tepat para pendirinya, karena melalui gerakan literasi yang baik bermanfaat  menunjang keberhasilan  pilar-pilar yang lain.

Walhasil, dakwah Muhammadiyah telah merambah mancanegara dengan sekian banyak PCIM. Amal usaha Pendidikan dari jenjang usia dini hingga universitas tersebar di seluruh Indonesia, bahkan di beberapa negara ada sekolah Muhammadiyah.  

Kita memiliki banyak rumah sakit, panti asuhan, dan sederet prestasi sebagai gerakan yang mengusuing jargon berkemajuan. Semua capaian prestasi Muhammadiyah saat ini, pondasinya adalah tradisi literasi. 

Tidak ada ceritanya orang mampu berdakwah, membangun dan mengurusi sekolah, rumah sakit, panti asuhan, ambulan sosial, bahkan sampai olahraga , tanpa akar tradisi literasi yang baik. Sejatinya, kita sukses dalam kehidupan di dunia maupun akherat apabila dapat menguasai ilmunya. Maka literasi penting, karena dapat memberikan kita pemahaman agar menjadi adaptif dalam merespon persoalan secara tepat.

Literasi di Keluarga

Tantangan kita hari ini adalah merawat dan mewariskan tradisi literasi dalam keluarga kita. Budaya literasi harus mewarnai setiap entitas keluarga Muhammadiyah. 

Semasa kecil, masih saya ingat di rumah simbah yang seorang guru SD tersedia banyak bacaan. Saat itu simbah langganan beberapa media massa, ada koran Masa Kini, KR, majalah Suara Muhammadiyah, Majalah Panji Masyarakat. 

Semuanya saya baca, tentu sesuai umur anak SD memilih rubrik tertentu misalnya “Nukilan Tarikh” nya Suara Muhammadiyah, maupun berita olahraga dan criminal di koran. Dahulu saya merindukan setiap edisi terbaru media massa langganan simbah. Setidaknya dari sinilah saya mulai senang membaca.

Saya merasakan atmosfer untuk membaca saat itu cukup kondusif diciptakan oleh simbah. Tentu simbah juga gemar membaca. Saya sering melihat misalnya saat menyiapkan materi khutbah Jumat, simbah membaca beberapa buku dan menuliskan naskah khutbahnya dengan rapi di sebuah buku bersampul batik.

Dongeng Pak Amir dan Bu Siti 

Minat membaca saya, tidak saja tumbuh karena fasilitas yang disediakan dan ekosistem yang dibangun di rumah simbah. Tapi peran guru di sekolah juga nyata dalam memompa keingintahuan saya, sehingga tertarik untuk membaca.

Saya ceritakan peran dua guru saya yang kebetulan teman seperjuangan simbah di Muhammadiyah. Pertama, Bu Siti Umayyah yang mengajar saya di TK ABA Al Wafa. 

Bu Siti seorang alumni Madrasah Mua’allimat Muhammadiyah di Yogyakarta. Beliau ini pintar mendongeng, di sekolah sering menyampaikan kisah para Nabi dan shahabat. 

Misalnya cerita tentang Nabi Musa AS dan tongkat yang bisa berubah menjadi ular besar. Karena disampaikan begitu bagusnya, saya tertarik dan penasaran. Walhasil bertanya lebih lanjut kepada Ibu di rumah.

Merespon keingintahuan anaknya, membuat Ibu mengajak saya ke Toko Buku A Isman untuk membeli komik Nabi Musa. Karena masih TK, tentu awalnya hanya dibacakan oleh Ibu, tapi akhirnya saya setiap hari membuka buku itu kendati hanya melihat gambarnya. 

Saat duduk di bangku SD, saya memiliki guru agama bernama Pak Amir Turmudzi. Pak Amir biasa menyampaikan materi dengan pengantar sebuah dongeng. 

Karena hanya sebagai pengantar untuk menyampaikan materi pelajaran, dongeng Pak Amir tidaklah memuaskan kami para muridnya. Maka sebagai pelampiasan, kamipun menyerbu perpustakaan sekolah untuk membaca buku-buku cerita. 

Kontribusi Muhammadiyah Membangun Minat Literasi Sejak Dini

Pada jenjang TK dan SD, sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah masih memimpin di antara satuan Pendidikan yang lain baik negeri maupun swasta. Kepercayaan masyarakat ini dibangun sekolah kita, karena kemampuannya melayani dan mendidik muridnya dinilai sesuai ekspektasi orang tuanya. Salah satunya tentu dalam hal membangun kemampuan literasi para murid. 

Sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah merupakan artefak dari budaya literasinya persyarikatan. Maka hendaknya tetap menjadi pilar kecerdasan bangsa, yang membekali muridnya dengan minat membaca, kemandirian belajar, dan rangsangan untuk selalu ingin tahu. 

Lantaran bergerak mendidik murid di usia anak-anak, menurut saya kemampuan mendongeng penting dikuasai oleh para guru TK dan SD Muhammadiyah serta Aisyiyah. Bagaimanapun untuk mendekatkan rasa suka berliterasi kepada muridnya, mendongeng dapat menjadi media perantara yang menarik. 

Maka menurut saya, secanggih apapun fasilitas di sekolah Muhammadiyah, dan sepintar apapun  gurunya,  seyogyanya mereka tetap memiliki kemampuan mendongeng seperti Pak Amir dan Bu Siti. 

Saya sudah merasakan dahsyatnya kemampuan mendongeng Bu Siti yang lulusan MA Mu’allimat itu. Bila tidak mau belajar, belum tentu para guru masa kini yang sarjana, magister, dan doctor lulusan FKIP, mampu menandingi Bu Siti dan Pak Amir dalam menghadirkan pembelajaran yang menyenangkan serta membuat kesan mendalam kepada muridnya.

Muhammadiyah sebagai pelopor Pendidikan di Indonesia, memiliki kekuatan besar untuk menyelamatkan masa depan bangsa ini. Tentu saja apabila guru SD dan TK ABA kita dapat mewariskan semangat berliterasi Kyai Dahlan dan generasi awal persyarikatan ini kepada para murid, sebagaimana yang telah dilakukan Pak Amir dan Bu Siti. 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Benarkah Surah Asy-Syu’ara Surah Para Pemusik? Muhammad Zakaria Darlin, Lc., M.A., Ph.D, ....

Suara Muhammadiyah

18 May 2024

Wawasan

Antara Ilmu dan Amal Oleh: Suko Wahyudi/PRM Timuran Yogyakarta   Ilmu merupakan pondasi utam....

Suara Muhammadiyah

14 April 2025

Wawasan

Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Bagaimana seharusnya kita mensy....

Suara Muhammadiyah

11 September 2024

Wawasan

Tidak Terlihat Namun Paling Terdampak: Suara Penyandang Disabilitas dalam Bencana Sumatra 2025 Oleh....

Suara Muhammadiyah

1 December 2025

Wawasan

Prangko Amal Muhammadiyah: Wakaf Literasi Zaman Kolonial Oleh: Khafid Sirotudin Ada satu tayangan ....

Suara Muhammadiyah

7 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah