MU’ALLIMAAT: MADRASAH KESETARAAN PERTAMA DI INDONESIA

Suara Muhammadiyah

9 July 2025

2203
Foto Istimewa

Foto Istimewa

MU’ALLIMAAT: MADRASAH KESETARAAN PERTAMA DI INDONESIA

Bukan R.A. Kartini atau Roehana Koeddoes yang menggerakkan kesetaraan kaum perempuan lewat lembaga pendidikan Islam modern yang hingga saat ini masih eksis dan terus berkembang. Kartini memang telah ditahbiskan sebagai Pahlawan Nasional karena jasanya memperjuangkan kedudukan kaum perempuan di Jawa pada akhir abad 19, tetapi gerakannya masih sebatas inisiasi dan tidak terlembagakan. Roehana juga ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional karena berjasa dalam perkembangan gerakan emansipasi di Indonesia pada masa kolonialisme hingga memasuki masa Kemerdekaan Republik Indonesia, tetapi sekolah gratis dan Yayasan Kerajinan Amai Setia (KAS) dalam lingkup yang terbatas.

Namun, untuk sosok Rahma El-Yunusiyah, pendiri Perguruan Diniyah Putri di Padang Panjang karena kiprah dan kepemimpinannya dalam menjadikannya tokoh reformis Pendidikan Islam di Indonesia. Jika di Padang Panjang ada Diniyah Putri—sebagaimana hasil riset Amir Hamzah Wirjosoekarto (1985)—maka di tanah Jawa ada perguruan Kweekschool Isteri yang di kemudian hari dikenal dengan nama Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah.             

Sebuah gerakan kesetaraan yang terrencana dan terstruktur sekalipun diinisiasi oleh K.H. Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), tetapi digerakkan sepenuhnya oleh kaum perempuan. Bermula dari kelas program lanjutan yang dirintis oleh K.H. Ahmad Dahlan disebut Al-Qismul Arqa (1918) yang sering disetarakan sebagai Pondok Muhammadiyah hingga akhirnya pada 1920 secara resmi menjadi Kweekschool Muhammadiyah. Ng. Djojosoegito, sekretaris Hoofdbestuur Muhammadiyah, dalam rilisnya menyebutkan, “Sekolah Bakal Goeroe Islam soedah berdiri di Djokjakarta pada 8 hari boelan December 1921.” 

Kweekschool Moehammadijah semula menerapkan sistem kelas campuran antara murid laki-laki dan perempuan. Namun pada 1927, kelas khusus murid-murid perempuan dipisah kemudian dikenal dengan sebutan Kweekschool Isteri (Madrasah Mu’allimaat). Dinamika politik dan kesiapan para pengelola lembaga pendidikan Islam ini memutuskan untuk mengubah nama sebagai dampak dari kebijakan Ordonansi Sekolah Liar (Wilde Scholen Ordonantie), setelah diputuskan dalam congress, maka Kweekschool Muhammadiyah berganti nama menjadi Madrasah Mu’allimin dan Kweekschool Isteri menjadi Madrasah Mu’allimaat pada 1932.

Selengkapnya dapat membeli Majalah Suara Muhammadiyah digital di sini Majalah SM Digital Edisi 06/2025


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Editorial

Setiap tahun politik tiba seperti Pemilu 2024 selalu muncul kritik dari kader atau pimpinan Muhammad....

Suara Muhammadiyah

27 October 2023

Editorial

Peran Pemimpin Umat Islam Oleh: Prof Dr Haedar Nashir, M.Si Para pemimpin baik secara individual m....

Suara Muhammadiyah

8 October 2025

Editorial

CERDAS DI MEDIA PUBLIK Beberapa minggu terakhir media sosial di tanah air diramaikan dengan ulah &l....

Suara Muhammadiyah

2 October 2024

Editorial

MUHAMMADIYAH MEMAJUKAN KESEJAHTERAAN BANGSA Lewat Surat Edaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah Nomor 4/....

Suara Muhammadiyah

6 May 2026

Editorial

KITA USAHAKAN RUMAH ITU Muhammadiyah sering dibanggakan sebagai organisasi kader. Sejarahnya penuh ....

Suara Muhammadiyah

20 November 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah