Muhammadiyah dan Gen Z: Antara Ideologi, Gaya Hidup, dan Algoritma
Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif (Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketua PDM Jakarta Timur)
Muhammadiyah memasuki abad keduanya dengan realitas sosial yang jauh berbeda dibanding masa-masa awal pendiriannya. Jika generasi sebelumnya dihadapkan pada kolonialisme, kemiskinan struktural, dan keterbelakangan pendidikan, maka generasi hari ini khususnya Generasi Z hidup dalam dunia yang ditandai oleh kelimpahan informasi, kecepatan teknologi, dan perubahan gaya hidup yang amat cepat.
Generasi Z, yakni mereka yang lahir kurang lebih antara tahun 1997 hingga 2012, merupakan generasi yang lahir dan tumbuh di era digital. Mereka tumbuh bersama internet, media sosial, dan algoritma. Cara mereka belajar, berinteraksi, membangun identitas, bahkan beragama, sangat dipengaruhi oleh ruang digital. Dalam konteks inilah Muhammadiyah dihadapkan pada tantangan baru yaitu bagaimana memastikan ideologi dan nilai-nilai Islam berkemajuan tetap relevan, dipahami, dan dihidupi oleh Gen Z.
Tulisan ini berupaya membaca relasi antara Muhammadiyah dan Gen Z dalam tiga simpul utama yaitu ideologi, gaya hidup, dan algoritma. Ketiganya saling melengkapi dan membentuk lanskap kaderisasi serta keberlanjutan gerakan Muhammadiyah di masa depan.
Sejak awal berdirinya, Muhammadiyah bukan hanya organisasi keagamaan, tetapi gerakan ideologis yang membawa misi tajdid. Ideologi Muhammadiyah menekankan pemurnian akidah, rasionalitas, keberpihakan pada kemajuan, serta komitmen kebangsaan. Dokumen-dokumen ideologis seperti Muqaddimah Anggaran Dasar, Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah, serta Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah menjadi fondasi nilai yang membentuk watak gerakan. Ideologi ini telah terbukti lentur menghadapi perubahan zaman, sekaligus kokoh menjaga prinsip.
Namun, tantangan muncul ketika ideologi ini berhadapan dengan generasi yang lebih akrab dengan konten singkat daripada teks panjang, lebih dekat dengan pemengaruh (influencer) daripada tokoh organisasi, dan lebih responsif pada visual daripada narasi konseptual. Gen Z sering dipersepsikan sebagai generasi yang kritis dan berani menyuarakan pendapat. Mereka lebih terbuka terhadap perbedaan, namun sekaligus memiliki keterikatan yang longgar terhadap institusi. Loyalitas jangka panjang terhadap organisasi tidak lagi menjadi pilihan otomatis.
Dalam konteks keberagamaan, Gen Z cenderung mencari makna yang personal dan kontekstual. Mereka tidak alergi terhadap nilai, tetapi menolak otoritarianisme. Mereka menyukai dialog, bukan dogma. Mereka ingin memahami alasan, bukan sekadar menerima perintah.
Karakter ini sejatinya memiliki irisan dengan tradisi rasional Muhammadiyah. Namun jika tidak dikelola dengan baik, justru dapat menjauhkan Gen Z dari organisasi, terutama ketika ideologi disampaikan secara normatif, kaku, dan tidak komunikatif. Salah satu persoalan utama dalam relasi Muhammadiyah dan Gen Z adalah cara ideologi diperkenalkan. Di banyak ruang kaderisasi, ideologi masih dipahami sebagai kumpulan dokumen yang harus dihafal, bukan kerangka berpikir yang hidup.
Akibatnya, ideologi terasa berat dan jauh dari realitas keseharian Gen Z. Mereka kesulitan mengaitkan nilai-nilai Muhammadiyah dengan isu yang mereka hadapi seperti kesehatan mental, krisis iklim, ketimpangan digital, atau keadilan gender. Jika ideologi tidak mampu menjawab kegelisahan zaman, maka Gen Z akan mencari rujukan lain. Di sinilah risiko munculnya jarak antara generasi muda dan ideologi Muhammadiyah.
Gaya hidup menjadi arena penting dalam pembentukan identitas Gen Z. Pilihan busana, musik, komunitas, hingga cara berekspresi di media sosial merupakan bagian dari proses pencarian jati diri. Bagi sebagian kalangan, gaya hidup Gen Z kerap dianggap bertentangan dengan nilai organisasi. Namun pendekatan yang terlalu normatif justru berpotensi melahirkan resistensi.
Muhammadiyah perlu membaca gaya hidup Gen Z bukan sebagai ancaman, melainkan ruang negosiasi nilai. Ideologi Islam berkemajuan tidak menuntut keseragaman ekspresi, tetapi kesadaran nilai. Selama prinsip dasar dijaga, ekspresi kultural dapat beragam. Era digital ditandai oleh dominasi algoritma. Apa yang dilihat, dibaca, dan dipercaya Generasi Z sangat dipengaruhi oleh mekanisme platform digital. Algoritma media sosial bekerja bukan berdasarkan nilai kebenaran atau kedalaman makna, melainkan berdasarkan tingkat keterlibatan seperti apa yang paling banyak diklik, disukai, dibagikan, dan dikomentari.
Dalam konteks keberagamaan, situasi ini membawa konsekuensi serius. Otoritas keagamaan dan keilmuan tidak lagi tunggal. Tafsir keagamaan, pandangan ideologis, bahkan sikap politik keagamaan dapat dengan mudah diviralkan oleh figur populer yang belum tentu memiliki kedalaman ilmu dan tanggung jawab moral. Generasi Z Muhammadiyah hidup dalam situasi ini yaitu berhadapan dengan banjir wacana, potongan ayat, kutipan hadis, dan narasi ideologis yang sering kali dilepaskan dari konteksnya.
Jika kader Muhammadiyah tidak dibekali fondasi ideologis yang kuat, algoritma akan mengambil alih peran pendidikan. Apa yang seharusnya dipelajari secara bertahap dan mendalam, tergantikan oleh potongan konten instan. Di sinilah risiko besar muncul yaitu ideologi Muhammadiyah yang rasional, moderat, dan berkemajuan dapat terpinggirkan oleh wacana keagamaan yang emosional, simplistis, bahkan populistik.
Namun algoritma tidak selalu harus diposisikan sebagai musuh. Ia adalah realitas zaman yang harus dihadapi dengan kecerdasan strategis. Tantangannya adalah bagaimana Muhammadiyah tidak hanya menjadi konsumen algoritma, tetapi juga produsen wacana yang mampu memengaruhi ruang digital. Dakwah digital hari ini sering terjebak pada logika viralitas. Konten yang singkat, provokatif, dan emosional lebih mudah mendapatkan perhatian. Sementara dakwah yang reflektif, argumentatif, dan bernuansa ideologis kerap dianggap tidak menarik.
Bagi Muhammadiyah, tantangan dakwah digital bukan semata soal kehadiran di media sosial, tetapi soal bagaimana membawa nilai Islam berkemajuan ke dalam logika digital tanpa kehilangan substansi. Dakwah digital Muhammadiyah tidak boleh sekadar mengikuti tren, tetapi harus menawarkan kedalaman makna. Generasi Z sebenarnya tidak anti terhadap pemikiran serius. Mereka hanya membutuhkan pendekatan yang relevan dengan cara berpikir dan medium yang mereka gunakan. Podcast dengan tema reflektif, video pendek yang mencerahkan, diskusi daring yang dialogis, serta konten visual yang edukatif dapat menjadi sarana internalisasi ideologi.
Dakwah digital juga harus menyentuh isu-isu yang dekat dengan kehidupan Gen Z seperti kesehatan mental, krisis iklim, etika bermedia sosial, keadilan sosial, dan makna keberagamaan di tengah tekanan hidup modern. Ketika dakwah Muhammadiyah mampu hadir dalam isu-isu tersebut dengan perspektif ideologis yang jernih, maka nilai Islam berkemajuan akan terasa relevan dan membumi.
Lebih jauh, dakwah digital perlu dipahami sebagai proses jangka panjang, bukan sekadar kampanye sesaat. Dakwah digital membutuhkan ekosistem mulai dari kader yang melek digital, institusi yang mendukung, serta keberanian untuk bereksperimen. Tanpa itu, dakwah digital Muhammadiyah akan kalah bersaing dengan konten keagamaan instan yang lebih agresif. Sistem kaderisasi Muhammadiyah selama ini dirancang untuk dunia analog yaitu tatap muka, hierarkis, dan berjenjang. Di era digital, pola ini perlu dievaluasi.
Gen Z membutuhkan ruang partisipasi yang cair, dialogis, dan relevan. Mereka ingin dilibatkan, bukan sekadar diarahkan. Kaderisasi ideologis harus mampu hadir dalam bahasa digital tanpa kehilangan kedalaman. Jika tidak, kaderisasi berisiko menjadi ritual administratif yang ditinggalkan secara perlahan oleh generasi muda. Meski penuh tantangan, era digital juga menawarkan peluang besar. Algoritma dapat menjadi sarana penyebaran nilai jika dikelola secara kreatif dan strategis.
Muhammadiyah memiliki kekayaan pemikiran dan praktik yang dapat diterjemahkan ke dalam konten digital yang mencerahkan. Podcast, video pendek, diskusi daring, dan literasi digital dapat menjadi sarana tajdid ideologis. Kuncinya adalah keberanian untuk beradaptasi tanpa kehilangan prinsip.
Amal usaha dan organisasi otonom Muhammadiyah memiliki peran strategis dalam menjembatani ideologi dan Gen Z. Kampus, sekolah, dan komunitas pemuda dapat menjadi ruang eksperimen kaderisasi ideologis berbasis kebutuhan generasi. Ketika amal usaha hanya diposisikan sebagai institusi layanan, maka peluang ideologisasi terlewat. Sebaliknya, jika ia menjadi ruang pembelajaran nilai, regenerasi ideologis akan lebih berkelanjutan.
Relasi Muhammadiyah dan Generasi Z tidak bisa dilepaskan dari konteks kebangsaan. Sejak awal, Muhammadiyah hadir sebagai gerakan Islam yang berakar kuat pada komitmen kebangsaan. Prinsip Islam berkemajuan selalu sejalan dengan nilai persatuan, keadilan sosial, dan kemanusiaan. Hari ini, isu kebangsaan menghadapi tantangan serius seperti polarisasi politik, menguatnya politik identitas, intoleransi, serta menurunnya kualitas etika publik. Generasi Z Muhammadiyah hidup di tengah pusaran tersebut, terutama di ruang digital yang sering kali memperuncing perbedaan.
Tanpa penguatan ideologi Muhammadiyah, Gen Z berisiko terjebak dalam narasi kebangsaan yang sempit dan reaktif. Mereka bisa menjadi bagian dari polarisasi, alih-alih menjadi penengah. Padahal, sejarah Muhammadiyah menunjukkan bahwa kader-kadernya mampu tampil sebagai perekat sosial karena kedalaman nilai ideologis.
Penguatan wawasan kebangsaan bagi Gen Z Muhammadiyah bukan berarti menjadikan organisasi sebagai alat politik praktis. Sebaliknya, ia adalah upaya menanamkan etika publik, nalar kritis, dan keberanian moral dalam kehidupan berbangsa. Di era digital, komitmen kebangsaan juga harus diterjemahkan dalam etika bermedia sosial seperti menolak hoaks, menghindari ujaran kebencian, dan membangun dialog yang beradab. Inilah bentuk konkret dari ideologi Islam berkemajuan dalam praktik keseharian Gen Z.
Jika Muhammadiyah mampu menjadikan isu kebangsaan sebagai bagian integral dari kaderisasi Gen Z, maka organisasi ini tidak hanya menyiapkan aktivis internal, tetapi juga warga bangsa yang matang secara ideologis dan moral. Muhammadiyah perlu merumuskan pendekatan kaderisasi baru yang berangkat dari realitas Gen Z. Ideologi harus diterjemahkan sebagai nilai hidup, bukan dogma.
Dialog, keteladanan, dan relevansi menjadi kunci. Gen Z tidak menolak ideologi, tetapi menolak cara lama yang tidak lagi sesuai dengan zamannya. Muhammadiyah dan Gen Z sejatinya memiliki potensi besar untuk saling menguatkan. Ideologi Islam berkemajuan menawarkan nilai yang relevan dengan tantangan zaman, sementara Gen Z membawa energi, kreativitas, dan keberanian untuk berubah.
Tantangan terbesar bukan pada perbedaan generasi, melainkan pada kemampuan organisasi untuk menjembatani ideologi dengan realitas baru. Di tengah algoritma dan gaya hidup digital, Muhammadiyah dituntut untuk tetap setia pada nilai, sekaligus cerdas membaca zaman. Dengan regenerasi ideologis yang adaptif dan inklusif, Muhammadiyah dapat memastikan bahwa gerakan ini tidak hanya bertahan, tetapi terus relevan dan berkemajuan di tangan Generasi Z.

