Muhammadiyah dan Tanggung Jawab Rahmatan lil ‘Alamin

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
58
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Muhammadiyah dan Tanggung Jawab Rahmatan lil ‘Alamin

Oleh : Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Muhammadiyah sejak awal berdiri bukan sekadar sebagai organisasi, melainkan sebagai gerakan dakwah dan tajdid. Ia lahir dari kegelisahan spiritual dan sosial, dari kesadaran bahwa Islam harus hadir sebagai cahaya yang menerangi kehidupan umat. Di dalam Al-Qur’an, Allah menegaskan tentang misi kerasulan: “Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad) melainkan sebagai rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiya: 107). Ayat ini bukan hanya deskripsi tentang Nabi, tetapi juga amanah bagi setiap pengikut risalahnya. Termasuk bagi Muhammadiyah dan seluruh kadernya.

Menjadi rahmat berarti menjadi kehadiran yang menenangkan, memperbaiki, dan mencerahkan. Rahmat bukan hanya dalam bentuk bantuan sosial atau amal usaha yang megah, tetapi juga dalam sikap, cara berbicara, dan cara memperlakukan orang lain. Di sinilah tanggung jawab itu menjadi sangat personal. Muhammadiyah boleh memiliki ribuan sekolah, rumah sakit, dan universitas. Tetapi jika kader-kadernya tidak menghadirkan akhlak yang lembut dan adil dalam keseharian, maka pesan rahmat itu terasa timpang.

Di dalam keluarga, misalnya, tanggung jawab rahmat itu dimulai dari ruang paling dekat. Seorang kader yang aktif berdakwah di luar rumah tetapi keras kepada pasangan dan anak-anaknya, perlu berhenti sejenak untuk bercermin. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.” (HR. Tirmidzi, hasan sahih). Hadis ini sederhana, tetapi menohok. Ukuran kebaikan bukan hanya di mimbar, melainkan di ruang makan, di ruang tamu, di sela-sela percakapan dengan anak yang sedang bertumbuh.

Rahmat di dalam keluarga berarti menghadirkan ketenangan, bukan ketegangan. Memberi teladan, bukan hanya perintah. Menghidupkan shalat berjamaah bukan sekadar sebagai kewajiban, tetapi sebagai momen kehangatan ruhani. Jika di rumah saja kita belum menjadi rahmat, bagaimana mungkin kita berharap menjadi rahmat bagi masyarakat luas?

Di dalam organisasi, tanggung jawab itu mengambil bentuk yang berbeda. Muhammadiyah dikenal sebagai gerakan yang berkemajuan, rasional, dan berlandaskan manhaj tarjih. Namun dalam praktiknya, tidak jarang muncul sikap kaku, eksklusif, atau merasa paling benar. Kritik memang bagian dari tradisi tajdid, tetapi kritik yang kehilangan akhlak akan berubah menjadi jarak.

Kita perlu bertanya dengan jujur, apakah kehadiran kita dalam rapat-rapat dan forum musyawarah membawa ketenangan atau justru ketegangan? Apakah perbedaan pandangan kita sikapi sebagai kekayaan ijtihad, atau sebagai ancaman terhadap ego pribadi? Rahmat dalam organisasi berarti mampu berbeda tanpa bermusuhan, mampu tegas tanpa merendahkan, mampu mengoreksi tanpa melukai.

Allah memerintahkan, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.” (Q.S. An-Nahl: 125). Hikmah dan pelajaran yang baik bukan hanya untuk masyarakat luas, tetapi juga untuk internal kita sendiri. Dakwah pencerahan yang menjadi ciri Muhammadiyah menuntut kedewasaan sikap. Pencerahan bukan sekadar membongkar yang salah, tetapi juga menunjukkan jalan yang lebih baik dengan kebijaksanaan.

Di tengah masyarakat yang majemuk, tanggung jawab rahmatan lil ‘alamin semakin terasa berat sekaligus mulia. Muhammadiyah tidak hidup dalam ruang hampa. Ia berada di tengah keberagaman agama, budaya, dan pilihan politik. Dalam situasi seperti ini, sikap inklusif dan terbuka bukan berarti mencairkan prinsip, tetapi menampilkan wajah Islam yang teduh dan berkeadaban.

Rahmat berarti kehadiran yang dirindukan, bukan ditakuti. Ketika Muhammadiyah hadir di sebuah daerah, masyarakat merasakan manfaatnya, pendidikan yang bermutu, layanan kesehatan yang terjangkau, kegiatan sosial yang menyentuh. Tetapi lebih dari itu, masyarakat juga merasakan keramahan kader-kadernya, kejujuran pengurusnya, dan keteladanan tokohnya.

Kita tentu tidak menutup mata bahwa dalam perjalanan panjang, selalu ada kekurangan. Ada sikap yang terlalu kaku dalam memahami perbedaan. Ada kecenderungan merasa cukup dengan identitas tanpa memperdalam substansi. Ada semangat berorganisasi yang tinggi, tetapi kurang diimbangi dengan kelembutan hati. Kritik terhadap hal-hal ini bukan untuk melemahkan, melainkan untuk menguatkan. Sebab gerakan yang sehat adalah gerakan yang mampu mengoreksi dirinya sendiri.

Misi dakwah pencerahan yang diusung Muhammadiyah menuntut integritas moral. Pencerahan bukan hanya soal pemurnian akidah atau pembaruan pemikiran, tetapi juga pembaruan akhlak. Kita berbicara tentang Islam berkemajuan, maka kemajuan itu harus tampak dalam cara kita menghargai waktu, menepati janji, mengelola amanah, dan bersikap adil.

Rahmatan lil ‘alamin tidak lahir dari retorika besar, melainkan dari konsistensi kecil yang terus dijaga. Dari senyum yang tulus kepada tetangga. Dari kejujuran dalam mengelola dana umat. Dari kesabaran dalam menghadapi perbedaan. Dari keberanian meminta maaf ketika keliru.

Pada akhirnya, tanggung jawab rahmat itu kembali kepada setiap individu kader. Muhammadiyah sebagai institusi hanyalah wadah; ruhnya adalah manusia-manusia yang menggerakkannya. Jika setiap kader berusaha menjadi rahmat di rumahnya, di kantornya, di masjidnya, dan di ruang-ruang publik, maka wajah Muhammadiyah akan memancarkan cahaya yang sulit dipadamkan.

Kita tidak dituntut menjadi sempurna, tetapi kita dituntut untuk terus memperbaiki diri. Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan organisasi yang kuat, tetapi juga keteladanan yang nyata. Jika kita ingin Muhammadiyah tetap relevan dan dicintai, maka jalan yang paling kokoh adalah memperindah akhlak dan memurnikan niat.

Menjadi rahmatan lil ‘alamin bukanlah slogan sejarah, melainkan komitmen harian. Dimulai dari cara kita berbicara, cara kita memimpin, cara kita melayani. Di sanalah dakwah menemukan wujudnya yang paling jujur. Dan di sanalah Muhammadiyah benar-benar menjadi rahmat bagi semesta.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Diskursus Komunikasi Politik dalam Ijtihad Menentukan Awal Ramadhan dan Idul Fitri Oleh : Haidir Fi....

Suara Muhammadiyah

22 March 2026

Wawasan

Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Surah An-Nisa ayat 48 dan 116 menjela....

Suara Muhammadiyah

14 June 2024

Wawasan

Mengatasi Kecanduan Judi Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Kecan....

Suara Muhammadiyah

24 July 2024

Wawasan

Pemuda dan Kejayaan Islam: Refleksi Hari Sumpah Pemuda Oleh: Muhammad Fitriani  Hampir satu a....

Suara Muhammadiyah

28 October 2023

Wawasan

Itikaf yang Membumi, Dari Ritual Menuju Aksi Sosial Berkeadilan Oleh: Firman Nugraha, widyaiswara d....

Suara Muhammadiyah

28 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah