ENREKANG, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Selatan menegaskan bahwa Lazismu merupakan instrumen strategis Persyarikatan dalam menghadirkan Islam berkemajuan melalui kerja-kerja sosial yang terukur, terintegrasi, dan berdampak. Penegasan tersebut disampaikan Ketua PWM Sulsel, Prof. Qadir Gassing, HT., MS, pada Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Lazismu Muhammadiyah Sulawesi Selatan di Kampus Universitas Muhammadiyah Enrekang.
Menurut Prof. Qadir, Muhammadiyah senantiasa bergerak dalam sistem koordinasi yang kuat agar seluruh amal usaha dan lembaga berjalan sesuai rel perjuangan Persyarikatan. Lazismu, sebagai lembaga pengelola dana umat, dituntut menjaga ketepatan gerak agar amanah yang diemban benar-benar memberi manfaat bagi umat, khususnya kelompok mustadh‘afin. “Semua yang kita lakukan harus pas. Lebih dan kurang bisa menjadi kendala bagi lembaga,” tegasnya.
PWM Sulsel juga menekankan pentingnya landasan teologis dalam kerja-kerja Lazismu. Prof. Qadir mengingatkan para amil untuk menjadikan QS. At-Taubah ayat 103 sebagai spirit gerakan zakat, sehingga penghimpunan dan pendayagunaan tidak semata bersifat administratif, tetapi menjadi bagian dari dakwah dan tajdid Muhammadiyah.
Dalam konteks penguatan kelembagaan, PWM Sulsel mendorong optimalisasi Kantor Layanan Lazismu sebagai corong akselerasi program dan penghubung antara Persyarikatan dengan umat. Keberadaan kantor layanan dipandang strategis untuk memperluas jangkauan penghimpunan serta memastikan distribusi yang adil dan berdampak.
Rakerwil Lazismu Sulsel yang mengusung tema Inovasi Sosial yang Terintegrasi, Berdampak, dan Berkemajuan ini menjadi momentum konsolidasi seluruh Lazismu Daerah se-Sulawesi Selatan. Melalui forum ini, PWM Sulsel menegaskan komitmennya untuk terus mengawal arah gerak Lazismu agar sejalan dengan kebijakan Persyarikatan, hasil Muktamar Muhammadiyah, serta kebutuhan umat dan bangsa.

