Muktamar XVI dan Ikhtiar Berjamaah Menuntaskan Padepokan Tapak Suci

Publish

18 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
145
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Muktamar XVI dan Ikhtiar Berjamaah Menuntaskan Padepokan Tapak Suci

Di sudut Kota Yogyakarta, pada pagi yang cerah 19 April 2025, sebuah batu pertama diletakkan. Bagi sebagian orang, itu mungkin hanya awal pembangunan sebuah gedung. Namun bagi keluarga besar Tapak Suci Putera Muhammadiyah, batu pertama itu sesungguhnya adalah penanda dimulainya pembangunan sebuah mimpi yang telah lama diperjuangkan. Mimpi itu bernama Padepokan Tapak Suci.

Di atas lahan wakaf Persyarikatan Muhammadiyah seluas 1.250 meter persegi, Pimpinan Pusat Tapak Suci memulai pembangunan padepokan pertama dalam sejarah perguruan. Sebuah langkah monumental yang lahir dari amanah, cita-cita panjang para pendekar, sekaligus kebutuhan nyata sebuah perguruan modern yang terus berkembang hingga berbagai penjuru dunia.

Kini, ketika Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah akan digelar di Semarang pada 6–9 Agustus 2026 dengan tema besar “Berakar Tradisi Menuju Tapak Suci Modern, Mandiri dan Mendunia”, maka menuntaskan pembangunan padepokan menjadi salah satu “pekerjaan rumah” yang layak mendapat perhatian seluruh peserta muktamar.

Sebab, jika tema muktamar mengajak Tapak Suci melangkah menuju kemajuan, maka padepokan adalah salah satu fondasi penting yang harus diwujudkan bersama.

Kebutuhan perguruan berkemajuan

Selama puluhan tahun Tapak Suci tumbuh menjadi salah satu kekuatan utama dalam dunia pencak silat Indonesia. Prestasi demi prestasi diraih. Cabang-cabang berdiri di berbagai daerah bahkan mancanegara. Kader-kader terbaik lahir dari proses pembinaan yang panjang. 

Namun di balik kebesaran itu, Tapak Suci belum memiliki sebuah pusat aktivitas yang benar-benar representatif sebagai rumah besar perguruan. Karena itulah pembangunan padepokan memiliki makna yang jauh melampaui pembangunan fisik semata.

Padepokan dirancang sebagai pusat pembinaan atlet dan kader Tapak Suci. Di tempat inilah latihan-latihan nasional dapat dilaksanakan secara terpusat. Atlet-atlet terbaik dapat digembleng dalam suasana yang mendukung peningkatan prestasi. Kader-kader dari berbagai wilayah dapat berkumpul, belajar, berlatih, dan memperdalam keilmuan Tapak Suci.

Lebih dari itu, padepokan juga akan menjadi pusat kaderisasi dan pembentukan karakter. Sebuah ruang yang tidak hanya mengajarkan teknik beladiri, tetapi juga menanamkan nilai ke-Islam-an, ke-Muhammadiyah-an, kepemimpinan, dan pengabdian kepada umat.

Bangunan tiga lantai yang direncanakan pun mencerminkan kebutuhan strategis tersebut. Lantai pertama akan difungsikan sebagai gedung olahraga dan arena latihan. Lantai kedua menjadi pusat perkantoran dan administrasi organisasi. Sedangkan lantai ketiga akan menjadi ruang rapat, pusat kebugaran, sekaligus fasilitas penginapan bagi kader maupun tamu dari berbagai daerah dan negara.

Dengan fasilitas seperti itu, padepokan akan menjadi pusat aktivitas, pusat koordinasi, pusat pembinaan, sekaligus etalase kebesaran Tapak Suci di hadapan dunia. Tidak berlebihan jika pembangunan padepokan disebut sebagai investasi peradaban bagi masa depan perguruan.

Mewujudkan mimpi besar perlu kerjasama

Pembangunan yang diperkirakan membutuhkan dana sekitar Rp18 miliar tentu bukan pekerjaan ringan. Beban tersebut tidak mungkin hanya dipikul oleh segelintir orang atau oleh Pimpinan Pusat semata. 

Dibutuhkan kesadaran kolektif bahwa padepokan ini bukan milik pimpinan pusat, bukan milik satu wilayah, bukan pula milik satu generasi. Padepokan adalah milik seluruh keluarga besar Tapak Suci.

Karena itu, Muktamar XVI di Semarang hendaknya menjadi momentum untuk membangun kesadaran bersama bahwa penyelesaian pembangunan padepokan merupakan agenda strategis perguruan yang membutuhkan dukungan semua tingkatan organisasi.

Pimpinan Wilayah Tapak Suci, Pimpinan Daerah, Pimpinan Cabang, hingga kader-kader di akar rumput perlu melihat pembangunan padepokan sebagai bagian dari jihad organisasi. Setiap wilayah dapat mengambil peran sesuai kemampuan. Setiap daerah dapat menggerakkan partisipasi kader dan simpatisan. Setiap pendekar dapat menjadi bagian dari sejarah besar ini.

Rapikan shaf, bergerak berjamaah

Semangat berjamaah yang selama ini menjadi kekuatan Muhammadiyah sesungguhnya adalah solusi paling realistis untuk menuntaskan pembangunan padepokan.

Ketika ribuan kader bergerak bersama, beban berat akan terasa ringan. Ketika seluruh tingkatan organisasi mengambil bagian, target yang tampak sulit akan menjadi mungkin. Dan ketika seluruh keluarga besar Tapak Suci menyatukan niat, padepokan yang hari ini masih dalam proses pembangunan akan berdiri kokoh sebagai simbol persatuan dan kemajuan perguruan.

Kelak, ketika para pendekar muda berlatih di arena utama padepokan, ketika tamu-tamu dari berbagai negara datang belajar Tapak Suci, ketika rapat-rapat strategis perguruan dilaksanakan di sana, dan ketika generasi mendatang menikmati manfaatnya, mereka akan mengenang bahwa bangunan itu tidak lahir dari kekuatan satu orang. Melainkan lahir dari gotong royong sebuah perguruan.

Maka menjelang Muktamar XVI di Semarang, ada satu pertanyaan yang layak diajukan kepada seluruh keluarga besar Tapak Suci. Setelah batu pertama diletakkan, sudahkah kita mengambil bagian untuk meletakkan batu-batu berikutnya?

Sebab sejarah tidak hanya ditulis oleh mereka yang bermimpi. Sejarah juga ditulis oleh mereka yang bersama-sama mewujudkan mimpi itu menjadi kenyataan.

Yudha Kurniawan, (Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY)

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Guru dan Pembelajaran Mendalam Oleh: Wiguna Yuniarsih, Wakil Kepala SMK Muhammadiyah 1 Ciputat Tang....

Suara Muhammadiyah

9 March 2025

Wawasan

Oleh: Izza RohmanKetua Pimpinan Ranting Istimewa Muhammadiyah New South Wales Selain mengusung kons....

Suara Muhammadiyah

4 January 2024

Wawasan

JSM, SUMU DAN PUPUKMU Khafid Sirotudin Ada pertanyaan menarik dari seorang peserta Rakorwil UMKM M....

Suara Muhammadiyah

3 February 2024

Wawasan

Islam dan Pancasila: Dua Jalan yang Bertemu dalam Cita Cita Kebangsaan Oleh: Suko Wahyudi. Pegiat L....

Suara Muhammadiyah

15 April 2026

Wawasan

Organisasi Masyarakat Islam dalam Pusaran Pilpres 2024 Oleh: Tri Laksono Setiap kali menjelang pe....

Suara Muhammadiyah

1 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah