NU, Kiper, dan Penjaga Marwah Jami'iyah

Suara Muhammadiyah

29 August 2026

70
Foto Istimewa

Foto Istimewa

NU, Kiper, dan Penjaga Marwah Jami'iyah

Oleh: Rumini Zulfikar, Pemerhati Masalah Sosial Kemasyarakatan, Tinggal di Klaten

"Ulama merupakan pewaris Nabi yang dikenal kedalaman ilmunya sebagai pelita kehidupan umat, bangsa, dan negara."

Organisasi Nahdlatul Ulama (NU) tahun ini mempunyai gawe besar, yaitu Muktamar ke-35 di Ponpes Bahrul Ulum Tambakberas pada tanggal 27–31 Agustus 2026. Organisasi yang didirikan oleh Hadratus Syaikh KH Hasyim As'ari, KH Chasbullah Wahab, KH Bisri Syansuri pada tanggal 16 Rajab 1344 H, bertepatan 31 Januari 1926.

Lahirnya Nahdlatul Ulama merupakan jawaban atas keprihatinan dan kepedulian kepada bangsa ini yang mana saat itu bangsa ini masih dijajah oleh kaum penjajah. Dari situlah dengan azam serta akan cinta pada tanah air, dengan semboyan Hubbul Wathan Minal Iman (Cinta negara bagian dari iman). Dari sebuah rangkaian yang panjang, diawali dari para ulama terlebih mendirikan Majelis Tashwirul Afkar (Majelis Diskusi Pemikiran), Nahdlatut Tujjar (Kebangkitan Para Saudagar), dan Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Negara), maka atas restu KH Cholil Bangkalan, KH Hasyim As'ari, KH Wahab Chasbullah, KH Bisri Syansuri, maka lahirlah NU dengan simbol jagad di tali melingkari jagad serta bintang yang berjumlah sembilan.

Bahwa fakta menyebutkan NU lahir sebelum Indonesia merdeka telah banyak memberikan kontribusinya kepada bangsa dan negara, lebih-lebih ketika KH Hasyim As'ari mengeluarkan Resolusi Jihad. Yang mana sebuah jawaban untuk memberikan fatwa akan pentingnya perang jihad melawan penjajah merupakan perang suci dan wajib bagi umat Islam.

Nahdlatul Ulama dari Masa ke Masa

Selama satu abad jejak sejarah akan eksistensi sebuah gerakan Islam yang menisbahkan dakwah, pendidikan, pembinaan umat yang menjadikan gerakan yang manhaj Ahlusunah wal Jamaah, yang mana mengikuti empat imam yaitu Imam Syafi'i, Imam Hambali, Imam Ahmad, Imam Hanafi. Merupakan kekuatan civil society yang terbesar yang mana beberapa survei jumlah anggotanya mencapai 150 juta.

Sebuah kekuatan yang besar yang mana pada saat itu terpusat di pedesaan yang dikenal tradisional. Dengan support dari pesantren itulah NU menjelma kekuatan yang diperhitungkan sejak NU berdiri, yang mana pada saat itu H. GIPO, seorang saudagar yang jujur, dipilih ketua Pengurus HB NU (PBNU) pertama dengan Rais Akbar KH Hasyim As'ari.

Dari kekuatan yang berakar kultur pedesaan yang notabene di pedesaan itulah NU memainkan peran di akar rumput yang mana masih dengan kultur yang harus pelan-pelan untuk memberikan pencerahan lewat cara pendekatan kultural. Itulah NU sangat dekat dengan masyarakat di grassroot.

Dan kalau kita melihat dan mengamati perjalanan NU ini sangat begitu menarik untuk ditelusuri, baik itu awal berdirinya sebagai kekuatan ulama yang menjadi salah satu pilar berdirinya bersama kekuatan yang lainnya (Muhammadiyah, SI, Persis, Budi Utama), mulai dari peran organisasi, tokoh-tokoh yang menjadi sentral dalam perspektif NU sebagai organisasi sosial kemasyarakatan, NU sebagai partai politik zaman Orde Lama, dan NU kembali pada khitahnya atau jalan sebagai gerakan dakwah.

Begitu banyak memainkan perannya baik di bidang politik, sosial, dan lain sebagainya dan itu bagian dari dinamika yang dinamis dalam setiap masa yang mana NU mengharuskan bersikap di setiap rezim berkuasa.

Dalam perjalanan di Orde Baru bahwa NU kala itu diperlakukan tidak baik oleh rezim saat berkuasa. Bahkan saat Muktamar NU di Cipasung, rezim ikut campur mencampuri urusan NU, yang mana NU diintervensi, diobok-obok oleh penguasa karena tidak ingin salah satu putra terbaik NU menjadi pucuk pimpinan NU.

Yaitu pada saat penguasa tidak menghendaki PBNU dipimpin oleh Abdurrahman Wahid (Gus Dur), maka dibuatlah tandingan dengan membuat tandingan yaitu Abu Hasan. Akan tetapi itu semuanya bisa dilaluinya, yaitu seluruh komponen mulai para kiai sepuh dan seluruh keluarga besar Nahdliyin bersatu dan menjaga marwah NU.

Bagi penulis, walaupun bukan seorang warga Nahdliyin, akan tetapi beberapa tahun yang sering berinteraksi dengan para pengurus, warga Nahdliyin di saat menjabat ketua PRM dan pasca tidak menjabat ketua PRM ikut prihatin. Apalagi beberapa tahun ini dengan menyaksikan ketika Muktamar ke-33 di Jombang dengan kegaduhan saat pemilihan AHWA dan pemilihan ketua yang mana menyita perhatian. Setelah Muktamar ke-34 di Lampung dengan aroma pemilihan Ketua PBNU yang diwarnai intrik-intrik yang begitu panas, permainan politik uang, dan saat ini juga yang terjadi sebuah pemandangan yang sangat memprihatinkan, yaitu adanya sebuah upaya campur tangan dari pihak-pihak di luar NU, serta dengan terjadinya transaksional berupa politik uang ikut serta dalam pemilihan AHWA dengan nominal yang fantastis.

Dan akhir-akhir ini kita merasakan keprihatinan yang mendalam dalam beberapa platform media dengan vulgar dikupas di media sosial. Kalau itu benar, maka sangat memprihatinkan.

Dan jika para pendiri (muassis) NU akan sangat menangis jika hal itu terjadi yang sudah keluar dari nilai-nilai luhur yang telah diwariskan oleh para pendiri NU. Sebagai keprihatinan itulah maka para kiai sepuh beberapa waktu berkumpul dan menyatakan pentingnya Muktamar NU agar berjalan dengan mengedepankan akhlakul karimah dan bermartabat dengan menjaga marwah (kehormatan) NU.

Bahkan KH Ma'ruf Amin dalam pernyataan mengajak bahwa berkhidmat di NU dengan: "Basyirah (mata hati) yang suci ikhlas bukan mencari bisyarah (imbalan)."

Oleh karena itulah para muktamirin yang mana dari PC, PW, dan PCI NU yang mempunyai mandat dan hak suara dan memilih ini menjadi pengingat. Karena saat ini jami'yah dan jamaah NU sedang diuji akan sebuah nama kebesaran NU itu sendiri yang mana terjadi kerikil-kerikil kecil yang tajam yang mana itu akan memengaruhi derap langkah sebuah organisasi Islam terbesar, dipertaruhkan atas ulah para oknum-oknumnya.

Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa itu terjadi? Untuk menjawab maka para pemangku NU dan warga NU-lah yang bisa menjawab, apakah sudah jauh dari nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para muassis (pendiri) NU atau sudah pudarnya atau malah hilangnya sebuah pesan dari KH Hasyim As'ari, nilai-nilai utama dalam Qanun Asasi NU.

Yang mana KH memberikan wejangan sangat jelas kepada para pimpinan dan warga NU itu sendiri. Yaitu ada 5 pokok dalam Qanun Asasi:

  1. Latar belakang berdirinya Jami'yah NU.
  2. Hakikat dan jati diri Jami'yah NU.
  3. Potensi umat yang diharapkan menjadi pendukung NU.
  4. Perlunya ulama bersatu: ijtima, saling ta'aruf, rukun, bersatu, ittihad, dan saling mengasihi, ta'aluf dalam satu wadah NU.
  5. Keharusan warga NU bertaklid pada salah satu imam mazhab yang 4: Hanafi, Maliki, Syafi'i, dan Hambali.

Oleh karena itulah bagi keluarga besar warga Nahdliyin mau tidak mau harus kembali akan sebuah cita-cita besar dari KH Hasyim As'ari yang tertuang dalam Qanun Asasi atau (Undang-Undang), sebuah landasan ideologi NU berdiri. Yaitu dengan demikian marwah NU terjaga.

NU MENCARI KIPER YANG TANGGUH

Muktamar NU yang akan berlangsung tanggal 27 Agustus sampai 31 Agustus 2026. Mengutip pernyataan Ketua Rais Syuriah PWNU Jateng KH Ubaidillah Shadaqah bahwa NU merupakan sebuah arena kalau dalam sepak bola sedang mencari KIPER yang menjaga gawang agar tidak kebobolan gol dari pemain lawan.

Maka diperlukan kiper atau penjaga gawang yang mumpuni, baik secara ilmu keilmuan keulamaan yang sudah tidak diragukan keilmuannya. Yaitu seorang figur yang tahu dan paham baik ilmu Al-Qur'an beserta tafsirnya serta ilmu hadis secara holistik.

Karena itu sangat diperlukan dalam mengawal dan merawat tradisi keulamaan yang telah diwariskan oleh para muassis (pendiri) NU. Banyak kader NU yang saat ini muncul sebagai calon Rais Syuriah maupun Ketua Umum PBNU.

Selain itu juga adanya keselarasan satu frekuensi dalam menghasilkan vibrasi (pantulan cahaya), memberikan pelita bagi NU, umat, bangsa, dan negara dengan akhlakul karimah.

Dari sekian calon para muktamirin sudah punya pilihan masing-masing dengan calon-calon tersebut. Sebut calon yang ikut meramaikan yaitu petahana KH Miftahul Achyar, KH Yahya Staquf, Gus Iful, KH Nazaruddin Umar, Gus Kikin, KH Marsudi Zuhud, KH Ubaidillah Shadaqah, KH Yusuf Chudhori, dan lain-lain.

Masing-masing mempunyai kapasitas, integritas, moralitas, serta mau dibawa ke mana NU di abad kedua ini. Dari semua calon tentunya sudah punya cara dan strategi untuk membawa bahtera kapal besar yang bernama NU berlayar di tengah samudra.

Menjaga Marwah, Memperkaya Khidmat, untuk Kemaslahatan Bangsa

Tema besar dalam Muktamar NU tahun ini sangat relevan sekali dalam rangka merawat akar sejarah NU yang mana dari pesantren. Selain itu merupakan ikhtiar bagi keluarga besar NU dalam menjalankan gerak dakwah yang pentingnya menjaga marwah NU itu sendiri.

Karena disadari atau tidak, bahwa saat ini menjadi pusat perhatian akan perjalanannya yang mana seiring dinamika yang terjadi, yang mana sedikit membawa nama besar NU ikut terkena dampak oleh segelintir oknum yang ingin merusak NU.

Karena di Muktamar inilah permusyawaratan tertinggi dalam rangka untuk menentukan arah dan perjalanan sebuah organisasi. Selain itu juga sebagai tempat laporan pertanggungjawaban serta tempat untuk mengevaluasi kepengurusan periode kemarin, membahas program-program strategis yang akan dibahas di Muktamar, dari urusan struktur organisasi, kebijakan NU serta laporan kepengurusan. Selain Muktamar merupakan media silaturahmi.

Kita berharap dan menaruh harapan pada alim ulama, zuama, kiai, ustaz yang terwadahi dalam Nahdlatul Ulama (NU) bahwa Muktamar merupakan ikhtiar dari para pemangku dan warga NU ingat akan pentingnya menjaga kehormatan atau marwah. Yang nilai-nilai ideologi dalam Qanun Asasi serta kaidah-kaidah dalam perkumpulan NU, baik itu dalam Anggaran Dasar maupun Anggaran Rumah Tangga perkumpulan.

Jika dalam derap langkah dalam menjalankan roda organisasi merujuk dalam Qanun Asasi serta keteladanan dari para tokoh-tokoh NU, maka NU akan menjadi sebuah organisasi yang berdaulat, mandiri, serta menjadi sebuah kekuatan civil society yang mempunyai peran sangat strategis. Baik di Indonesia maupun global lebih luas. Walaupun sekarang sudah menginternasional.

Karena umat, masyarakat, bangsa, dan negara ini masih membutuhkan pencerahan dari peran NU. Karena kita tahu bahwa NU merupakan kebangkitan ulama dan ulama sendiri pewaris Nabi. Dengan demikian maka sangat diperlukan peran-peran strategis dari NU di semua lini dengan tetap menjaga jati diri NU itu sendiri.

Jadi bagi warga atau pengurus jangan NU dijadikan sebagai batu loncatan untuk mengincar kedudukan duniawi. Atau jangan sampai mencari keuntungan/kehidupan di NU, tapi hidupilah NU, maka itu akan mendapatkan keberkahan.

Maka dengan demikian akan banyak atau akan menambah peran atau pengkhidmatan, baik di NU maupun di luar NU, akan terasa dirasakan langsung, walaupun saat ini banyak hal yang sudah dilakukan oleh NU.

Sehingga tatkala seluruh para kiai, pimpinan, kader, dan warga Nahdliyin berpedoman dan Qanun Asasi sebagai rujukan dalam menjalankan dakwahnya, maka banyak kemaslahatan atau kemanfaatan akan banyak dirasakan umat, masyarakat, bangsa, dan negara.

Karena bangsa Indonesia tidak bisa berjalan sendiri dalam mengatasi problematika kebangsaan dalam rangka keadilan, kemakmuran, dan kesejahteraan bangsa ini. Butuh dukungan dari kekuatan umat Islam seperti NU dan Muhammadiyah yang mempunyai jejak rekam dalam rangka sebagai mengatasi problem (problem solving) akan keumatan kebangsaan sudah tidak diragukan lagi.

Selamat Bermuktamar NU ke-35. Semoga menghasilkan keputusan yang membawa kemajuan NU serta keberkahan bagi umat, masyarakat, bangsa, dan negara.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Religiusitas yang Berbuah: Dari Ibadah Pribadi ke Kesalehan Sosial Oleh: Ahsan Jamet Hamidi –....

Suara Muhammadiyah

20 March 2026

Wawasan

Meningkatkan Kesejahteraan Bagi Bangsa Indonesia: Tantangan dan Harapan Oleh: Muhammad Himawan Suta....

Suara Muhammadiyah

8 July 2024

Wawasan

Ketika Asumsi Menggeser Fakta Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta Kita sedang berada dalam ....

Suara Muhammadiyah

5 August 2025

Wawasan

Peran Ibu dalam Menjaga Kesehatan Keluarga Oleh: Ns. Tri Wahyuni, M.Kep., Sp.Mat., Ph.D, Ketua Maje....

Suara Muhammadiyah

13 January 2025

Wawasan

Keteladanan RA Kartini Mendobrak Kejumudan Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM Troketon ....

Suara Muhammadiyah

22 April 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah