Pelatihan Guru Shadow, Upaya ULD InklusiMu Sidoarjo Menguatkan Masa Depan Pendidikan Inklusi

Suara Muhammadiyah

20 July 2026

108
Foto Istimewa

Foto Istimewa

SIDOARJO, Suara Muhammadiyah – Setiap anak memiliki irama belajarnya sendiri. Ada yang melangkah cepat, ada yang butuh waktu untuk berhenti sejenak, dan ada pula yang membutuhkan uluran tangan untuk sekadar memahami arah. Bagi anak-anak berkebutuhan khusus, "uluran tangan" itu bukanlah sebuah kemewahan, melainkan kebutuhan dasar agar mereka merasa diterima.

Di sinilah peran penting seorang Guru Shadow, sosok yang sering kali menjadi jembatan antara dunia si anak dan lingkungan belajarnya.

Semangat untuk melahirkan lebih banyak sosok pendamping inilah yang menyatukan puluhan pendidik di SD Muhammadiyah 2 Sidoarjo selama dua hari, Sabtu-Ahad (18-19/7). Melalui inisiatif Unit Layanan Disabilitas (ULD) "InklusiMu" Muhammadiyah Sidoarjo, 55 guru berkumpul, bukan sekadar untuk duduk mendengarkan teori, melainkan untuk belajar "melihat" dengan hati.

Harum Kawaludin, Kepala ULD InklusiMu mengatakan, Guru Shadow bukan sekadar profesi pendamping yang duduk di samping anak saat belajar. Lebih jauh dari itu, mereka adalah penerjemah potensi.

"Kami ingin guru mampu mengenali cara anak berpikir, meruntuhkan hambatan belajarnya, dan yang paling penting, meyakinkan anak bahwa mereka punya tempat untuk berhasil," tuturnya dengan penuh harapan.

Serupa itu, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sidoarjo Noerwachid Soeprijanto menyebut, inklusivitas bukan sekadar tentang fasilitas fisik, melainkan tentang kesiapan hati dan kompetensi guru yang memanusiakan anak didiknya.

Kepala SLBN Pandaan Iva Evry Robiyansah berbagi kisah dari lapangan. Beliau tidak bicara tentang angka atau kurikulum kaku, melainkan tentang nyawa dalam pendidikan. Cerita-cerita tentang anak yang semula "dipandang sebelah mata" namun perlahan mekar berkat pendampingan yang sabar, membuat suasana ruangan hening.

Para peserta pun pulang dengan perspektif baru. Hafizh, pendidik PKBM Pelita Aushaf Indonesia, merasa cara pandangnya berubah total tentang bagaimana menggali potensi anak inklusi. Sementara Nesia dari SD Kreatif Muhammadiyah 16 Surabaya dan Siti Komariah dari TK ABA 8 Candi berharap langkah kecil ini terus berlanjut, bahkan semakin dalam dengan kehadiran dukungan psikologis di masa depan. (AP)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Pada Selasa, 20 Mei 2025, Pimpinan Pusat Aisyiyah menandatangani no....

Suara Muhammadiyah

20 May 2025

Berita

Lulusan Semakin Percaya Diri dengan Sertifikat Berlogo Garuda Emas  YOGYAKARTA, Suara Muhammad....

Suara Muhammadiyah

30 September 2024

Berita

Jakarta, Suara Muhamadiyah — Pesantren Dea Malela menyelenggarakan kunjungan pendidikan kelima....

Suara Muhammadiyah

24 October 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah — Hizbul Wathan UMS kembali menghadirkan program sosial Ramadhan....

Suara Muhammadiyah

4 March 2026

Berita

Siap Bangkitkan Semangat Kreativitas BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Dekan Fakultas Sosial dan ....

Suara Muhammadiyah

8 January 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah