PURBALINGGA, Suara Muhammadiyah – Menjadi seorang pemimpin bukan soal jabatan yang mentereng, tetapi lebih dari itu, sebuah amanah yang harus ditunaikan sebagaimana semestinya. Di situlah, Abdul Mu’ti, memberikan penekanan penting.
Pertama, dalam sebuah hadis dikatakan, “Yassiru wala tu’assiru” yang berarti mempermudah dan jangan mempersulit. Apa implikasinya? Pemimpin harus hadir memberikan kemudahan bagi masyarakat, bukan membuat urusan menjadi semakin rumit.
“Jadi jangan pakai teori lama. Kalau bisa dipersulit kenapa dipermudah? Itu tidak boleh,” tegas Mu’ti.
Demikian Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu mengemukakan, Sabtu (27/6) saat Tabligh Akbar Semarak Tahun Baru Islam 1448 H di Lapangan Krida Utama, Desa Limbangan, Kecamatan Kutasari, Purbalingga, Jawa Tengah.
Kedua, “Basysyiru wala tunaffiru”, yakni memberikan kabar gembira dan jangan membuat orang menjauh. Di sinilah peran seorang pemimpin, bukan malah memberikan pernyataan yang membuat rakyatnya menjadi khawatir.
“Pemimpin itu harus mudah ditemui, mudah dijangkau. Kalau ada apa-apa jawab. Jangan semua serahkan pada ajudan,” tegasnya lagi, yang juga Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah.
Ketiga, “Watathawa’u wala takhtalifu”. Kata Mu’ti, seorang pemimpin harus bisa saling memberi contoh kepada rakyatnya bagaimana hidup saling menghormati.
“Jangan seringnya itu berselisih aja padu terus (jangan berantem terus). Ada persoalan mari kita bicarakan,” ujarnya.
Sebab, dikemukakan Mu’ti, bangsa Indonesia memiliki budaya luhur berupa kerukunan dan musyawarah yang amat melekat dalam denyut nadi aktivitas masyarakatnya.
Hal ini berkelindan dengan Qs Asy-Syura ayat 38 tentang pentingnya menyelesaikan persoalan melalui pembahasan bersama.
“Kalau ada apa-apa bicarakan baik-baik. Kalau ada apa-apa jangan suka berkeras hati. Mari kita selesaikan secara kekeluargaan dengan kepala dingin, bukan dengan kepalan tangan,” ajak Mu’ti.
Memasuki bulan Muharram, Mu’ti mengajak jamaah memperbanyak muhasabah atau introspeksi diri. “Manusia perlu melihat kekurangan dirinya sebelum menilai kesalahan orang lain,” tegasnya.
Sisi lain, Bupati Purbalingga, Fahmi Muhammad Hanif menyebut, Muhammadiyah memiliki kontribusi besar dalam pembangunan Kabupaten Purbalingga. Mulai dari bidang pendidikan dengan mendirikan sekolah hingga perguruan tinggi dan bidang kesehatan melalui klinik, dan Rumah Sakit PKU Muhammadiyah.
“Terima kasih kepada keluarga besar Muhammadiyah yang selama ini telah ikut membangun dan memberikan kontribusi nyata untuk kemajuan Purbalingga,” ungkapnya. (Cris)

