Pendidikan dan Pelatihan Kepribadian dan Tingkah Laku Terpuji  di dalam Ibadah Ramadhan

Publish

6 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
69
Foto Ilustrasi Freepik

Foto Ilustrasi Freepik

Pendidikan dan Pelatihan Kepribadian dan Tingkah Laku Terpuji  di dalam Ibadah Ramadhan

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Setiap muslim yang sedang beribadah Ramadhan sesungguhnya dididik dan dilatih memiliki kepribadian dan tingkah laku yang terpuji. Bagi warga Muhammadiyah, hal itu dapat diketahui di dalam butir (2) tuntunan Kehidupan Islami Warga Muhammadiyah dalam Ibadah, yaitu

“Setiap  warga  Muhammadiyah  melaksanakan  ibadah mahdah dengan sebaik-baiknya  dan menghidupsuburkan amal nawafil (ibadah sunnah) sesuai dengan tuntunan Rasulullah serta menghiasi diri dengan iman yang kokoh, ilmu yang luas, dan amal saleh yang tulus sehingga tecermin dalam kepribadian dan tingkah laku yang terpuji.”

Dari butir (2) itu kita ketahui bahwa muslim yang beribadah Ramadhan berarti harus (a) melaksanakan puasa sebagai salah satu ibadah mahdah dengan sebaik-baiknya, (b) menghidupsuburkan amal nawafil sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan (c) menghiasi diri dengan iman yang kokoh, ilmu yang luas, dan amal saleh yang tulus. Dengan mengamalkan semua itu, muslim yang beribadah Ramadhan mempunyai kepribadian dan tingkah laku yang terpuji.

Amalan Nawafil di dalam Ibadah Ramadhan

Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberikan tuntunan amalan yang dianjurkan agar dilakukan oleh setiap muslim (khususnya warga Muhammadiyah) yang berpuasa Ramadhan, antara lain, (1) memperbanyak sedekah, (2) melaksanakan qiyamu Ramadhan (tarawih), (3) memperbanyak tadarus Al-Qur’an, yang terdiri atas (a) tilawah lafdziyah  bagi muslim yang baru dapat membaca Al-Qur’an dan belum lancar dan (b) tadarus (tilawah hukmiyah) bagi muslim yang sudah dapat membaca, perlu adanya peningkatan dengan mempelajari dan memahami ayat atau surat yang dibaca, dan (4) melaksanakan iktikaf.

Amalan yang dianjurkan tersebut sungguh makin mengondisikan setiap muslim yang mengamalkannya dengan benar sangat terbuka kesempatannya mempunyai kepribadian dan tingkah laku yang terpuji. Memang pada akhirnya terwujud tidaknya kepemilikan kepribadian dan tingkah laku yang terpuji itu bergantung kepada kesungguhan setiap muslim dalam pengamalan ibadah Ramadhan.

Ada Percikan Noda

Taklim selama Ramadhan diselanggarakan di masjid dan musala tertentu dalam sehari sampai tiga kali, yaitu (1) menjelang berbuka puasa, (2) sebelum qiyamu Ramadhan, sebelum shalat witir, atau selepas qiyamu Ramadhan, dan (3) selepas shalat subuh. Materi taklim tidak terbatas hanya pada topik ibadah Ramadhan.

Pematerinya beragam. Ada kiai pengasuh pondok pesantren. Ada kiai tanpa pondok pesantren. Ada pula dosen, baik dari perguruan tinggi Islam maupun perguruan tinggi umum. Bahkan, ada juga dokter. Tidak tertinggal pula pejabat pemerintah, baik sipil, polri, maupun tentara.

Umumnya pemateri berusaha dengan sungguh-sungguh mencerdaskan, mencerahkan, dan memajukan umat Islam. Pemateri yang demikian biasanya tidak suka dengan “melucu”. Kalaupun sesekali bercanda, candaanya itu dikemas dengan bahasa dan gaya yang tetap sopan. Abdul Mu’ti, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah kiranya merupakan contoh ustaz yang demikian. Beliau dapat melucu seru, tetapi tidak saru.

Sementara itu, ada di antara pemateri yang kepribadian dan tingkah lakunya tidak demikian. Sudah beribadah Ramadhan berkali-kali, tetapi dia suka mengolok-olok atau meremehkan muslim yang berbeda pilihan pemahamannya.

Ada di antara pemateri yang mengatakan, misalnya,

(1) "Tarawih itu artinya banyak. Mana yang lebih banyak: 11 rakaat atau 23 rakaat? Anak SD pun pasti tahu: 23 lebih banyak daripada 11. Oleh karena itu, yang betul pastilah yang 23 rakaat.”

(2) "Golek ganjaran kok setengah. Sewelas rakaat malah ora ana separone telu likur rakaat.”

(Mencari pahala kok hanya setengah. Sebelas rakaat, bahkan, tidak ada separuhnya dari dua puluh tiga rakaat.)

(3) "Sahabat Umar tarawih 23 rakaat. Jadi, tarawih yang 11 rakaat adalah kw-kw.”

Mereka tidak pernah secara objektif mengatakan bahwa tarawih sebelas rakaat merujuk kepada HR al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah radiyallahu ‘anha dan hadis lainnya yang sahih. Di dalam HR al-Bukhari dan Muslim dinyatakan

عَنْ أَبِي سَلَمَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّهُ سَأَلَ عَائِشَةَ كَيْفَ كَانَتْ صَلاَةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي رَمَضَانَ قَالَتْ مَا كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلاَ فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي أَرْبَعًا فَلاَ تَسْأَلْ عَنْ حُسْنِهِنَّ وَطُولِهِنَّ ثُمَّ يُصَلِّي ثَلاَثاً … [رواه البخاري ومسلم] .

“Dari Abi Salamah Ibnu Abdir-Rahman (dilaporkan) bahwa ia bertanya kepada 'Aisyah tentang bagaimana shalat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada bulan Ramadhan. 'Aisyah menjawab, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah melakukan shalat sunnat (tathawwu‘) pada bulan Ramadhan dan bulan lainnya lebih dari sebelas rakaat. Beliau shalat empat rakaat dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian, beliau shalat lagi empat rakaat, dan jangan engkau tanya bagaimana indah dan panjangnya. Kemudian, beliau shalat lagi tiga rakaat … “

Ada juga di medsos "ustaz" yang, kepada muslim yang mengerjakan tarawih sebelas rakat, menyatakan,

“Akibat keliru memahami hadis ‘Aisyah, tarawih 11 rakaat.”

Pernyataan tersebut menimbulkan kesan bahwa dia yang paling tahu tentang hadis tersebut. Kalaupun dia mengikuti pendapat ulama yang mengatakan demikian, tidak lebih baikkah dia mengatakan misalnya,

“Ada saudara kita yang mengamalkan tarawih sebelas rakaat karena merujuk kepada HR al-Bukhari. Hadis ini sahih. Sahabat Umar bin Khattab sendiri pernah memerintah Ubay bin Ka’ab dan Tamim Ad Dari untuk mengimami orang-orang dengan sebelas rakat. Kita tidak boleh menafikannya. Menurut mereka, hadis tersebut lebih kuat daripada hadis yang lain. Kita hormati! Namun, kita mengamalkan tarawih 20 rakaat. Kita pun mempunyai rujukan. Pada masa Khalifah Umar bin Khattab pernah juga shalat tarawih dilaksanakan dua puluh rakaat. Kita merujuk kepada hadis, antara lain, HR Ali bin Al Ja’d, yakni

حدثنا علي أنا بن أبي ذئب عن يزيد بن خصيفة عن السائب بن يزيد قال : كانوا يقومون على عهد عمر في شهر رمضان بعشرين ركعة وإن كانوا ليقرءون بالمئين من القرآن

“Telah menceritakan kepada kami ‘Ali bahwa Ibnu Abi Dzi’b dari Yazid bin Khashifah dari as-Saib bin Yazid, ia berkata, “Mereka melaksanakan qiyam lail pada masa ‘Umar pada bulan Ramadhan sebanyak 20 raka’at. Ketika itu mereka membaca 200 ayat Al-Qur’an.”

Dengan cara demikian, taklim benar-benar dimanfaatkan untuk mencerdaskan, mencerahkan, dan memajukan umat Islam. Suasana taklim yang demikian mengondisikan muslim yang beribadah Ramadhan memiliki kepribadian dan tingkah laku yang terpuji. Ironis jika percikan noda ibadah Ramadhan jutru bersumber dari narasumber!

Para imam mazhab sungguh telah menjadi teladan dalam ber-ittiba’ pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang merasa paling benar. Semestinya, mereka kita jadikan rujukan dalam menyikapi perbedaan.

Berikut ini disajikan sebagian sikap para imam mazhab berkaitan dengan fatwanya masing-masing.

Imam Abu Hanifah:

إذا قلت قولا يخالف كتاب الله تعالى وخبر الرسول صلى الله عليه وسلم فاتركوا قولي

“Apabila aku berpendapat atau aku berfatwa yang menyalahi kitabullah ta’ala dan juga sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa aallam, tinggalkan perkataanku.”

Imam Malik bin Anas:

إنما أنا بشر أخطئ وأصيب فانظروا في رأيي فكل ما وافق الكتاب والسنة فخذوه وكل ما لم يوافق الكتاب والسنة فاتركوه

“Sesungguhnya, aku adalah manusia biasa, aku salah dan aku benar. Perhatikan dari fatwaku: yang sesuai dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah kalian ambil, dan setiap apa yang tidak sesuai dengan Al-Qur’an dan as-Sunnah, maka tinggalkan pendapatku.”

Imam Syafi’i:

إذا وجدتم في كتابي خلاف سنة رسول الله صلى الله عليه وسلم فقولوا بسنة رسول الله صلى الله عليه وسلم ودعوا ما قلت

“Apabila kalian mendapatkan dalam kitabku menyalahi sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, hendaklah kalian berkata, Ikutilah sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan tinggalkan fatwaku.'”

Imam Ahmad bin Hambal:

لا تقلدني ولا تقلد مالكا ولا الشافعي ولا الأوزاعي ولا الثوري وخذ من حيث أخذوا

“Jangan kalian taklid kepadaku, jangan taklid kepada Imam Malik, jangan taklid kepada Imam Syafi’i, jangan taklid kepada Imam al-‘Auza’i, jangan taklid kepada Imam Sufyan ats-Tsauri, dan ambillah dari mana mereka mengambil.”

Masyaallah!


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Catatan Perjalanan Pulang di Akhir Tahun Oleh; Ahsan Jamet Hamidi Menjelang akhir tahun 2025, saya....

Suara Muhammadiyah

31 December 2025

Wawasan

Tantangan Dakwah Muhammadiyah di Era Digital dan Bonus Demografi: Siap atau Ditinggal Generasi Muda?....

Suara Muhammadiyah

27 January 2026

Wawasan

Berhijrah dengan Introspeksi  Oleh: Mohammad Fakhrudin Bagi sebagian umat Islam  Indones....

Suara Muhammadiyah

6 July 2024

Wawasan

Islam dan Argumen Pernikahan Homoseksual Modern Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Uni....

Suara Muhammadiyah

12 February 2025

Wawasan

Spiritualitas Puncak Peradaban Manusia Pengalaman Ruhani Oleh: Muhammad Julijanto Menarik kajian y....

Suara Muhammadiyah

6 January 2026