Pendidikan Nonformal Muhammadiyah: Jalan Pencerahan, Pemberdayaan, dan Keberlanjutan Umat

Publish

17 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
101
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Pendidikan Nonformal Muhammadiyah: Jalan Pencerahan, Pemberdayaan, dan Keberlanjutan Umat

Oleh: M. Bakrun Dahlan, Wakil Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah

Sejak awal kelahirannya, Muhammadiyah tidak memaknai pendidikan secara sempit sebagai aktivitas persekolahan formal. Pendidikan bagi Muhammadiyah adalah ikhtiar dakwah dan tajdid untuk memerdekakan manusia dari kebodohan, kemiskinan, dan ketertinggalan. Karena itu, pendidikan nonformal bukan pelengkap, melainkan bagian inheren dari watak gerakan. Dalam konteks inilah, pendidikan nonformal Muhammadiyah termasuk Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), kursus, pelatihan, harus dipahami sebagai mandat ideologis Persyarikatan, bukan sekadar respons teknis terhadap kebijakan negara.

Arah ini ditegaskan secara konsisten dalam berbagai Keputusan Muktamar Muhammadiyah, yang menempatkan pendidikan sebagai sarana utama dakwah pencerahan dan pemajuan umat. Pendidikan Muhammadiyah diarahkan agar bersifat inklusif, berkeadilan, dan sepanjang hayat, serta menjangkau seluruh lapisan masyarakat, termasuk mereka yang tidak terlayani oleh sistem pendidikan formal. Spirit Muktamar menegaskan bahwa: pendidikan Muhammadiyah harus hadir di mana umat berada, menjawab kebutuhan riil masyarakat, dan menjadi instrumen transformasi sosial. Dengan demikian, pendidikan nonformal justru menjadi ruang strategis untuk menjalankan misi tersebut, karena fleksibel, kontekstual, dan membumi.

Landasan filosofis pendidikan nonformal Muhammadiyah berakar kuat pada pemikiran KH Ahmad Dahlan. Pendidikan tidak berhenti pada penguasaan ilmu, tetapi harus melahirkan kesadaran, akhlak, dan amal nyata. Pengajian yang beliau rintis bukan sekadar pengajaran teks, melainkan ruang dialog, pemecahan masalah umat, dan pembentukan etos berkemajuan. Dari sinilah pendidikan nonformal Muhammadiyah menemukan legitimasinya: belajar untuk mengubah hidup, berilmu untuk memajukan masyarakat, dan beragama untuk menghadirkan kemaslahatan.

Pendidikan nonformal Muhammadiyah memiliki makna strategis setidaknya pada empat aspek. Pertama, dakwah bil hal. Pendidikan nonformal adalah dakwah yang dirasakan langsung manfaatnya oleh umat.Kedua, keadilan sosial. Muhammadiyah memastikan bahwa hak belajar tidak hanya milik mereka yang beruntung secara ekonomi dan sosial.Ketiga, penguatan ketahanan umat. Melalui keterampilan, literasi, dan kewirausahaan, pendidikan nonformal Muhammadiyah berkontribusi pada ketahanan ekonomi dan sosial masyarakat. Keempat, kaderisasi kultural Persyarikatan. Pendidikan nonformal menjadi ruang internalisasi nilai-nilai Muhammadiyah di tingkat akar rumput.

Arah ke Depan: Dari Program ke Sistem Gerakan

Agar pendidikan nonformal Muhammadiyah benar-benar berdampak luas, diperlukan langkah strategis yang sejalan dengan mandat Muktamar:

  1. Reposisi pendidikan nonformal sebagai pilar strategis Persyarikatan, bukan program pinggiran.
  2. Penguatan tata kelola dan mutu PKBM Muhammadiyah, dengan tetap menjaga fleksibilitas lokal.
  3. Integrasi nilai AIK dan kecakapan hidup, agar lahir manusia beriman, terampil, dan mandiri.
  4. Sinergi lintas majelis dan amal usaha, sehingga pendidikan nonformal menjadi bagian dari ekosistem dakwah Muhammadiyah.
  5. Pemanfaatan teknologi dan kemitraan, untuk memperluas jangkauan dan dampak layanan.

Roadmap Pengembangan Pendidikan Nonformal Muhammadiyah

Agar pendidikan nonformal Muhammadiyah berkembang secara sistematis dan berkelanjutan, diperlukan peta jalan yang jelas.

Tahap 1: Konsolidasi dan Penataan (1–2 Tahun)

  • Pemetaan lembaga dan program pendidikan nonformal Muhammadiyah
  • Penguatan tata kelola dan legalitas
  • Penegasan identitas Islam berkemajuan

Tahap 2: Penguatan Mutu dan Relevansi (3–5 Tahun)

  • Pengembangan kurikulum modular dan fleksibel
  • Peningkatan kapasitas tutor dan pengelola
  • Integrasi dengan amal usaha Muhammadiyah lainnya

Tahap 3: Ekspansi dan Jejaring (5–7 Tahun)

  • Pengembangan program unggulan berbasis kebutuhan wilayah
  • Kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, dan komunitas
  • Digitalisasi layanan pendidikan nonformal

Tahap 4: Transformasi dan Keunggulan (8–10 Tahun)

  • Pendidikan nonformal Muhammadiyah sebagai rujukan nasional
  • Inovasi berkelanjutan dan perluasan dampak sosial
  • Kontribusi strategis pada pembangunan SDM Indonesia

Pendidikan nonformal Muhammadiyah adalah jalan sunyi yang menentukan masa depan umat. Ia tidak selalu tampak megah, tetapi bekerja di ruang-ruang kehidupan paling nyata. Dengan mandat Muktamar sebagai landasan ideologis dan PKBM sebagai bukti praksis, pendidikan nonformal Muhammadiyah layak terus diperkuat sebagai jalan pencerahan, pemajuan, dan pemerdekaan manusia. Di sanalah Muhammadiyah setia pada jati dirinya: gerakan Islam yang mencerahkan, membebaskan, dan memajukan kehidupan

 


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Suko Wahyudi Al-Qur'an adalah kitab suci kaum Muslimin dan menjadi sumber ajaran Islam yang p....

Suara Muhammadiyah

23 February 2024

Wawasan

Oleh Faozan Amar, Dosen FEB UHAMKA dan Direktur Eksekutif Al Wasath Institute Indonesia adalah nega....

Suara Muhammadiyah

29 January 2024

Wawasan

Kedamaian dan Kemanfaatan di dalam Ibadah Ramadhan Oleh: Mohammad Fakhrudin Semua ibadah yang dila....

Suara Muhammadiyah

5 February 2026

Wawasan

Oleh: Bahrus Surur-Iyunk Anggota LPCRPM PWM Jatim, alumni Pondok Modern Muhammadiyah Paciran Lamong....

Suara Muhammadiyah

13 March 2024

Wawasan

Muhammadiyah dalam Ekosistem Penanggulangan Bencana  Oleh: Randi Syafutra, Dosen Universitas M....

Suara Muhammadiyah

10 January 2026