Pengajian PP Muhammadiyah 1447 H: Meneguhkan Tauhid yang Menggerakkan

Publish

22 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
69
Foto Dok SM/Cris

Foto Dok SM/Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi menutup rangkaian Pengajian Ramadhan 1447 Hijriah yang menitikberatkan pada penguatan pondasi ideologis organisasi. Agenda ini menangkat tema "Akidah Islam Berkemajuan: Memperluas Paham Tauhid Murni Tinjauan Ideologis, Filosofis, dan Praksis", sebagai komitmen Muhammadiyah untuk mentransformasikan tauhid dari sekadar konsep teologis yang abstrak menjadi energi sosial yang fungsional dan transformatif bagi kemanusiaan.

Dalam Kuliah Akhir yang disampaikan di University Hotel Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahad (22/2), Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Dr Agung Danarto, MAg, membedah basis kalam Muhammadiyah yang tetap berpijak pada koridor Ahlussunnah wal Jamaah, namun dikembangkan secara dinamis. Dalam hal ketuhanan, Muhammadiyah bersikap konservatif dengan memegang prinsip bila kaifa (tanpa mempertanyakan bagaimana) dan wala tasbih (tidak menyerupai makhluk) dalam memahami sifat-sifat Allah.

Namun, keunikan akidah Muhammadiyah terletak pada optimalisasi potensi akal dan ikhtiar manusia. Agung menjelaskan bahwa sementara akal manusia terbatas dalam memahami hal ghaib, ia menjadi tidak terbatas ketika digunakan untuk memahami alam semesta dan hukum-hukum Allah di dalamnya.

"Muhammadiyah memahaminya bahwasanya secara hakiki apa yang dilakukan manusia itu adalah ciptaan Allah, tetapi manusia memiliki ikhtiar, kemampuan. Muhammadiyah mengoptimalkan usaha ikhtiar yang harus dilakukan oleh manusia," ujar Agung Danarto. Ia menambahkan bahwa konsep takdir bagi Muhammadiyah berfungsi sebagai "kanopi" spiritual untuk menjaga ketangguhan jiwa saat menghadapi kegagalan.

Substansi penting dari pengajian ini adalah pergeseran dari tauhid yang menempatkan Tuhan sebagai objek kajian semata, menuju "tauhid untuk manusia" sebagai dasar penggerak organisasi. Hal inilah yang melahirkan teologi fungsional, seperti Teologi Al-Maun, ekoteologi, dan sebagainya. Manifestasi dari tauhid ini adalah munculnya etos kejujuran dan integritas yang bersumber dari konsep ihsan—kesadaran bahwa Allah senantiasa hadir dan menyaksikan setiap perbuatan manusia.

Agung juga menekankan konsep Tasawuf Muhammadiyah yang aktif dan produktif. Alih-alih merujuk pada pola zuhud pasif, Muhammadiyah mengambil teladan dari sosok sahabat Nabi yang kaya dan dermawan, Abdurrahman bin Auf. "Tasawuf yang banyak dilakukan oleh orang Muhammadiyah adalah dia berusaha keras, bekerja maksimal tapi hidupnya sederhana tapi sedekahnya yang banyak," ungkapnya.

Model Insan Kamil dalam perspektif Muhammadiyah pun didefinisikan secara progresif, yakni pribadi yang mampu menyeimbangkan peran sebagai hamba Allah (hablum minallah) dan peran sebagai khalifah di bumi yang menebar rahmat bagi semesta (hablum minannas).

Di sisi lain, akidah berkemajuan ini melahirkan ukhuwah makhlukah (persaudaraan sesama makhluk) dan ukhuwah basyariah (persaudaraan kemanusiaan) yang melampaui sekat agama dan bangsa. Agung mengingatkan bahwa jati diri Muhammadiyah adalah bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah, dalam membangun negara.

Terkait sikap kritis, Muhammadiyah memilih jalan dakwah yang lemah lembut sesuai prinsip islah. "Kritik oke, tidak setuju oke, tetapi harus dilakukan dengan cara-cara yang baik," tegas Agung, merujuk pada etika menyampaikan pendapat di ruang publik agar tidak menjauhkan masyarakat dari dakwah Islam. Termasuk selalu menjunjung prinsip Kepribadian Muhammadiyah.

Rektor UMY, Prof. Dr. Achmad Nurmandi, M.Sc., memberikan catatan menyentuh mengenai implementasi nyata dari ajaran tauhid ini di lingkungan kampus. Ia menceritakan kisah sebuah keluarga yang dengan ikhlas mewakafkan jasad anggota keluarganya yang baru meninggal untuk kepentingan praktik mahasiswa kedokteran demi kemajuan ilmu pengetahuan.

"Keluarga itu yang ikhlas menyerahkan tubuh bapaknya. Itulah manifestasi tauhid. Mudah-mudahan jadi pelajaran bagi kita," tutur Prof Nurmandi.

Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) PP Muhammadiyah, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, MPA, menutup dengan menyatakan bahwa seluruh ide dan gagasan strategis selama tiga hari ini telah didokumentasikan menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) dan pencatatan manual. Dokumentasi tersebut akan dikelola dalam sistem manajemen pengetahuan organisasi untuk didiseminasikan secara luas kepada seluruh kader Muhammadiyah di tingkat daerah hingga mancanegara.

Turut Hadir Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Haedar Nashir, MSi dan jajaran PP Muhammadiyah, Ketua Umum PP Aisyiyah Dr Salmah Orbayinah beserta jajaran PP Aisyiyah, Perwakilan PWM, MPKSDI, Pimpinan PTMA, RSMA, Ortom, dan tamu undangan lainnya.(Riz)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

CILACAO, Suara Muhammadiyah - Dalam rangka memperkuat hubungan antarlembaga pendidikan dan memberika....

Suara Muhammadiyah

2 February 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Salmah Orbayinah me....

Suara Muhammadiyah

22 December 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Dalam momen Kebangkitan Nasional, Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah....

Suara Muhammadiyah

21 May 2025

Berita

PURWOKERTO, Suara Muhammadiyah - Ma’had Al Imam Malik Universitas Muhammadiyah Purwokerto....

Suara Muhammadiyah

12 September 2023

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Penguatan Ideologi dan Kepemimpinan Muhammadiyah Membentuk Kader Islam....

Suara Muhammadiyah

26 September 2024