Pengalaman Aduhai di Shanghai: Kota Modern yang Berkemajuan
Oleh: Yanur Setyaningrum, M.Pd, Kepala SMP Muhammadiyah 1 Malang
Perjalanan ke Shanghai pada 7–16 Mei 2026 menjadi salah satu pengalaman yang sangat berkesan bagi saya. Sebagai seorang guru sekaligus Kepala SMP Muhammadiyah 1 Malang, kunjungan ini bukan sekadar perjalanan melihat negeri orang, melainkan juga perjalanan belajar. Banyak hal yang saya lihat, rasakan, dan renungkan selama berada di salah satu kota terbesar di China tersebut.
Perjalanan pulang-pergi kami menggunakan China Southern Airlines dengan transit di Guangzhou. Sejak awal perjalanan, suasana “internasional” sudah mulai terasa. Transit di Guangzhou memberikan gambaran awal tentang bagaimana China mengelola mobilitas manusia dalam skala besar: bandara luas, alur perjalanan rapi, petunjuk jelas, dan pelayanan yang cukup teratur. Namun, tentu saja puncak pengalaman itu baru benar-benar terasa ketika kaki ini menjejak Shanghai.
Shanghai bagi saya bukan sekadar kota besar. Ia seperti etalase masa depan yang berjalan cepat, tertata, bersih, dan penuh energi. Kota ini menunjukkan bagaimana modernitas dapat dibangun secara serius, tanpa harus kehilangan kenyamanan dan keindahan ruang hidup manusia.
Hal pertama yang langsung mencuri perhatian saya adalah kebersihan kotanya. Di banyak sudut Shanghai, jalanan tampak bersih, trotoar rapi, taman terawat, dan hampir tidak terlihat sampah berserakan. Bahkan, dalam hati saya sempat bertanya, “Ini tempat sampahnya di mana, kok tidak ada sampah?”
Pertanyaan sederhana itu justru menjadi bahan renungan. Ternyata kebersihan kota tidak cukup hanya mengandalkan banyaknya tempat sampah. Lebih dari itu, kebersihan lahir dari sistem yang baik, pengawasan yang konsisten, petugas yang bekerja sigap, dan masyarakat yang memiliki budaya tertib. Di Shanghai, kebersihan bukan hanya slogan, tetapi benar-benar tampak dalam kehidupan sehari-hari.
Shanghai yang Futuristik, tetapi Tetap Hijau
Sebagai orang Indonesia, saya merasa kagum sekaligus tertantang. Kalau kota sebesar Shanghai saja bisa bersih dan tertata, tentu kita juga bisa belajar banyak. Kebersihan bukan semata urusan pemerintah, tetapi juga urusan kesadaran bersama.
Pengalaman lain yang sangat mengesankan adalah transportasi publiknya. Metro Shanghai atau kereta bawah tanahnya benar-benar nyaman digunakan. Cepat, bersih, teratur, dan menjangkau banyak titik penting di kota. Bagi pendatang seperti saya, awalnya tentu perlu membaca peta, memahami jalur, dan menyesuaikan diri dengan sistem tiket atau pembayaran. Namun setelah beberapa kali mencoba, ternyata sistemnya cukup mudah dipahami.
Di luar stasiun, banyak dijumpai sepeda listrik dan sepeda kayuh yang digunakan masyarakat untuk perjalanan jarak dekat. Jalan raya juga terasa lebih tenang karena banyak kendaraan listrik. Udara kota tidak terasa seberat bayangan saya tentang kota metropolitan yang penuh asap dan kemacetan. Shanghai menunjukkan bahwa kota besar tidak harus identik dengan polusi yang menyesakkan.
Hal menarik lainnya adalah kedisiplinan pengguna jalan. Pengendara tampak menghormati pejalan kaki, sementara pejalan kaki juga tertib menyeberang di zebra cross dan mematuhi lampu lalu lintas. Dari hal sederhana ini, saya belajar bahwa kota yang nyaman tidak hanya dibangun oleh teknologi canggih, tetapi juga oleh budaya tertib masyarakatnya.
Shanghai memang terkenal dengan gedung-gedung tingginya. Bangunan menjulang, lampu kota yang menyala indah pada malam hari, serta kawasan modern yang tertata rapi membuat kota ini terasa sangat futuristik. Namun yang menarik, Shanghai tidak terasa kering. Di tengah gedung-gedung tinggi, masih ada taman, pepohonan, jalur pedestrian, dan ruang terbuka yang memberi napas bagi warganya.
Pada malam hari, suasana kota menjadi semakin menawan. Lampu-lampu gedung memantul di permukaan sungai, orang-orang berjalan santai, dan suasana terasa hidup. Shanghai benar-benar pandai memadukan kemajuan teknologi, estetika kota, dan kenyamanan ruang publik.
Bagi saya, ini menjadi pelajaran penting. Kemajuan kota bukan hanya tentang seberapa tinggi gedungnya, tetapi juga seberapa nyaman manusia hidup di dalamnya. Kota modern seharusnya tidak hanya megah, tetapi juga ramah, hijau, dan manusiawi.
Berburu Kuliner Halal - Mencari Masjid
Pengalaman kuliner di Shanghai juga tidak kalah berkesan. Bagi seorang Muslim, mencari makanan halal di China tentu memerlukan perhatian ekstra. Tidak semua makanan yang tampak menarik di pinggir jalan bisa langsung dinikmati. Banyak street food yang menggoda, tetapi belum tentu halal. Karena itu, kami harus lebih hati-hati, bertanya, mencari informasi, dan kadang berjalan cukup jauh untuk menemukan restoran halal.
Namun justru di situlah letak ceritanya. Ketika akhirnya menemukan rumah makan halal, rasanya seperti menemukan oase di tengah perjalanan. Menu seperti mie Lanzhou, nasi goreng, telur tomat, dan beberapa hidangan sederhana lainnya terasa sangat nikmat. Bukan hanya karena rasanya, tetapi karena ada rasa aman dan tenang saat menyantapnya.
Tulisan 清真 atau qīng zhēn—yang kurang lebih dibaca “cing cen”—menjadi tanda penting bagi kami. Biasanya tulisan ini menunjukkan makanan halal atau restoran Muslim. Begitu melihat tulisan itu, hati langsung terasa lebih lega. Pengalaman ini membuat saya semakin menyadari bahwa nikmat makan halal yang begitu mudah kita temukan di Indonesia adalah anugerah besar yang kadang kurang kita syukuri.
Salah satu pengalaman paling menyentuh selama di Shanghai adalah ketika mencari masjid. Di Indonesia, masjid begitu mudah ditemukan. Hampir di setiap kampung, jalan besar, sekolah, kantor, bahkan pusat perbelanjaan, kita bisa menemukan tempat salat. Namun di Shanghai, kondisinya berbeda.
Kami harus menempuh perjalanan cukup panjang. Naik metro beberapa kali, melewati banyak stasiun, berjalan lagi, dan memastikan lokasi dengan teliti. Namun justru karena perjuangan itu, ketika akhirnya sampai di masjid, rasanya sangat haru. Masjid terasa seperti tempat pulang. Ada ketenangan yang sulit dijelaskan ketika bisa berwudhu, salat, dan beristirahat sejenak dari hiruk-pikuk kota besar.
Ada hal unik yang juga saya temui. Adzan di masjid tidak dikumandangkan menggunakan pengeras suara seperti di Indonesia. Pengalaman ini membuat saya semakin bersyukur. Di tanah air, kita begitu dimudahkan untuk mendengar adzan, menemukan masjid, dan menjalankan ibadah secara terbuka. Shanghai mengajarkan saya bahwa nikmat beragama dan kemudahan beribadah adalah sesuatu yang sangat berharga.
Melihat Pendidikan China: Terstruktur dan Berorientasi Masa Depan
Sebagai guru dan kepala sekolah, tentu saya tidak bisa melepaskan pandangan dari dunia pendidikan. China memberikan kesan kuat sebagai negara yang sangat serius membangun sumber daya manusia. Pendidikan di China merupakan salah satu sistem pendidikan terbesar dan paling terstruktur di dunia. Hal ini mencerminkan komitmen negara tersebut dalam menyiapkan generasi yang unggul, disiplin, kompetitif, dan siap menghadapi tantangan global.
Beberapa sekolah yang kami lihat tampak megah, bersih, tertata, dan memiliki fasilitas yang sangat baik. Dari percakapan dengan beberapa siswa yang kami temui dalam salah satu kegiatan outing class, kami memperoleh gambaran bahwa jam belajar siswa di China cukup panjang, hampir sama dengan Indonesia, bahkan dalam beberapa hal terasa lebih intensif.
Kurikulum pendidikan di China tampak sangat berorientasi pada mata pelajaran yang mendukung kemajuan sains, teknologi, teknik, dan matematika atau STEM. Selain itu, pendidikan moral juga menjadi bagian penting dalam pembentukan karakter siswa. Ini menarik, karena kemajuan teknologi ternyata tetap disandingkan dengan pembentukan kedisiplinan, kerja keras, dan tanggung jawab sosial.
Sistem penilaian di China juga sangat kuat berbasis ujian, terutama ujian nasional yang menjadi pintu penting untuk masuk universitas. Dari sini terlihat bahwa pendidikan di China dibangun dengan sistem yang ketat, terukur, dan berorientasi pada prestasi. Tentu setiap sistem pendidikan memiliki kelebihan dan tantangannya sendiri. Namun yang jelas, China menunjukkan bahwa kemajuan bangsa sangat berkaitan dengan keseriusan mengelola pendidikan.
Kami memang belum dapat melakukan kunjungan resmi atau penjajakan kerja sama seperti MoU dengan sekolah di China, karena proses tersebut harus melalui prosedur resmi, termasuk koordinasi dengan Konsulat Jenderal. Meski demikian, dari pengamatan singkat saja, sudah tampak bahwa pendidikan menjadi salah satu fondasi penting kemajuan China.
Hal lain yang menarik perhatian saya adalah pola tempat tinggal masyarakat. Di Shanghai, banyak penduduk tinggal di apartemen atau rumah susun. Ini sangat berbeda dengan sebagian masyarakat Indonesia yang masih terbiasa tinggal di rumah tapak dengan halaman, garasi, atau ruang terbuka pribadi.
Di kota besar seperti Shanghai, lahan sangat terbatas dan harga properti sangat tinggi. Karena itu, kehidupan vertikal menjadi pilihan yang wajar. Apartemen bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga simbol efisiensi ruang. Kota sebesar Shanghai harus dikelola dengan perencanaan yang cermat agar jutaan manusia dapat tinggal, bekerja, belajar, dan bergerak secara tertib.
Dari sini saya belajar bahwa perkembangan kota menuntut cara hidup baru. Semakin besar sebuah kota, semakin penting tata ruang, transportasi publik, dan kesadaran masyarakat untuk hidup efisien.
Pada akhirnya, perjalanan ke Shanghai bukan hanya tentang melihat gedung tinggi, naik metro, mencicipi mie Lanzhou, atau berjalan di tengah kota yang gemerlap. Lebih dari itu, perjalanan ini memberi banyak pelajaran tentang kebersihan, kedisiplinan, kemajuan teknologi, transportasi publik, tata kota, pendidikan, serta pentingnya ruang hijau yang manusiawi.
Shanghai adalah kota yang aduhai: modern, bersih, maju, indah, dan penuh kejutan. Ia membuat saya kagum, tetapi juga mengajak saya merenung. Kemajuan sebuah kota ternyata tidak hanya ditentukan oleh gedung pencakar langit atau teknologi canggih. Kemajuan juga dibangun oleh budaya tertib, kepedulian, disiplin, kerja keras, dan tanggung jawab bersama.
Dari Shanghai, saya pulang membawa cerita. Bukan hanya cerita perjalanan, tetapi juga bekal pemikiran. Sebagai pendidik, saya semakin yakin bahwa sekolah memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai kedisiplinan, kebersihan, tanggung jawab, dan semangat berkemajuan. Sebab kota yang maju selalu berawal dari manusia-manusia yang terdidik.

