YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Penghargaan kartu wartawan utama dan khusus yang diterima Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof Haedar Nashir dinilai menjadi momentum penting bagi perkembangan tradisi pers di lingkungan Muhammadiyah. Penghargaan tersebut tidak sekadar menjadi simbol, tetapi diharapkan menjadi rekam jejak yang menunjukkan integritas dan komitmen dalam dunia jurnalistik.
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PP Muhammadiyah, Muchlas MT, menyampaikan bahwa penghargaan tersebut memiliki arti penting bagi pers Muhammadiyah. Menurutnya, proses untuk memperoleh kartu wartawan utama dan khusus bukanlah sesuatu yang mudah.
“Sebagai Ketua MPI, saya melihat penghargaan ini sangat penting bagi pers Muhammadiyah. Kartu ini bukan sesuatu yang diperoleh dengan mudah. Prosesnya berlangsung lebih dari dua tahun,” ujar Muchlas dalam testimoninya.
Ia menegaskan, proses panjang tersebut menjadi bagian yang membanggakan bagi warga pers Muhammadiyah. Kartu wartawan utama dan khusus yang diperoleh Prof Haedar Nashir sekaligus menunjukkan adanya rekam jejak panjang yang dibangun melalui dunia jurnalistik.
“Kami menjadi bangga menjadi bagian dari proses ini,” imbuhnya.
Namun, Muchlas berharap penghargaan tersebut tidak berhenti sebagai pencapaian simbolis. Lebih dari itu, kartu wartawan tersebut harus menjadi bagian dari perjalanan panjang yang merepresentasikan integritas dalam menjalankan profesi jurnalistik.
“Selanjutnya kami berharap, ini bukan hanya sekadar simbolis, tapi menjadi rekam jejak yang penuh integritas,” tegasnya.
Tradisi Pers yang Mengakar
Muchlas juga mengingatkan bahwa tradisi pers sejatinya bukan sesuatu yang asing bagi Muhammadiyah. Sejak awal perkembangannya, Muhammadiyah telah menjadikan media dan jurnalistik sebagai salah satu instrumen penting dalam menyebarluaskan gagasan, dakwah, dan pencerahan kepada masyarakat.
Karena itu, penghargaan yang diterima Prof Haedar Nashir juga memiliki makna lebih luas bagi keberlanjutan tradisi jurnalistik Muhammadiyah.
Lanjut Rektor UAD tersebut, perjalanan Prof Haedar Nashir dapat menjadi pelajaran penting bagi setiap generasi. Kepemimpinan, tradisi akademik, dan jurnalistik dapat tumbuh secara bersamaan dan saling menguatkan.
“Tradisi kepemimpinan, akademik, dan jurnalistik dapat tumbuh dalam satu tarikan napas, khususnya dalam diri Prof Haedar Nashir,” tuturnya.
Menurut Muchlas, hal tersebut menunjukkan bahwa dunia akademik dan jurnalistik tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Keduanya dapat menjadi ruang untuk membangun gagasan, menyampaikan pengetahuan, sekaligus merawat nilai-nilai persyarikatan.
Muchlas berharap kebanggaan atas pencapaian Prof Haedar Nashir tidak berhenti pada sosoknya. Penghargaan tersebut harus menjadi inspirasi sekaligus amanah yang diteruskan kepada generasi muda Muhammadiyah.
“Sebagai warga Muhammadiyah, saya berharap kebanggaan ini tidak berhenti pada Prof Haedar Nashir. Tapi juga merupakan amanah bagi generasi muda,” pungkasnya.
Bagi Muhammadiyah, capaian tersebut dengan demikian bukan hanya tentang sebuah kartu atau penghargaan. Lebih jauh, ia menjadi penanda penting bahwa tradisi jurnalistik, kepemimpinan, dan intelektualitas dapat berjalan beriringan, serta diwariskan kepada generasi berikutnya. (diko)

