SINJAI, Suara Muhammadiyah – Titik mula sejarah peradaban manusia dibangun oleh orang-orang pilihan. Peradaban Yunani, misalnya, Sokrates, Plato, dan Aristoteles, kata Haedar Nashir, merupakan orang-orang dibalik berkembangnya tradisi pemikiran dan ilmu pengetahuan.
“Yang sampai saat ini sering kita ingat dan rujuk namanya,” sambung Haedar, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Disebut selain itu, ada Alexander Agung. Yakni pemimpin Makedonia yang menyatukan Yunani dan menaklukan Kekaisaran Persia. Demikian juga para Nabi dan Rasul, “yang membangun peradaban profetik,” katanya.
Menggarisbawahi peradaban profetik, jelas Haedar sebagai peradaban yang bukan semata-mata duniawi, tetapi juga samawi dan ukhrawi.
“Itu semua dibangun di atas insan-insan yang istimewa,” tuturnya, Jumat (25/9) saat Kuliah Umum di Ruang Auditorium Universitas Islam Ahmad Dahlan Sinjai, Sultan Hasanuddin, Balangnipa, Sinjai Utara, Sinjai, Sulawesi Selatan.
Haedar memaparkan, dalam sejarah peradaban Islam, tidak dapat dinafikan proses sejarahnya pun, disokong oleh orang-orang istimewa. Sosok-sosoknya antara lain Imam Hanafi, Imam Maliki, Imam Syafi'i dan Imam Ahmad.
“Yang membangun fikih sebagai bangunan dasar Dirasah Islamiyah (islamic studies),” imbuhnya.
Termasuk, dalam sejarah Tafsir; at-Thabari, Ibnu Katsir. Juga, tokoh-tokoh ilmuwan al-khawarizmi (Matematikawan), Ibnu Sina (Ilmuwan dan Bapak Kedokteran Dunia), Ibu Rusyd (Filsuf dan ahli hukum berpengaruh), Ibnu Khaldun (Filsuf dan sosiolog).
“Mereka adalah pengisi peradaban Islam yang jaya,” ujar Pemimpin Redaksi Suara Muhammadiyah tersebut.
Peradaban Islam lahir sebagai the golden age of muslim histroy. Peradaban tersebut bertahan 500 sampai 800 tahun, terhitung mulai abad ke-3 hijriah.
Setelah itu, dunia barat menunjukkan geliatnya dalam membangun peradaban modern baru. Di dalmnya juga berisi ilmuwan dan para tokoh besar; Auguste Comte (Bapak Sosiologi Dunia), Immanuel Kant (Filsuf), George Wilhelm Friedrich Hegel (Filsuf), Max Weber (Ekonom), dan lain sebagainya.
“Kesimpulannya adalah peradaban itu dibangun selain oleh sebuah sistem yang dibangun dalam tahap demi tahap, tetapi juga oleh orang-orang istimewa,” beber Haedar. (Cris)

