YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Lazismu Mantrijeron kembali memperkuat komitmennya dalam mendorong kemandirian ekonomi umat melalui program UMKM Berdaya Jogja (BEJO) Batch 4 Tahun 2026. Tahapan seleksi pitching peserta digelar di Sapa Seduh Cafe, Kota Yogyakarta, pada Sabtu (19/9/2026).
Program UMKM BEJO ini merupakan bentuk sinergi dan kolaborasi strategis antara Majelis Ekonomi dan Pariwisata (MEP) PCM Mantrijeron bersama Lazismu Mantrijeron. Sebanyak 15 pelaku UMKM dari berbagai sektor usaha mengikuti proses seleksi. Seleksi ini menjadi bagian penting dalam rangkaian Program UMKM BEJO Batch 4. Para peserta berasal dari beragam bidang, mulai dari kuliner olahan, fashion, jasa digital, hingga otomotif.
Dalam tahap pitching, masing-masing peserta mempresentasikan profil usaha, potensi pengembangan bisnis, tantangan yang dihadapi, serta rencana pengembangan usahanya di hadapan tim seleksi. Dari 15 peserta tersebut, akan dipilih 10 peserta terbaik untuk mengikuti tahapan pendampingan dan pengembangan usaha secara lebih intensif.
Dorong Pelaku Usaha Lokal Naik Kelas
Perwakilan MEP PCM Mantrijeron, Havri Ahsanul Fuad, menyampaikan bahwa proses seleksi ini menjadi salah satu upaya untuk menemukan dan mengembangkan potensi usaha masyarakat agar mampu tumbuh secara berkelanjutan.
"Alhamdulillah, seleksi UMKM Berdaya Jogja 2026 berjalan lancar. Melalui program ini, harapannya kita bisa memberdayakan UMKM di wilayah Mantrijeron dan sekitarnya, khususnya di Kota Yogyakarta, agar usahanya lebih maju, berkembang, dan naik kelas,” ungkap Havri Ahsanul Fuad (Majelis Ekonomi dan Pariwisata PCM Mantrijeron).
Menurutnya, pemberdayaan UMKM tidak hanya membutuhkan dukungan modal. Tetapi juga perlu diikuti dengan penguatan kapasitas, pendampingan, serta jejaring yang dapat membantu pelaku usaha menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan bisnis.
Sementara itu, Kepala Kantor Lazismu Mantrijeron, Suhaibun Febrianto, S.E., menegaskan bahwa pendayagunaan dana zakat, infak, dan sedekah (ZIS) perlu diarahkan pada program-program produktif yang mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi penerima manfaat.
"Program BEJO Batch 4 ini dirancang tidak hanya sekadar menyalurkan bantuan dana, tetapi juga dibersamai dengan kurasi serta pendampingan bisnis yang terarah. Dampak yang kita harapkan bukan hanya pertumbuhan usaha peserta, melainkan juga terciptanya lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar,” tegas Suhaibun Febrianto, S.E. (Kepala Kantor Lazismu Mantrijeron).
Setelah proses seleksi, peserta yang terpilih akan mendapatkan pendampingan bisnis, pelatihan, coaching. Tak hanya itu, monitoring dan evaluasi juga akan dilakukan untuk membantu meningkatkan kapasitas dan keberlanjutan usaha. Pendampingan tersebut diharapkan dapat membantu peserta dalam memperkuat pengelolaan usaha, pemasaran, pengembangan produk, hingga perencanaan bisnis.
Program UMKM BEJO merupakan salah satu bentuk pendayagunaan ZIS secara produktif yang dikembangkan Lazismu Mantrijeron bersama MEP PCM Mantrijeron. Melalui pendekatan pemberdayaan, program ini tidak hanya berorientasi pada pemberian bantuan. Tetapi juga mendorong penerima manfaat agar mampu mengembangkan usaha secara mandiri.
Sinergi antara MEP PCM Mantrijeron dan Lazismu Mantrijeron diharapkan dapat terus memperkuat ekosistem UMKM di wilayah Mantrijeron dan sekitarnya. Ke depan, program ini diharapkan mampu melahirkan pelaku usaha yang semakin mandiri, adaptif, berdaya saing, serta mampu memberikan dampak ekonomi bagi lingkungan sekitarnya.
Lazismu Mantrijeron menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh muzaki, donatur, dan pihak yang telah mendukung program pemberdayaan ini. Kepercayaan dalam menyalurkan zakat, infak, dan sedekah menjadi bagian penting dalam menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Melalui UMKM BEJO, zakat infak sedekah tidak hanya disalurkan. ZIS diupayakan untuk tumbuh menjadi daya penggerak ekonomi umat—membantu usaha berkembang, membuka peluang, dan menghadirkan kemandirian bagi penerima manfaat. (Nur’aini Puji L)

