Prodi Sepi: Saatnya Dakwah Ditata Ulang di Momentum Hardiknas

Publish

1 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
65
Penulis

Penulis

Prodi Sepi, Dakwah yang Perlu Ditata Ulang di Momentum Hari Pendidikan Nasional

Oleh: Agus Subeno, Ketua PCM Duren Sawit II, Jakarta Timur

Wacana penataan program studi yang disampaikan Badri Munir Sukoco menemukan momentumnya ketika kita memasuki Hari Pendidikan Nasional. Peringatan yang setiap tahun dirayakan pada 2 Mei ini bukan sekadar mengenang jasa Ki Hajar Dewantara, melainkan ruang refleksi untuk menilai kembali arah dan relevansi pendidikan di tengah perubahan zaman yang kian cepat.

Dalam konteks itu, Muhammadiyah sebagai salah satu pengelola perguruan tinggi terbesar di Indonesia melalui jaringan Perguruan Tinggi Muhammadiyah–‘Aisyiyah (PTMA), berada pada posisi strategis sekaligus krusial. Di balik jumlah institusi yang besar, tersimpan realitas yang tidak selalu nyaman: ketimpangan tajam antarprogram studi. Sebagian prodi, khususnya di bidang kesehatan, terus dibanjiri peminat. Namun tidak sedikit yang berjalan dengan jumlah mahasiswa sangat minim, bahkan nyaris tanpa pendaftar baru.

Fenomena “prodi sepi” sejatinya adalah cermin perubahan orientasi generasi muda. Pilihan pendidikan kini semakin rasional—ditimbang dari biaya, prospek kerja, dan relevansi dengan perkembangan zaman. Dunia telah bergerak ke arah digitalisasi, otomasi, dan ekonomi berbasis pengetahuan. Dalam lanskap seperti ini, program studi yang tidak mampu beradaptasi akan ditinggalkan secara alamiah.

Di sinilah semangat Hari Pendidikan Nasional menemukan maknanya. Pendidikan, sebagaimana digagas Ki Hajar Dewantara, harus berpijak pada realitas dan kebutuhan masyarakat. Ia tidak boleh berhenti pada pelestarian bentuk, tetapi harus menghadirkan kebermanfaatan. Pendidikan yang tercerabut dari konteks zamannya berisiko kehilangan daya transformasinya.

Di lingkungan PTMA, sebagian program studi—terutama di bidang pendidikan tertentu, keagamaan spesifik, dan ilmu sosial klasik—kerap dipertahankan atas nama misi dakwah. Namun di tengah perubahan cepat, pendekatan semacam ini perlu ditinjau ulang. Mempertahankan prodi tanpa peminat, tanpa relevansi, dan tanpa dampak nyata, justru berpotensi melemahkan dakwah itu sendiri.

Dakwah tidak semata soal mempertahankan struktur, tetapi memastikan manfaat. Ketika sebuah prodi tidak lagi diminati, tidak menghasilkan lulusan yang terserap di masyarakat, dan menjadi beban finansial institusi, maka yang terjadi bukan penguatan dakwah, melainkan stagnasi. Dalam perspektif amal usaha, ini juga mencerminkan inefisiensi yang tidak dapat dibiarkan berlarut.

Tekanan eksternal semakin mempertegas urgensi perubahan. Perguruan tinggi negeri terus memperluas daya tampung dan menyerap mayoritas calon mahasiswa. Sementara itu, perubahan struktur ekonomi menuntut kompetensi baru yang lebih adaptif, lintas disiplin, dan berbasis teknologi. Jika PTMA tidak melakukan penyesuaian, maka prodi-prodi yang tidak relevan akan semakin terpinggirkan.

Oleh karena itu, diperlukan langkah penataan ulang yang berani, terukur, dan berpijak pada visi jangka panjang.

Pertama, konsolidasi program studi harus dilakukan secara serius. Penggabungan prodi yang sejenis dan sama-sama lemah menjadi langkah strategis untuk menghindari fragmentasi yang justru melemahkan kualitas.

Kedua, transformasi kurikulum adalah keniscayaan. Prodi berbasis dakwah perlu diarahkan ke ranah yang lebih kontekstual—seperti ekonomi syariah digital, manajemen zakat dan filantropi modern, serta dakwah berbasis media dan teknologi.

Ketiga, moratorium penerimaan mahasiswa baru bagi prodi yang secara konsisten tidak diminati perlu dipertimbangkan. Jika dalam periode tertentu tidak menunjukkan prospek, maka penutupan menjadi pilihan rasional demi menjaga kualitas kelembagaan.

Keempat, transparansi data harus dikedepankan. Informasi mengenai peminat, daya tampung, tingkat kelulusan, hingga serapan kerja perlu dibuka secara jujur sebagai dasar pengambilan kebijakan yang objektif.

Kelima, yang paling mendasar adalah reposisi makna dakwah. Dakwah tidak harus selalu hadir dalam bentuk program studi keagamaan. Ia dapat diwujudkan melalui kualitas lulusan di berbagai bidang yang membawa nilai-nilai Islam dalam praktik profesionalnya.

Momentum Hari Pendidikan Nasional mengingatkan bahwa pendidikan adalah proses yang dinamis. Ia menuntut keberanian untuk berubah tanpa kehilangan nilai. Dalam kerangka itu, dakwah yang kuat bukanlah yang sekadar bertahan dalam bentuk lama, tetapi yang mampu menjawab kebutuhan zaman—hadir secara relevan, memberi solusi, dan membawa kemaslahatan yang nyata.

Agus Subeno (0812 99 111112) adalah Ketua PCM Duren Sawit II Jakarta Timur dan aktif dalam kegiatan dakwah digital di media sosial. Berlatar belakang peneliti di Badan Pusat Statistik dan sebagai dosen Fakultas Ekonomi Universtitas Katolik Atmajaya, Jakarta


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Muslim Mukmin yang Ikhlas Berkontribusi untuk Mewujudkan Cita-Cita Bersama Oleh : Mohammad Fakhrudi....

Suara Muhammadiyah

25 September 2025

Wawasan

Menyikapi Fenomena #KaburAjaDulu: Antara Harapan dan Realita Oleh: Candra Kusuma Wardana, S.E., MBA....

Suara Muhammadiyah

12 March 2025

Wawasan

Oleh: Damayanti, SSi. Ketua PDA Sumenep, Kepala SMA Muhammadiyah I Sumenep 2020-2024 Di era yang te....

Suara Muhammadiyah

25 September 2024

Wawasan

Wakaf Literasi: Sebuah Gerakan Filantropi Oleh: Khafid Sirotudin, LP UMKM Jateng Filantropi berasa....

Suara Muhammadiyah

27 February 2025

Wawasan

Pendidikan Perdamaian Atasi Kekerasan Oleh: Rizki Putra Dewantoro Pendidikan memainkan peran krusi....

Suara Muhammadiyah

26 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah