JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sebagai Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof Hilman Latief, PhD, memikul beban sejarah sekaligus masa depan yang besar. Di hadapan peserta pengajian rutin di Aula Gedung PP Muhammadiyah Jakarta, Jum'at (26 Juni 2026), ia secara terbuka mengakui bahwa meski Muhammadiyah kini dikenal sebagai organisasi dengan ribuan amal usaha, tantangan untuk menjaga keberlanjutan ekonomi organisasi di abad kedua ini jauh lebih berat dibandingkan era awal pendiriannya.
Hilman mengungkapkan bahwa Muhammadiyah saat ini sudah didukung oleh dua pilar mapan seperti gerakan filantropi (zakat, infak, sedekah) dan pilar amal usaha (pendidikan dan kesehatan). Namun, ia melihat kebutuhan mendesak untuk membangun "pilar baru" di sektor bisnis murni. Hal ini dikarenakan sektor-sektor yang selama ini menjadi andalan Muhammadiyah kini mulai dimasuki oleh para konglomerat yang membangun rumah sakit dan universitas elit dengan fasilitas modern.
"Dulu kita mungkin merasa cukup dengan klinik sederhana, tapi sekarang regulasi menuntut standar tinggi. Membangun menara baru atau membeli peralatan medis nuklir itu biayanya sangat mahal," ujar Hilman. Ia menegaskan bahwa investasi besar-besaran yang dilakukan Muhammadiyah dalam 10-20 tahun terakhir, seperti pembangunan tower dan gedung universitas unggul, adalah upaya mitigasi agar organisasi tidak ketinggalan zaman.
Dalam pandangan Hilman, transparansi dan pengawasan adalah kunci utama manajemen keuangan organisasi sebesar Muhammadiyah. Guru Besar UMY itu bercerita bahwa ia secara pribadi meminta pengawas keuangan untuk mengawasi kinerjanya sendiri sebagai Bendahara Umum. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa tata kelola keuangan organisasi berjalan secara adil dan sesuai dengan prinsip akuntansi yang ketat.
Salah satu "PR" besar yang sedang dihadapi Hilman adalah mendata kembali total aset nyata organisasi. Meski media sosial sering menyebut angka fantastis hingga Rp 425 triliun, Hilman menyatakan bahwa pedoman penataan aset sedang terus disempurnakan. Ia menyoroti bahwa manajemen keuangan ormas perlu perspektif baru agar mampu memproyeksikan risiko, terutama di tengah eskalasi ekonomi global, fluktuasi nilai dolar, dan perubahan gaya hidup masyarakat.
Hilman juga mendorong para pimpinan amal usaha untuk lebih berani melakukan transformasi, namun tetap dengan perhitungan matang. "Kita harus menghitung betul, apakah mahasiswa kita masih kuat membayar iuran di tengah kondisi ekonomi saat ini? Ini adalah bagian dari mitigasi risiko yang harus kita lakukan bersama," tuturnya.
Visi ke depan adalah membawa Muhammadiyah melampaui sekadar "menerima dan membayarkan" uang secara rutin. Hilman mencita-citakan adanya dana abadi yang kuat dan skema investasi tidak langsung (indirect investment) yang dapat menjamin kesejahteraan pegawai dan operasional dakwah tanpa harus terbebani oleh fluktuasi pendapatan bulanan. Bagi Hilman, resiliensi keuangan bukan hanya soal angka di atas kertas, melainkan soal kemandirian martabat dakwah Islam di masa depan.

