Rahasia di Balik Anggur
Penulis: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas
Dunia Islam dan alkohol sering kali dipandang sebagai dua kutub yang tidak akan pernah bertemu. Larangannya mutlak, hukumnya jelas. Namun, di tengah kepastian hukum tersebut, muncul sebuah diskusi intelektual yang menarik ketika kita membuka lembaran Surah An-Nahl ayat 67. Benarkah ada sebuah celah di mana Al-Qur'an justru menyebut alkohol sebagai sebuah "berkah"? Ataukah ada keajaiban linguistik yang selama ini terlewatkan oleh mata orang awam?
Ayat yang menjadi pusat perdebatan berbunyi: "Dan dari buah kurma dan anggur, kamu memperoleh minuman yang memabukkan dan rezeki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang yang memikirkan."
Bagi telinga yang mendengar tanpa merenung, ayat ini seolah-olah menyejajarkan alkohol dengan rezeki baik. Namun Al-Qur'an bukanlah teks acak yang bisa dibaca per potongan kalimat. Memahami Al-Qur'an tanpa konteks ibarat mencoba memahami sebuah film hanya dari satu cuplikan gambar (frame).
Saya ingin memulai penjelasannya dengan sebuah observasi sederhana namun fundamental: kata "Dan" (Wa dalam bahasa Arab). Dalam tata bahasa Inggris atau Indonesia modern, memulai kalimat dengan kata "dan" sering dianggap tidak baku. Namun dalam sastra Arab klasik, Wa di awal ayat adalah sebuah jangkar. Ia adalah jembatan yang menghubungkan apa yang akan dikatakan dengan apa yang baru saja disampaikan.
Artinya, ayat 67 tidak berdiri sendiri di ruang hampa. Ia adalah kelanjutan dari ayat 66 yang membahas tentang keajaiban biologis hewan ternak. Tanpa memahami ayat 66, kita akan kehilangan separuh dari logika yang ingin disampaikan Tuhan dalam ayat 67.
Mari kita mundur sejenak ke ayat 66. Di sana, Allah mengajak manusia memperhatikan hewan ternak. Bayangkan sebuah sistem di dalam perut sapi—sebuah pabrik kimia alami yang luar biasa rumit. Di dalam perut itu, terdapat darah yang mengalir dan kotoran (ekskresi) yang sedang diproses. Darah dan kotoran adalah sesuatu yang menjijikkan bagi manusia, sesuatu yang kita hindari.
Namun, di tengah-tengah dua zat yang tidak menyenangkan itu, Tuhan mengeluarkan sesuatu yang murni, putih, dan lezat: susu. Saya hendak menekankan betapa ajaibnya pemisahan ini. Jika kita berada di sebuah laboratorium modern, menjaga agar zat murni tidak terkontaminasi oleh limbah di wadah yang sama adalah tugas yang sangat sulit. Tapi dalam tubuh sapi, susu tetap suci dan bergizi meskipun dikelilingi oleh kotoran. Ini adalah tanda pertama tentang "pemisahan antara yang baik dan yang buruk dalam satu wadah."
Setelah membangun fondasi tentang susu dan kotoran, barulah kita masuk ke ayat 67 tentang kurma dan anggur. Di sinilah kecerdasan linguistik Al-Qur'an bermain. Allah berfirman bahwa dari buah-buahan ini, manusia bisa menghasilkan dua hal; sakaran (minuman yang memabukkan/alkohol) dan rizqan hasanan (rezeki yang baik).
Perhatikan diksinya. Al-Qur'an secara eksplisit memisahkan antara "alkohol" dan "rezeki yang baik". Jika alkohol adalah sesuatu yang baik, maka Tuhan cukup mengatakan "kamu memperoleh rezeki baik darinya." Namun, penggunaan kata penghubung "dan" di sini justru berfungsi sebagai pemisah kualitas.
Secara implisit, Al-Qur'an sedang membuat sebuah tabel perbandingan di benak pembacanya:
| Kategori | Produk Murni (Baik) | Produk Sampingan (Buruk) |
| Hewan Ternak | Susu Putih Murni | Darah dan Kotoran |
| Buah-buahan | Rezeki Baik (Buah segar, madu, cuka) | Alkohol (Zat memabukkan) |
Dengan struktur paralel ini, Al-Qur'an secara halus menyejajarkan posisi alkohol dengan darah dan kotoran sapi. Keduanya adalah hasil dari proses kimiawi, namun keduanya bukanlah "tujuan utama" yang diinginkan untuk dikonsumsi oleh manusia yang berakal. Alkohol ditempatkan di "kolom" yang sama dengan limbah biologis.
Jika alkohol itu buruk, mengapa ia disebutkan dalam ayat yang membahas tentang tanda-tanda kebesaran Tuhan? Di sinilah banyak orang keliru. Tanda kebesaran Tuhan tidak selalu berarti bahwa semua yang dihasilkan adalah untuk dinikmati secara bebas.
Tanda tersebut terletak pada potensi pemisahan. Tuhan memberikan manusia kurma dan anggur—bahan baku yang luar biasa. Manusia kemudian diberi pilihan dan akal untuk mengolahnya. Anda bisa mengolahnya menjadi nutrisi yang menyehatkan tubuh (rezeki baik), atau Anda bisa menyalahgunakannya menjadi sesuatu yang merusak kesadaran (alkohol).
Keberadaan pilihan inilah yang menjadi ujian bagi "orang-orang yang berpikir" (liqaumin ya'qilun). Al-Qur'an tidak sedang memuji alkohol; Al-Qur'an sedang memuji mekanisme alamiah di mana zat yang merusak bisa muncul dari sesuatu yang baik, dan tugas manusialah untuk memilah mana "susu" dan mana "kotoran".
Ada kritikan dari tokoh agama lain yang mencoba menggunakan ayat ini untuk menyerang Islam. Dia mengklaim bahwa Al-Qur'an kontradiktif karena di satu sisi melarang alkohol (dalam Surah Al-Maidah), namun di ayat ini seolah-olah menganggapnya sebagai karunia.
Namun, tuduhan itu muncul dari kegagalan memahami struktur bahasa Arab. Surah An-Nahl adalah surah Makkiyah (diturunkan di Mekkah), yang fokus pada pengenalan tanda-tanda alam. Sementara larangan total alkohol muncul kemudian di periode Madinah.
Meski demikian, bahkan di periode Mekkah (dalam ayat ini), Al-Qur'an sudah memberikan sinyal halus dengan membedakan alkohol dari rezeki baik. Ini adalah bentuk pendidikan progresif bagi umat manusia. Al-Qur'an sedang mempersiapkan mental pembacanya bahwa alkohol memiliki kedudukan yang berbeda dengan rezeki yang sesungguhnya.
Memang ada manfaat alkohol di luar konsumsi. Segala sesuatu yang diciptakan Tuhan mungkin memiliki kegunaan jika ditempatkan pada tempat yang benar. Ingatkah kita pada masa pandemi COVID-19? Alkohol (etanol/isopropil) menjadi pahlawan dalam bentuk sanitasi. Ia membunuh kuman, mensterilkan luka, dan menyelamatkan nyawa di rumah sakit. Dalam konteks ini, "alkohol" sebagai zat kimia adalah bagian dari keajaiban ciptaan Tuhan yang memiliki fungsi. Namun, fungsinya bukanlah untuk masuk ke dalam tenggorokan dan merusak akal.
Memahami Al-Qur'an membutuhkan ketelitian seorang ahli bahasa dan kejernihan seorang ilmuwan. Surah An-Nahl ayat 67 bukanlah legitimasi bagi khamr, melainkan sebuah pelajaran tentang klasifikasi. Al-Qur'an menantang kita: Bisakah kita memisahkan yang murni dari yang kotor? Bisakah kita melihat bahwa dari satu pohon yang sama, bisa lahir rezeki yang menghidupkan atau cairan yang melumpuhkan akal?
Pada akhirnya, ayat ini ditutup dengan kalimat: "Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda bagi orang yang memikirkan." Jika kita benar-benar berpikir, kita tidak akan melihat alkohol sebagai berkah untuk diminum, melainkan sebagai pengingat akan pentingnya menjaga akal sehat dari segala sesuatu yang bisa mencemarinya—seperti susu yang harus tetap terjaga dari darah dan kotoran.

