LAMTIM, Suara Muhammadiyah – Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Shadaqah Muhammadiyah (LAZISMU) Daerah Lampung Timur resmi menyelenggarakan Rapat Kerja Daerah (Rakerda) perdana pada awal tahun 2026 ini. Momentum ini menjadi tonggak sejarah baru bagi lembaga tersebut sejak pertama kali didirikan pada tahun 2018 silam. Bertempat di pusat kegiatan Muhammadiyah Lampung Timur, agenda ini dihadiri oleh perwakilan dari 26 Kantor Layanan (KL) Lazismu yang tersebar di berbagai kecamatan di seluruh wilayah Lampung Timur.
Rakerda ini bukan sekadar pertemuan rutin, melainkan sebuah langkah strategis untuk mengonsolidasikan kekuatan filantropi Islam di tingkat daerah. Mengingat rekam jejaknya selama delapan tahun terakhir, Lazismu Lampung Timur kini bertransformasi menjadi lembaga yang lebih terorganisir dengan jaringan akar rumput yang kuat. Fokus utama dalam pertemuan ini adalah sinkronisasi program kerja agar manfaat zakat, infak, dan sedekah (ZIS) dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat yang membutuhkan, terutama di wilayah pelosok.
Ketua Lazismu Daerah Lampung Timur, Ach. Irfan Huzni, M.Psi., Psikolog, dalam sambutannya menekankan pentingnya perencanaan yang matang untuk menghadapi dinamika sosial di tahun-tahun mendatang. Beliau menyampaikan bahwa Rakerda ini merupakan wadah krusial untuk merancang peta jalan (roadmap) program kerja setidaknya untuk satu tahun ke depan. Sebagai seorang psikolog, Irfan juga menggarisbawahi bahwa program yang disusun harus memiliki dampak psikososial yang positif bagi para mustahik (penerima manfaat) agar mereka dapat berdaya secara mandiri. "Kami berharap Rakerda perdana di tahun 2026 ini menjadi titik tolak bagi Lazismu Lampung Timur untuk bergerak lebih progresif. Kita perlu merancang program yang konkret, terukur, dan berkelanjutan. Dengan adanya 26 Kantor Layanan di tiap kecamatan, tantangan kita adalah bagaimana menyeragamkan standar pelayanan dan akuntabilitas agar kepercayaan donatur atau muzakki tetap terjaga dan terus meningkat," ujar Irfan Huzni di hadapan para peserta rapat.
Apresiasi tinggi juga datang dari jajaran pimpinan wilayah. Wakil Ketua Satu Bidang Penghimpunan Lazismu Wilayah Lampung, Ir. H. Mursidin Hafdzoh Fattah, yang hadir mewakili Ketua Lazismu Wilayah, menyatakan bahwa penyelenggaraan Rakerda ini adalah bukti nyata pertumbuhan organisasi di tingkat daerah. Beliau mengingatkan agar forum ini tidak terjebak pada agenda seremonial semata, melainkan harus melahirkan solusi nyata atas problematika kemiskinan dan kesenjangan sosial yang terjadi di tengah masyarakat Lampung Timur saat ini.
Mursidin menambahkan bahwa tantangan dunia filantropi di era digital semakin kompleks. Lazismu dituntut untuk mampu menjawab tantangan zaman dengan inovasi dalam penghimpunan maupun penyaluran dana. "Kita ingin Lazismu menjadi solusi atas masalah umat. Oleh karena itu, profesionalisme dalam pengelolaan dana ZIS harus dikedepankan. Rakerda ini harus menghasilkan keputusan-keputusan strategis yang mampu membawa Lazismu Lampung Timur menjadi role model pengelolaan filantropi yang transparan dan modern," tegasnya.
Sejalan dengan semangat ekspansi tersebut, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Lampung Timur yang diwakili oleh M. Kholik, S.Ag., turut memberikan arahan strategis terkait penguatan struktur organisasi. Kholik mendorong agar Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) di wilayah Lampung Timur yang belum memiliki Kantor Layanan Lazismu untuk segera membentuknya. Hal ini bertujuan agar tata kelola zakat, infak, dan sedekah di tingkat ranting dan cabang dapat terkoordinasi secara tertib dan sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Penutupan arahan dari pihak PDM menegaskan bahwa keberadaan Lazismu adalah instrumen penting dalam dakwah bil-hal (dakwah melalui perbuatan nyata). Dengan distribusi ZIS yang tertib dan tepat sasaran, kiprah Muhammadiyah diharapkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas, tanpa memandang latar belakang. Melalui Rakerda 2026 ini, Lazismu Lampung Timur berkomitmen untuk memperkuat sinergi antar-kantor layanan guna mewujudkan keadilan sosial dan kesejahteraan umat yang lebih inklusif di seluruh Bumi Tuwah Bepadan. (fic/pri)

