SEMARANG, Suara Muhammadiyah - Sabtu pagi tadi, kegiatan Rakornas Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah secara resmi ditutup. Kegembiraan tampak menghiasi wajah para peserta. Bukan disebabkan karena berhasil menyelesaikan seluruh rentetan acara, tapi lebih kepada humor yang menyertai di sepanjang acara penutupan.
Tawa pun pecah saat Muchamad Arifin, Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menceritakan pengalamannya membina salah satu komunitas marginal di Jawa Timur. Cerita semakin lucu ketika ia menguncupkan jari, mencoba memeragakan apa yang terjadi waktu itu dengan menempelkannya ke pipi sebelah kanan.
"Ketika saya melakukan pembinaan salah satu komunitas waria di Jawa Timur. Bapak ibu bisa membayangkan sendiri bagaimana rasanya," ujarnya sambil bercanda.
Di tengah situasi tersebut, Arifin menambahkan, bahwa berdakwah di Muhammadiyah harus disertai dengan kegembiraan. Tanpa kegembiraan, dakwah menjadi kering dan kehilangan ruh dan semangatnya.
Pria yang kesehariannya mendampingi komunitas marjinal itu menegaskan bahwa masa depan dakwah Muhammadiyah sejatinya ada di lembaga yang saat ini ia pimpin. Dakwah yang langsung menyasar kepada siapa saja yang berada di luar ruang mainstream dakwah. "Mari kita sepulang dari sini (Rakornas LDK) kita lanjutkan dalam aksi nyata. Melanjutkan dakwah di lapangan," pesannya kepada seluruh peserta.
Mewakili tuan rumah, Ahmad Hasan Asy'ari menyampaikan apresiasinya kepada LDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang sukses menyelenggarakan Rakornas selama 3 hari di Semarang Jawa Tengah. Salah satu barometer kesuksesan Rakornas LDK edisi Semarang menurutnya adalah komitmen peserta yang tinggi, dimana seluruh peserta masih utuh dan lengkap sampai penutupan dilakukan.
"Atas nama Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Tengah saya menyampaikan terima kasih atas kepercayaan, menunjukkan Jawa Tengah sebagai tuan rumah Rakornas LDK yang kedua. Dan mohon maaf jika dalam layanan ada banyak kekurangan," ucapnya. (diko)

