Ramadhan Bulan Muhasabah Diri: Menakar Ulang Kualitas Puasa

Publish

13 February 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
63
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Ramadhan Bulan Muhasabah Diri: Menakar Ulang Kualitas Puasa

Penulis: Prof. Dr. H. Muh. Hizbul Muflihin, B.A., M.Pd, PDM Banyumas, Bidang LSBO dan RLB/MDMC

Puasa Ramadhan 1447 H sebentar lagi datang di hadapan kita. Tentu sebagai seorang muslim sudah tidak asing kewajiban apa yang selayaknya dikerjakan selama bulan Ramadhan. Ibadah puasa atau shaum menjadi amalan yang sangat istimewa, bukan karena datangnya dalam satu tahun hijriah hanya satu kali saja, tetapi shaum merupakan ibadah yang pahalanya tidak ditentukan dan tidak ditegaskan oleh Allah SWT, “wa anaa ajzi bihi”.

Lantas apa yang diharapkan atau apa yang dikehendaki oleh Allah SWT dengan kewajiban puasa Ramadhan? Yaitu menjadi orang yang bertakwa. Kata atau kalimat takwa memang sederhana dan simpel, namun jika kita runut (تقوى) dalam bahasa Arab berasal dari akar kata waqa–yaqi–wiqayah (وقى–يقى–وقاية) yang secara harfiah berarti memelihara, melindungi, menjaga, atau menaungi.

Yang dipelihara adalah keimanannya bahwa puasa adalah perintah Allah SWT karena Allah SWT pula yang akan membalasnya. Yang dilindungi adalah hati dan pikiran untuk menerima perintah puasa dengan ikhlas dan pikiran yang jernih, yaitu melaksanakan puasa semata mencari rida Allah SWT. Yang dijaga lisan dan perbuatannya, agar lisannya selalu menjadi lisanan saliman li dzikrillah dan perbuatannya adalah perbuatan yang mendukung hati yang teduh, ikhlas dalam beramal saleh, serta menjauhkan dari segala hal yang dapat merusak kualitas puasa.

Kualifikasi menjadi orang bertakwa dengan mengamalkan puasa (Al-Baqarah: 183) nampaknya bisa menjadi mahkota dan perjuangan hidup dan kehidupan yang berat. Orang yang berpuasa adalah hamba Allah SWT yang benar-benar ikhlas menjalani ibadah mahdhah khususnya dan ibadah ghairu mahdhah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Baqarah: 21. Dambaan Allah SWT agar menjadi orang bertakwa adalah teguh dalam ibadah sesuai aturan dan petunjuk-Nya serta contoh dari Rasulullah SAW sebagaimana ditegaskan dalam Al-A’raf: 171. Selain itu, tindakan orang yang benar-benar bisa meraih derajat muttaqin adalah orang yang berhati-hati dan memikirkan apa dampak yang terjadi setelah memutuskan untuk melakukan suatu perbuatan yang mungkar (Al-Baqarah: 179).

Satu garis lurus yang hendaknya dimiliki oleh hamba Allah SWT yang ingin benar-benar mampu mewujudkan harapan Allah SWT, yaitu menjadi muttaqina imama, yakni beribadah ikhlas semata melaksanakan perintah Allah SWT, sebagaimana ditegaskan dalam Al-An’am: 153.

Relasi Fondasi Utama Puasa

Momen puasa yang sebentar lagi menghampiri kita, paling tidak ada four basic circles yang perlu dipahami dan disikapi secara maksimal agar kesempatan menjadi orang bertakwa tidak kabur begitu saja. Empat hal yang urgen itu: Ramadhan (رمضان), puasa (صوم), berbuka dengan segera (تعجيل الفطر), dan Syawal (شوال).

Ramadhan berasal dari bahasa Arab (رمضان), berakar dari kata ramidha (رَمِضَ) atau ar-ramad (الرَّمَضُ), yang berarti panas yang sangat menyengat, membakar, atau kekeringan. Ramadhan berarti membakar semangat untuk menghidupkan hari-hari selama puasa dengan qiyamul lail. Selain itu, Ramadhan juga berarti membuang jauh-jauh semua sifat, sikap, dan tindakan kemungkaran selama puasa dan setelahnya sampai Ramadhan berikutnya datang (ini yang super berat, kecuali yang istiqamah dan ikhlas).

Shaum (الصوم) bermakna al-imtina’ (الإمتناع) sebagai amalan yang harus dilaksanakan oleh seorang muslim yang memenuhi syarat dan kuat secara fisik untuk meraih derajat muttaqin. Menurut Imam Al-Ghazali, orang berpuasa terdiri dari tiga tingkat: awam (menahan makan/minum), khusus (menahan anggota tubuh dari dosa), dan khusus al-khusus (mengkondisikan hati untuk tetap melaksanakan perintah Allah SWT).

Dari pendapat Al-Ghazali, maka dapat kita pahami bahwa orang yang benar-benar saat Ramadhan ingin meraih derajat muttaqin tidak dicukupkan hanya menahan lapar, haus, tidak merokok, juga tidak berhubungan suami istri sejak fajar sampai masuk waktu magrib, namun juga harus mampu mengendalikan hawa nafsu dari perbuatan mungkar, fahsya’, dan fasad, serta berjuang sekuat tenaga untuk melaksanakan perintah Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari seperti salat, bekerja, jujur, dan berakhlak karimah.

Puasa Mendidik: Kedisiplinan dan Kejujuran

Orang yang berpuasa jika sekadar tidak makan, tidak minum, tidak merokok, berhaus dan berdahaga seharian, bisa jadi orang yang bukan muslim pun bisa melaksanakan. Bahkan kekuatan untuk tidak makan dan minum yang dilakukan oleh seseorang yang bukan atas dasar keimanan dan keihtisaban bisa melebihi kaifiyat al-shiyam yang disyariatkan dalam Islam.

Puasa bagi seorang muslim dan mukmin tentu akan menaati dan mengikuti rambu-rambu kaifiyat al-shiyam dengan sebaik-baiknya. Pertama, puasa harus diawali dengan niat di malam hari, sebagaimana ditegaskan dalam hadis:

مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ طُلُوعِ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ

Artinya: “Barangsiapa yang tidak berniat puasa pada malam hari sebelum fajar, maka tidak ada puasa baginya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban).

Kedua, orang yang berpuasa harus segera berbuka puasa (ta’jil al-fithr) sekalipun masih kuat untuk menahan lapar dan haus. Berbuka puasa dengan segera adalah bukti ketaatan atas perintah Rasulullah SAW dan kedisiplinannya dalam menghargai waktu. Efek lahiriahnya, dengan segera berbuka puasa badan kembali segar, mencegah dehidrasi berat, menstabilkan gula darah, dan juga mencegah gangguan pencernaan. Sedangkan reward bagi yang menyegerakan berbuka puasa akan mendapatkan kebahagiaan yang disejajarkan dengan kebahagiaan bertemu dengan Allah SWT.

Ketiga, orang yang berpuasa menahan lapar, haus, tidak merokok, dan perbuatan fahsya’ lainnya harus benar-benar dilaksanakan dengan penuh kejujuran. Saat orang berpuasa—apalagi di siang hari—bisa tergoda untuk tidak jujur jika tidak hati-hati saat berwudu. Dalam hal ini ada dua hal yang saling berhimpitan terjadi: di satu sisi disunnahkan bahkan muakkadah untuk berkumur saat berwudu, dan di sisi lain merasakan haus karena puasa.

Kejujuran saat puasa selain diminta hati-hati saat berkumur, juga tegas dinyatakan oleh Rasulullah SAW agar orang yang berpuasa tidak berbohong. Berbohong saat berpuasa bisa berupa ucapan (tidak sinkron antara hati, pikiran, dan tindakan), atau perbuatan, misalnya mengurangi isi timbangan saat berjual beli.

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta (bohong) malah mengamalkannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.” (HR. Bukhari).

Dimensi Futuristik dari Puasa

Kewajiban berpuasa Ramadhan memang hanya berdurasi 29–30 hari, namun jika ditelisik lebih jauh kewajiban puasa dalam arti substantif adalah sepanjang hidup. Di saat orang melaksanakan puasa hakikatnya sedang berkorespondensi secara intens dan langsung dengan Allah SWT melalui zikir, doa, membaca Al-Qur’an, dan fadha’ilul a’mal yang dianjurkan, yang akhirnya adalah meraih kebaikan dan ketenangan yang berkualitas sepanjang hidup.

Dengan demikian dimensi futuristik dari ibadah puasa Ramadhan yang diwajibkan oleh Allah SWT bagi sha’imun bukan sekadar mampu mencegah perbuatan fahsya’ dan mungkar untuk sesaat selama satu bulan saja, namun juga menjadikan seorang muslim mampu meraih kebahagiaan hidup berdimensi masa depan yang lebih baik dan berkualitas.

Semoga Ramadhan tahun 1447 H bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya dan mampu menjadikan diri kita sebagai hamba Allah SWT yang muttaqina imama. Aamiin.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Empat Fungsi Pendidikan Muhammadiyah: Dari Ruang Kelas untuk Umat, Bangsa, dan Semesta Penulis: M. ....

Suara Muhammadiyah

30 December 2025

Wawasan

7 Aspek Penting Dampak MBG Dalam Kehidupanmu Oleh: Ns Eko Deddy Novianto S.Kep.,M.A.P Dalam mewuju....

Suara Muhammadiyah

19 February 2025

Wawasan

Dialog Antaragama Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Apa yang Isl....

Suara Muhammadiyah

22 July 2024

Wawasan

Negeri Berbudaya Keroyokan Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso dan Wakil Sekretaris LPCRPM P....

Suara Muhammadiyah

6 August 2025

Wawasan

Refleksi Sebuah Gerakan Dakwah di Akar Rumput Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon, Pedan,....

Suara Muhammadiyah

24 January 2025