Refleksi Maulid Nabi: Membumikan Rahmatan lil 'Alamin di Tengah Krisis Ekologis

Suara Muhammadiyah

27 August 2026

69
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Refleksi Maulid Nabi: Membumikan Rahmatan lil 'Alamin di Tengah Krisis Ekologis

Oleh: Randi Syafutra, Dosen Konservasi Sumber Daya Alam UM Bangka Belitung

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW selalu disambut dengan gegap gempita. Namun, perayaan tahun ini bertepatan dengan kondisi alam Indonesia yang sedang sakit parah. Catatan BMKG menunjukkan suhu nasional menembus rekor 27,52 °C. Dampaknya nyata, lebih dari 90% kejadian bencana nasional saat ini didominasi bencana hidrometeorologi. Fakta tersebut menjadi kritik keras bagi bangsa ini. Klaim cinta kepada Rasulullah semestinya dibuktikan dengan praktik Rahmatan lil 'Alamin (rahmat bagi semesta), yang bermakna menjadi agen pelindung bumi dari krisis iklim.

Praktik Rahmatan lil 'Alamin masih jauh panggang dari api dalam realitas ekologis kita. Deforestasi masif yang disorot lembaga Auriga Nusantara di Kalimantan hingga Aceh terus mengorbankan puluhan ribu hektare habitat alami satwa lindung, termasuk Gajah Sumatera. Pembabatan hutan alam tidak hanya memicu banjir bandang dan tanah longsor, tetapi juga mencederai wasiat ekologis Rasulullah yang melarang penebangan liar dan menyebut menanam pohon sebagai sedekah jariyah.

Di kawasan perkotaan, hak atas udara bersih direnggut oleh emisi karbon. Laporan IQAir menempatkan tingkat polusi udara Indonesia pada level mengkhawatirkan dengan paparan PM2.5 yang memicu puluhan ribu kasus ISPA setiap tahun. Kondisi tersebut mencederai prinsip dasar syariat, yakni Hifzhun Nafs (menjaga jiwa/kesehatan). Meneladani Nabi berarti harus mengambil tindakan nyata, seperti melakukan reboisasi massal dan beralih ke gaya hidup rendah emisi.

Gerakan Maulid Hijau 

Krisis ekologis juga merambat tajam ke sektor tata air dan pesisir. Kemarau panjang akibat El Nino memicu kekeringan parah di berbagai daerah, termasuk sentra padat penduduk di Pulau Jawa seperti kawasan Bogor dan sekitarnya. Hal tersebut memaksa ratusan ribu warga mengantre pasokan air bersih. Di sisi lain, laut Nusantara rusak. Data KKP mencatat 33,82% terumbu karang nasional hancur akibat aktivitas eksploitatif dan pencemaran limbah.

Al-Qur'an secara tegas melarang perusakan mizan (keseimbangan alam). Dalam urusan tata air, Rasulullah memberikan teladan konservasi tingkat tinggi. Beliau melarang umat membuang-buang air saat berwudu meski sedang berada di sungai yang mengalir deras. Sikap tersebut semestinya menjadi fondasi eco-fiqh (fikih lingkungan) masyarakat modern untuk menjaga kelestarian sumber daya air serta mencegah polutan masuk ke laut.

Ironi terbesar justru kerap bermula dari pola konsumsi. UNEP melaporkan Indonesia konsisten berada di peringkat lima besar penghasil sampah makanan dunia. Kajian Bappenas mengestimasi kerugian ekonomi akibat makanan terbuang mencapai Rp213 triliun hingga Rp551 triliun per tahun. Di saat bersamaan, Bank Dunia menempatkan Indonesia sebagai kontributor utama sampah plastik laut, yang kini hancur menjadi mikroplastik dan mengontaminasi air minum manusia.

Menyajikan makanan berlebih saat perayaan yang berujung ke tempat sampah adalah bentuk perbuatan tabzir (mubazir). Perilaku ini sangat dibenci oleh Rasulullah SAW. Beliau mengajarkan gaya hidup bersahaja dan selalu menghabiskan makanan tanpa sisa.

Kesalehan ritual belum lengkap tanpa adanya kesalehan ekologis. Umat Islam dan para pemangku kebijakan harus segera menginisiasi gerakan "Maulid Hijau". Langkah solutif harus dieksekusi secara nyata, mulai dari menyelenggarakan perayaan tanpa plastik sekali pakai, menekan angka sampah makanan, menghemat air domestik, hingga menanam pohon. Bukti cinta sejati kepada Nabi Muhammad SAW di era modern ini adalah menjaga dan merawat bumi yang beliau wariskan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Ketika Diplomasi Menjadi Narasi, dan Fiskal Menjadi Korban Oleh: Ijang Faisal, Kepala LPPM Universi....

Suara Muhammadiyah

29 January 2026

Wawasan

7 Aspek Penting Dampak MBG Dalam Kehidupanmu Oleh: Ns Eko Deddy Novianto S.Kep.,M.A.P Dalam mewuju....

Suara Muhammadiyah

19 February 2025

Wawasan

Dari Simpang Lima, Membaca Jalan Dakwah Senam Sang Surya   Yudha Kurniawan (Ketua Pimda 02 Ta....

Suara Muhammadiyah

16 August 2026

Wawasan

Cahaya Kenabian dan Risalah Perempuan Berkemajuan: Memaknai Kembali Maulid Nabi di Abad Ke-21  ....

Suara Muhammadiyah

25 August 2026

Wawasan

Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi di Yogyakarta Melihat Indonesia hari ini, barangkali kita sedan....

Suara Muhammadiyah

11 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah