Refleksi Teologis Bayang-Bayang Rudal ke Tanah Haram

Suara Muhammadiyah

16 October 2026

169
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Refleksi Teologis Bayang-Bayang Rudal ke Tanah Haram

Oleh: Dr. Drs. H. Shofwan Karim Elhussein, BA., MA., Dosen Pascasarjana UM Sumbar

Dalam dinamika geopolitik global kontemporer, dunia Islam dikejutkan oleh eskalasi konflik di kawasan Jazirah Arab. Intensitas serangan rudal balistik, rudal jelajah, dan drone bersenjata yang dilancarkan oleh kelompok Houthi dari Yaman menyasar sejumlah fasilitas vital di Arab Saudi. Berdasarkan laporan resmi dan pemantauan keamanan internasional, dua bulan belakangan,  serangan yang mencatat eskalasi tajam ini mengincar bandara internasional, infrastruktur energi strategis, kawasan militer, hingga simpul-simpul transportasi utama. Gelombang serangan tersebut tidak hanya meninggalkan kerusakan material, korban jiwa, dan ratusan luka-luka, tetapi juga melumpuhkan sebagian aktivitas sosial-ekonomi serta memicu disrupsi signifikan terhadap jalur penerbangan internasional. 

Kendati demikian, kalkulasi militer dan angka statistik kerusakan tersebut seketika luntur di hadapan sebuah kecemasan eksistensial yang jauh lebih mendalam di dada hampir dua miliar umat Islam global. Kegelisahan kolektif itu bermuara pada satu pertanyaan mendasar yang menghantui: bagaimana jika suatu hari malfungsi teknologi, deviasi navigasi, atau kegagalan sistem pertahanan udara membiarkan rudal-rudal tersebut menyasar atau mendekati batas Tanah Haram Makkah dan Madinah?

Secara rasional dan teknis, pertanyaan ini mungkin dipandang sebagai sebuah hipotesis ekstrem. Namun, dalam lanskap perang modern (modern warfare), tidak ada sistem persenjataan yang steril dari anomali. Sejarah militer membuktikan bahwa presisi rudal balistik tercanggih sekalipun memiliki ruang galat (margin of error). Drone dapat keluar dari jalur kendali, perangkat navigasi satelit rentan mengalami gangguan elektronik (jamming), dan payung pertahanan udara terbaik di dunia tidak pernah menawarkan garansi keselamatan mutlak seratus persen.

Oleh sebab itu, ketakutan umat Islam bukanlah semata manifestasi paranoia politik, melainkan ketakutan yang lahir dari tabiat ketidaksempurnaan manusia dalam menjinakkan teknologi destruktif buatannya sendiri. Di sinilah letak paradoks besar peradaban modern: semakin canggih instrumen kematian diciptakan, semakin rapuh pula rasa aman umat manusia di muka bumi.

Bagi entitas kultural dan spiritual umat Islam, Makkah dan Madinah melampaui batas-batas teritorial geopolitik konvensional. Keduanya adalah pusat gravitasi spiritual (spiritual axis mundi) yang merajut universalitas umat manusia. Di lembah Makkah yang dulunya tandus, Ka’bah berdiri tegak sebagai kiblat orientasi salat miliaran mukmin dari berbagai belahan dunia. Di sanalah mata air kenabian memancar, wahyu Ilahi pertama kali diturunkan, dan fondasi peradaban tauhid ditegakkan. Ancaman sekecil apa pun terhadap kedua kota suci ini bukan sekadar agresi fisik terhadap kedaulatan sebuah negara, melainkan sebuah tikaman simbolik terhadap memori kolektif dan jantung peradaban Islam.

Secara teologis, Al-Qur’an telah mengabadikan Makkah sebagai ruang sakral yang senantiasa dinaungi oleh jaminan keamanan ilahi. Allah SWT berfirman dalam Surah Al-Baqarah ayat 126:

"Dan (ingatlah) ketika Ibrahim berdoa: 'Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman sentosa, dan berikanlah rezeki dari buah-buahan kepada penduduknya yang beriman di antara mereka...'" (QS. Al-Baqarah: 126). 

Ayat suci ini menegaskan bahwa legitimasi keamanan Makkah bukan sekadar produk hukum positif atau traktat politik internasional, melainkan buah dari doa profetik Nabi Ibrahim AS yang menembus dimensi transendental. Keamanan Tanah Haram memiliki dimensi teologis yang mengakar kuat melampaui sekat-sekat geografis. 

Kecintaan dan pengagungan ini semakin dipertegas oleh sunnah Rasulullah SAW. Dalam hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Muhammad SAW secara tegas menetapkan batas-batas kesucian (haram) Madinah dan Makkah, melarang pertumpahan darah di dalamnya, serta menegaskan bahwa kedua kota tersebut mendapat proteksi khusus dari Allah SWT. Keyakinan teologis ini telah menghujam dalam di kesadaran umat Islam selama berabad-abad.

Namun demikian, akidah Islam yang murni tidak pernah mengajarkan fatalisme atau sikap berpangku tangan. Keyakinan akan pemeliharaan mutlak Allah SWT harus senantiasa diinternalisasi melalui ikhtiar maksimal manusia dalam merawat perdamaian. Dalam khazanah pemikiran Islam, konsep tawakal bukanlah kepasrahan buta tanpa usaha (fatalistic resignation), melainkan puncak pencapaian dari ikhtiar rasional dan moral yang dilakukan secara paripurna.

Dalam konteks regional, eskalasi konflik di Jazirah Arab menyadarkan kita akan rapuhnya bangunan stabilitas global abad ke-21. Konflik militer yang terkonsentrasi di satu titik teritori dapat dengan cepat bermutasi menjadi krisis kemanusiaan regional. Penutupan koridor penerbangan, terganggunya mobilitas jutaan jamaah haji dan umrah, serta eskalasi siaga militer di berbagai negara tetangga menunjukkan bahwa kekacauan modern tidak mengenal sekat-sekat kedaulatan yang kaku.

Bagi Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, riak-riak krisis ini memiliki resonansi yang nyata. Puluhan ribu warga negara Indonesia yang tengah menunaikan ibadah umrah di Tanah Suci berada langsung di dalam orbit ketegangan tersebut. Langkah taktis pemerintah melalui Kementerian Luar Negeri dan perwakilan diplomatik di Arab Saudi dalam memitigasi risiko serta memantau keselamatan WNI merupakan bentuk nyata dari tanggung jawab negara. Hingga saat ini, laporan menunjukkan nihilnya korban jiwa dari kalangan WNI, namun kewaspadaan kolektif tetap menjadi harga mati. 

Secara filosofis, krisis ini menyoroti kembali sebuah kebenaran universal: bahwa perdamaian adalah fondasi ontologis bagi tegaknya peradaban. Tanpa rasa aman, ilmu pengetahuan tidak dapat berkembang, kemakmuran ekonomi runtuh, dan keluhuran budi pekerti manusia tereduksi oleh insting hewani pertahanan diri. Setiap rudal yang meluncur menembus langit malam Jazirah Arab tidak hanya meretakkan dinding-dinding material, tetapi juga meruntuhkan pilar-pilar kemanusiaan universal.

Peradaban yang agung tidak pernah lahir dari reruntuhan puing dan bau sulingan mesiu, melainkan dari kemampuan akal budi manusia untuk menghormati kesucian kehidupan (sanctity of life). Ketika instrumen kekerasan dideifikasi sebagai instrumen utama penyelesaian sengketa, pihak yang paling terluka bukan sekadar faksi yang kalah di medan laga, melainkan peradaban manusia itu sendiri.

Oleh karena itu, jika terdapat ruang di muka bumi yang wajib dijaga secara kolektif oleh seluruh umat manusia melampaui perbedaan ras, bangsa, dan ideologi, maka Makkah dan Madinah berada di garda terdepan. Alasannya bukan semata karena eksklusivitas teologis bagi umat Islam, melainkan karena kedua kota tersebut memancarkan simbol luhur tentang perdamaian, kepasrahan kepada Sang Pencipta, serta universalitas persaudaraan insani (ukhuwah basyariyah). Setiap tahun, jutaan manusia menanggalkan atribut duniawi mereka, mengenakan kain putih sederhana, dan berdiri sejajar di hadapan Sang Khaliq tanpa membedakan warna kulit maupun strata sosial.

Dengan begitu, bayang-bayang ancaman di sekitar Tanah Haram harus dibaca sebagai lonceng peringatan global (early warning). Dunia hari ini lebih mendesak membutuhkan meja-meja perundingan ketimbang desingan rudal, lebih memerlukan diplomasi kemanusiaan ketimbang unjuk kekuatan militer, dan lebih haus akan kearifan spiritual ketimbang ambisi hegemoni politik. Sebab, ketika api peperangan dibiarkan menjilat jantung spiritual kemanusiaan, yang dipertaruhkan bukan lagi sekadar kemenangan taktis, melainkan masa depan peradaban itu sendiri.

Semoga Makkah dan Madinah senantiasa berada dalam naungan perlindungan Allah SWT, sejalan dengan doa yang dipanjatkan oleh ulul azhmi, Nabi Ibrahim AS. Semua berharap,  pemimpin dunia dianugerahi kejernihan akal budi untuk meredam konflik melalui jalan damai yang bermartabat dan berkeadaban. Sebab, di ujung sejarah manapun, kemenangan yang paling sejati dan mulia adalah terjaganya keselamatan nyawa manusia dan lestarinya kedamaian di muka bumi. Allahu a’lam bish-shawab. (***)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Anak Saleh (21) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

12 December 2024

Wawasan

Saudagar Reborn, Membangun Ekosistem Bisnis Persyarikatan Oleh: Suwatno Ibnu Sudihardjo, Inisiator ....

Suara Muhammadiyah

12 November 2025

Wawasan

92 Tahun Pemuda Muhammadiyah Menuju Indonesia Emas Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM T....

Suara Muhammadiyah

3 May 2024

Wawasan

Gerakan Ekonomi Berjamaah: Membangun Ketahanan Keuangan Muhammadiyah dari Ranting hingga Pusat Oleh....

Suara Muhammadiyah

17 September 2026

Wawasan

Kehendak Bebas Manusia dalam Genggaman Ilahi Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Univer....

Suara Muhammadiyah

19 September 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah