Fungsionalisasi Seni Tradisi sebagai Pendukung Pariwisata Berkemajuan

Suara Muhammadiyah

8 July 2026

98
Gema Takbir Jogja Foto Ilustrasi

Gema Takbir Jogja Foto Ilustrasi

Fungsionalisasi Seni Tradisi sebagai Pendukung Pariwisata Berkemajuan

Oleh: Mustofa W. Hasyim, Anggota LSB PWM DIY Periode 2022–2027

Muhammadiyah sejak awal dikenal sebagai gerakan tajdid yang memadukan kemurnian akidah dengan semangat memajukan peradaban. Prinsip yang sama juga tampak dalam cara Muhammadiyah memandang seni dan budaya. Seni tidak diposisikan sekadar sebagai hiburan atau ekspresi estetika, melainkan sebagai sarana dakwah, pendidikan, pembentukan karakter, serta pemberdayaan masyarakat. Dengan kata lain, seni dipilih dan dikembangkan berdasarkan pertimbangan rasionalitas dan fungsionalitas.

Pandangan tersebut terlihat dalam berbagai bentuk seni yang selama ini tumbuh di lingkungan Muhammadiyah. Seni musik, baik modern maupun tradisional, dikembangkan karena memiliki kemampuan membangkitkan semangat kemanusiaan, memperkuat perjuangan dakwah, dan menanamkan nilai-nilai sosial-keagamaan. Lagu-lagu perjuangan Muhammadiyah, Mars Sang Surya, mars organisasi otonom, lagu-lagu Maulid, seni takbiran, hingga drum band bukan sekadar pertunjukan, melainkan media pendidikan kolektif yang menumbuhkan identitas, solidaritas, dan optimisme.

Demikian pula seni baca Al-Qur'an dikembangkan karena memperkuat spiritualitas sekaligus membentuk kepekaan estetis terhadap keindahan wahyu. Seni bela diri Tapak Suci, olahraga sepak bola, kegiatan kepanduan, pendakian gunung, hingga arung jeram dipandang sebagai bagian dari pendidikan karakter yang melatih disiplin, keberanian, kepemimpinan, kerja sama, dan ketangguhan.
Begitu pula seni drama, film, seni rupa, dan sastra. Seluruhnya memperoleh tempat dalam Muhammadiyah karena mengandung nilai intelektual sekaligus memiliki fungsi edukatif. Seni menjadi media untuk membangun kesadaran kritis, menumbuhkan akhlak mulia, dan memanusiakan manusia.

Kekayaan Seni Tradisi Nusantara

Apabila dicermati lebih dalam, sebagian besar seni tradisi Nusantara sebenarnya lahir dari masyarakat yang memiliki kehidupan religius yang kuat. Seni tradisi tidak hanya menyimpan keindahan bentuk, tetapi juga mengandung nilai moral, solidaritas sosial, penghormatan terhadap kehidupan, dan ungkapan rasa syukur kepada Tuhan.

Kita mengenal Gendang Rampak dari Aceh, Gordang Sambilan Mandailing, Talempong, Rabab, dan Saluang dari Minangkabau, Zapin dari Riau, Degung Sunda, tembang Macapat Jawa, Hadrah Banjari, Madihin dari Kalimantan Selatan, Tifa dari Maluku, hingga tradisi puji-pujian di masjid dan musala. Semua menunjukkan bahwa seni dan religiositas sejak lama saling bertaut dalam kehidupan masyarakat Indonesia.

Hal yang sama juga terlihat pada berbagai seni pertunjukan rakyat seperti Kubrosiswo, Angguk, Ndolalak, Rodat, Srandul, Randai, Lenong, Ludruk, Kentrung, serta berbagai kesenian daerah lainnya. Di balik bentuk pertunjukannya tersimpan pesan moral, pendidikan sosial, semangat gotong royong, dan kebijaksanaan lokal yang dikemas secara estetis.

Transformasi Budaya, Bukan Penghapusan Budaya

Demikian pula berbagai adat istiadat masyarakat. Hampir seluruh tradisi yang berkembang di Nusantara sesungguhnya merupakan ungkapan syukur dan doa keselamatan. Ada yang berkaitan dengan siklus kehidupan manusia—kelahiran, pernikahan, dan kematian—ada pula yang mengikuti siklus pertanian, musim tanam dan panen, pergantian bulan, maupun momentum keagamaan seperti Tahun Baru Hijriah, Maulid Nabi, Ramadan, dan Idulfitri.

Di sinilah Muhammadiyah dapat memainkan peran penting melalui transformasi budaya. Bukan menghapus tradisi, melainkan memurnikan nilai-nilai yang terkandung di dalamnya agar selaras dengan ajaran Islam.

Transformasi itu dapat dilakukan secara sederhana tetapi bermakna. Sesaji diubah menjadi sedekah. Mantra diganti dengan doa. Ritual mistis diubah menjadi seremoni budaya yang edukatif. Nilai syukurnya tetap dipertahankan, tetapi bentuk pelaksanaannya disesuaikan dengan akidah Islam.

Dengan pendekatan seperti itu, lahirlah apa yang dapat disebut sebagai tradisi berkemajuan.

Menciptakan Tradisi Baru

Transformasi budaya bahkan dapat melahirkan tradisi-tradisi baru yang tetap berpijak pada sejarah dan budaya lokal.

Di Kotagede, misalnya, warga Muhammadiyah menyelenggarakan Upacara Lingsir Keprabon untuk mengenang perpindahan pusat Kerajaan Pajang ke Mataram Islam. Ada pula Upacara Ngarak Siwur sebagai penanda dimulainya kegiatan membersihkan Sendang Seliran. Karena dikemas sebagai seremoni budaya yang disertai pembacaan doa dan pembagian sedekah kepada masyarakat, kegiatan tersebut dapat diterima sebagai ekspresi budaya yang sehat dan mencerahkan.

Begitu pula Takmir Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta yang setiap 1 Syawal setelah salat Subuh menyelenggarakan tradisi makan "Jolak" atau "Oblok-oblok" sebagai simbol berakhirnya ibadah puasa Ramadan. Selama Ramadan, masyarakat juga mengadakan bazar kuliner yang menghidupkan ekonomi warga sekaligus memperkuat ukhuwah.

Tradisi-tradisi seperti ini menunjukkan bahwa budaya selalu dapat diperbarui tanpa kehilangan akar sejarahnya.

Seni Tradisi sebagai Modal Pariwisata Berkemajuan

Langkah berikutnya adalah menjadikan seni budaya dan adat tradisi yang telah mengalami proses pemurnian tersebut sebagai bagian dari pengembangan pariwisata.

Pariwisata masa depan tidak lagi cukup hanya menawarkan panorama alam. Wisatawan justru semakin tertarik pada pengalaman budaya yang autentik, edukatif, dan memiliki nilai spiritual. Seni tradisi yang dikemas secara kreatif dapat menjadi daya tarik yang memperkuat identitas daerah sekaligus menggerakkan ekonomi masyarakat.

Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk ikut mengembangkan model pariwisata berkemajuan, yakni pariwisata yang menghadirkan hiburan sekaligus pendidikan, menggerakkan ekonomi tanpa mengorbankan akidah, serta melestarikan budaya tanpa terjebak pada praktik-praktik yang bertentangan dengan ajaran Islam.

Dengan demikian, seni budaya tidak hanya dipelihara (nguri-uri kabudayan), tetapi juga dikembangkan agar memberikan manfaat sosial, ekonomi, pendidikan, dan dakwah secara bersamaan.

Inilah hakikat fungsionalisasi seni budaya berkemajuan: menjadikan seni dan adat tradisi sebagai bagian dari ekosistem dakwah, pendidikan, ekonomi kreatif, dan pariwisata yang mencerahkan.

Seni tidak berhenti sebagai warisan masa lalu, tetapi menjadi energi peradaban yang mengantarkan masyarakat menuju masa depan yang lebih berbudaya, lebih sejahtera, dan lebih berkemajuan.

Bukankah itulah hakikat Islam Berkemajuan?


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Sjafruddin Prawiranegara dan Motif Ekonomi yang Tidak Manusiawi  Oleh: Buya Anwar Abbas Setia....

Suara Muhammadiyah

30 April 2026

Wawasan

Restorasi Kemanusiaan melalui Puasa: Refleksi di Ujung Ramadhan Oleh: Dzar Fadli El Furqan, Ketua B....

Suara Muhammadiyah

28 March 2025

Wawasan

Ibu-Ibu Penjaga Negeri: Dakwah Ketahanan Pangan ala Aisyiyah Oleh: Furqan Mawardi, Ketua Lembaga Pe....

Suara Muhammadiyah

13 May 2025

Wawasan

Religiusitas yang Berbuah: Dari Ibadah Pribadi ke Kesalehan Sosial Oleh: Ahsan Jamet Hamidi –....

Suara Muhammadiyah

20 March 2026

Wawasan

Jalan Berliku Kesejahteraan Guru Oleh: Rizki Putra Dewantoro, Kader Muhammadiyah Kesejahteraan gur....

Suara Muhammadiyah

28 November 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah