Sampah Dapur Jadi Pakan Ternak dan Pupuk

Suara Muhammadiyah

20 August 2026

128
Istimewa

Istimewa

Tim UMY Bawa Komunitas Ayu Jiwa Bantul Belajar Pertanian Terintegrasi di Sleman

SLEMAN, Suara Muhammadiyah — Sisa sayur dan nasi dari dapur rumah tangga tidak harus berakhir di tempat sampah. Melalui sistem pertanian terintegrasi, limbah dapur dapat diolah menjadi pakan maggot, yang kemudian menjadi pakan ayam dan lele, hingga akhirnya kembali ke meja makan warga dalam bentuk telur, ikan, dan sayuran.

Sistem inilah yang menjadi fokus pelatihan dan kunjungan lapangan yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) bersama Komunitas Peduli Lingkungan Ayu Jiwa pada Sabtu (1/8/2026). Lebih dari 20 anggota komunitas yang berbasis di Kalurahan Bangunjiwo, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul itu belajar langsung di Kebun Bu Utiq, sebuah kebun percontohan pertanian terintegrasi di Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman.

Kegiatan merupakan bagian dari program Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat (PKM) bertajuk Model Pemberdayaan Ekonomi dan Lingkungan Berbasis Circular Economy, yang didanai hibah Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).

Bertindak sebagai pembicara utama, Sri Hastuti memaparkan cara kerja sistem pertanian terintegrasi yang telah diterapkan di kebun tersebut. Peserta memperoleh pembelajaran langsung mengenai pengelolaan ayam semi-umbar, teknik berkebun organik, pembuatan pupuk, penyiapan media tanam, hingga teknik pemeliharaan tanaman.

"Prinsipnya sederhana: tidak ada yang terbuang. Limbah dapur rumah tangga kami jadikan pakan maggot, maggotnya kami pakai untuk pakan ayam dan lele. Kotoran ayamnya diolah menjadi pupuk, dan air kolam lele kami gunakan untuk menyiram tanaman. Semuanya kembali ke kebun dalam satu siklus," jelas Sri Hastuti di hadapan peserta.

Pemilik Kebun Bu Utiq, Tri, menuturkan bahwa kebun yang dirintisnya sejak 2022 tersebut dibangun secara bertahap dari skala kecil. Menurutnya, hal terpenting bagi komunitas yang ingin memulai adalah memastikan siklusnya berjalan lebih dulu, baru kemudian menambah kapasitas secara perlahan.

"Kami memulai dari skala kecil pada 2022. Yang ingin kami tunjukkan hari ini adalah bahwa sistem seperti ini tidak harus langsung besar," ujarnya.

Dari Pengelolaan Sampah Menuju Nilai Ekonomi

Komunitas Ayu Jiwa selama ini telah menjalankan pengelolaan sampah organik secara mandiri, mulai dari pengomposan dan fermentasi sampah rumah tangga, produksi kompos padat dan pupuk organik cair, hingga produk berbasis eco-enzyme seperti sabun dan cairan pembersih ramah lingkungan. Komunitas juga mengembangkan biokonversi sampah organik menggunakan maggot (Black Soldier Fly) yang terhubung dengan peternakan ayam semi-umbar dan budidaya lele.

Meski demikian, potensi tersebut dinilai belum berkembang optimal karena keterbatasan sarana produksi, tata kelola usaha, dan jalur pemasaran produk.

Ketua Tim Pengabdian, Susilo Nur Aji Cokro Darsono, Ph.D., menyatakan bahwa program ini diarahkan untuk menjembatani kesenjangan tersebut. "Kami ingin membantu Komunitas Ayu Jiwa tidak sekadar mengelola sampah, tetapi mengubah limbah menjadi sumber daya yang menggerakkan ekonomi komunitas secara berkelanjutan — dari kompos, maggot, hingga produk pertanian dan peternakan yang terintegrasi," ujarnya.

Program ini dirancang berjalan selama delapan bulan dengan tiga fokus utama, yakni penguatan kapasitas produksi melalui optimalisasi biokonversi sampah organik, penguatan pemasaran melalui pengembangan branding dan pemasaran digital, serta peningkatan tata kelola usaha komunitas. Melalui ketiga intervensi tersebut, tim menargetkan peningkatan kapasitas produksi dan omzet penjualan produk komunitas sebesar 20 hingga 30 persen.

Pada kesempatan tersebut, Tim Pengabdian menyerahkan sejumlah hibah peralatan teknologi tepat guna kepada komunitas, di antaranya alat pencacah sampah organik dan berbagai peralatan penopang produksi lainnya. Peralatan ini diharapkan memperkuat kapasitas produksi komunitas dari hulu ke hilir sekaligus meningkatkan kualitas produk.

Ketua Komunitas Peduli Lingkungan Ayu Jiwa, Yunita Esriana, menyambut baik kegiatan tersebut. "Alhamdulillah, kami memperoleh banyak ilmu, mulai dari proses pembuatan pupuk, pembuatan media tanam, hingga teknik pemeliharaan tanaman. Pengetahuan ini menjadi bekal penting untuk mengembangkan kebun komunitas Ayu Jiwa agar lebih produktif dan berkelanjutan," katanya.

Selain ketua tim, kegiatan pengabdian ini melibatkan Sunardi, S.T., M.Eng., Ph.D. dari Program Studi Teknik Mesin UMY dan Dr. Hafiez Sofyani dari bidang Akuntansi UMY, serta mahasiswa S1 Ekonomi dan Magister Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis UMY yang memberikan pendampingan langsung di lapangan. Tim Pengabdian UMY menyatakan akan terus mendampingi komunitas melalui serangkaian pelatihan dan evaluasi berkala hingga program selesai pada akhir 2026.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Dalam rangkaian Pengajian Tahun Baru 1447 Hijriah, Pesantren Modern Muh....

Suara Muhammadiyah

12 July 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Prof. DR.HAMKA (Uhamka) menyelenggarakan Pela....

Suara Muhammadiyah

4 August 2026

Berita

BALIKPAPAN, Suara Muhammadiyah — SMK Muhammadiyah 1 Balikpapan dengan penuh rasa syukur dan ke....

Suara Muhammadiyah

23 December 2024

Berita

LAMONGAN, Suara Muhammadiyah -Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan Lamongan menggelar Rapat Ke....

Suara Muhammadiyah

27 November 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah - Keberpihakan kepada kelompok paling rentan bukan sekadar sasaran prog....

Suara Muhammadiyah

13 July 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah