Sang Surya Makin Bersinar di Bumi Karossa

Suara Muhammadiyah

13 August 2026

101
Istimewa

Istimewa

Sang Surya Makin Bersinar di Bumi Karossa

Oleh: Furqan Mawardi, Ketua LPCRPM PWM Sulawesi Barat, Dosen Universitas Muhammadiyah Mamuju 

Ada perjalanan yang jaraknya jauh, tetapi terasa dekat di hati. Ada pula perjalanan yang melelahkan tubuh, tetapi justru menghidupkan kembali semangat. Bagi saya itulah perjalanan menghadiri pengajian di tingkat akar rumput, yakni pengajian di tingkat cabang dan ranting. Kisah Perjalanan kali ini adalah kisah perjalanan ke Cabang Karossa, salah satu kecamatan paling ujung di Kabupaten Mamuju Tengah, Sulawesi Barat, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Pasangkayu.

Ahad, 9 Agustus 2026, saya bersama rombongan berangkat menuju Karossa untuk menghadiri pengajian rutin bulanan yang dilaksanakan Pimpinan Cabang Muhammadiyah Karossa. Pengajian ini rutin digelar setiap Ahad pekan kedua.

Jarak Mamuju–Karossa bukan perjalanan pendek. Dibutuhkan sekitar lima sampai enam jam perjalanan. Karena itu, kami memilih berangkat lebih awal, sekitar pukul 03.00 dini hari. Kali ini saya tidak sendiri. Beberapa santri Muhammadiyah Boarding School (MBS) Attanwir Muhammadiyah Mamuju ikut dalam perjalanan.

Saya sengaja mengajak mereka. Saya ingin mereka tidak hanya belajar tentang Muhammadiyah dari buku, ruang kelas, atau forum-forum kajian. Saya ingin mereka melihat sendiri bagaimana Muhammadiyah hidup di tengah masyarakat. Bagaimana sebuah cabang dan ranting dibangun. Bagaimana dakwah dirintis dari sedikit jamaah, kemudian tumbuh perlahan menjadi gerakan yang semakin besar.

Sebab, Muhammadiyah bukan hanya tentang gedung yang megah. Muhammadiyah adalah tentang manusia yang mau bergerak. Tentang orang-orang yang rela meluangkan waktu, tenaga, pikiran, bahkan menempuh perjalanan jauh untuk menghidupkan dakwah di tengah masyarakat.

Pukul tiga dini hari, mobil Lazismu yang kami gunakan perlahan meninggalkan Mamuju. Kota masih gelap dan jalanan juga masih sepi. Sebagian besar manusia mungkin masih terlelap dalam tidurnya. Tetapi perjalanan dakwah kami sudah dimulai.

Udara dini hari terasa dingin. Jalan yang lengang membuat perjalanan relatif lancar. Hingga azan Subuh berkumandang, kami memutuskan singgah di Masjid Nurul Huda, Kalukku. Kami menunaikan shalat Subuh, berdzikir sejenak, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Di tengah keheningan pagi, kami memutar tilawah Al-Qur'an. Suasana menjadi berbeda. Perjalanan yang semula hanya terasa sebagai perjalanan fisik perlahan berubah menjadi perjalanan spiritual. Suara ayat-ayat Allah mengiringi perjalanan kami menembus jalan panjang menuju Karossa.

Sesekali saya menyeruput kopi yang sudah saya siapkan. Kopi dalam perjalanan jauh bagi saya bukan sekadar minuman. Ia seperti teman kecil yang membantu menjaga mata tetap terbuka dan fokus ketika tubuh mulai lelah. Beberapa santri kembali tertidur namun saya mesti tetap terus mengemudi.

Perjalanan menuju Karossa memang tidak bisa dianggap ringan. Ada tanjakan, turunan, tikungan tajam, jalan yang berkelok-kelok, bahkan beberapa ruas yang di sisi kanan kirinya terdapat jurang. Sedikit lengah bisa berbahaya. Karena itu, perjalanan ke pelosok selalu mengajarkan satu hal sederhana bahwa  Dakwah membutuhkan kesungguhan, tetapi perjalanan dakwah juga membutuhkan kehati-hatian.

Sarapan Nasi Kuning Topoyo

Ketika hari mulai terang, kami tiba di Topoyo, ibu kota Kabupaten Mamuju Tengah. Perut mulai meminta haknya. Kami berhenti di sebuah warung sederhana untuk sarapan. Nasi kuning menjadi pilihan pagi itu. Makanan sederhana, tetapi terasa begitu nikmat setelah menempuh perjalanan beberapa jam. Rombongan kami berjumlah sekitar sepuluh orang. Begitu masuk, warung kecil itu langsung terasa penuh.

Pemilik warung bahkan sempat terkejut. Pagi-pagi sudah kedatangan rombongan besar. Ia kemudian mengabadikan suasana tersebut melalui foto dan video. Katanya, sekalian untuk promosi karena pagi itu warungnya langsung ramai dan laris.

Kami pun tertawa. Barangkali inilah keberkahan perjalanan. Sebelum sampai ke tempat tujuan dakwah, Allah sudah menghadirkan kebahagiaan kecil bagi orang lain. Setelah sarapan, perjalanan kembali dilanjutkan.

Tepat sekitar pukul 09.00 kami tiba di lokasi. Begitu kendaraan berhenti, wajah-wajah yang sudah menunggu langsung menyambut kami. Ada warga Muhammadiyah, ibu-ibu 'Aisyiyah, jamaah pengajian, anak-anak TPA dan para penggerak Muhammadiyah setempat. Sambutan mereka hangat. Tidak berlebihan, tetapi terasa tulus. Dan ada satu hal yang saya kagumi dari jamaah Karossa, yakni mereka menghargai waktu. Begitu kami tiba, acara langsung dimulai.

Protokol membuka acara. Kemudian dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an. Namun kali ini ada sesuatu yang menarik perhatian saya. Biasanya dalam pengajian, pembacaan Al-Qur'an sering dipercayakan kepada anak-anak TPA atau satu orang yang ditunjuk. Di Karossa, justru ibu-ibu yang tampil.

Mereka adalah para ibu-ibu yang rutin mengikuti pembinaan membaca Al-Qur'an setiap dua pekan di bawah binaan Ustadz Aswandi, Kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah alumni Universitas Muhammadiyah Mamuju yang saat ini diamanahi menjadi  Imam Besar Masjid Babussalam Muhammadiyah Karossa. Saya melihat sesuatu yang indah di sana. Dakwah ternyata tidak hanya membuat orang datang ke pengajian. Dakwah juga membuat orang berani tampil. Membuat ibu-ibu merasa percaya diri dengan Al-Qur'an.

Membuat mereka tidak hanya menjadi jamaah yang duduk mendengarkan, tetapi menjadi bagian dari gerakan itu sendiri. 

Anak-anak TPA kemudian tampil membawakan qasidah. Saya tersenyum melihatnya. Qasidah seperti ini sepertinya mulai jarang kita jumpai dalam pengajian-pengajian sekarang. Di tengah derasnya perkembangan zaman, tradisi seperti itu perlahan mulai ditinggalkan. Tetapi di Karossa, qasidah anak-anak masih dirawat. Masih diberi ruang, masih diwariskan. Dan bagi saya, ini bukan sekadar hiburan, di dalam qasidah ini ada nilai pendidikan di dalamnya. Anak-anak sedang belajar tampil. Mereka belajar percaya diri dan tentu yang utama adalah mereka belajar mencintai agamanya.

Cahaya Baru dari Kadaila

Namun, dari seluruh rangkaian kegiatan pagi itu, ada satu momen yang paling menggembirakan hati saya. Pelantikan dan pengambilan ikrar Pimpinan Ranting 'Aisyiyah Kadaila. Inilah yang membuat perjalanan panjang ke Karossa terasa begitu berharga.

Hari itu, Ibu Mariani dipercaya menjadi ketua, bersama enam orang anggota lainnya, mereka diambil janji dan ikrarnya oleh ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Karossa Ibu Hj. Anita. Acara pelantikannya cukup  sederhana. Tidak ada panggung yang mewah. Tidak ada seremoni yang berlebihan. Tetapi bagi saya, lahirnya sebuah ranting di pelosok adalah peristiwa besar. Sebab sebuah ranting adalah akar, dan sebuah gerakan yang besar hanya akan kuat apabila akarnya kuat.

Seingat saya, kini sudah ada beberapa ranting yang tumbuh di wilayah Karossa. Ada Pimpinan Ranting Muhammadiyah Karossa Pantai, Pimpinan Ranting 'Aisyiyah Lembah Hopo, dan kini bertambah lagi Pimpinan Ranting 'Aisyiyah Kadaila.

Sang Surya seperti semakin bersinar. Cahayanya perlahan menjangkau sudut-sudut bumi Karossa. Dan menariknya, justru gerakan ibu-ibu 'Aisyiyah di sini tampak begitu hidup. Barangkali ini kembali mengingatkan kita bahwa ketika perempuan bergerak, banyak hal bisa ikut terjadi.

Ketika ibu-ibu mulai mengaji, keluarga ikut berubah. Ketika ibu-ibu mulai aktif di 'Aisyiyah, anak-anak ikut belajar. Ketika ibu-ibu mulai menghidupkan ranting, masyarakat ikut merasakan manfaatnya.Maka jangan pernah meremehkan gerakan perempuan. Karena sering kali, dari tangandan gerakan merekalah perubahan besar dimulai.

Dari 7 Orang Menjadi Hampir 100

Ada satu angka yang membuat saya semakin bersyukur. Saya masih ingat ketika pengajian ini pertama kali dirintis sekitar tahun 2021. Jamaahnya hanya sekitar tujuh sampai tiga belas orang.Tidak banyak, akan tetapi mereka tidak menyerah. Pengajian terus berjalan dari pertemuan ke pertemuan.

Bulan demi bulan, ranting demi ranting mulai tumbuh. Dan hari ini, jamaahnya sudah mendekati seratus orang. Bagi saya, angka itu bukan sekadar angka. Itu adalah bukti bahwa dakwah yang dilakukan dengan shabar akan menemukan jalannya. Mungkin pada awalnya hanya tujuh orang. Kemudian sepuluh, dua puluh. Lima puluh, dan alhamdulillah perlahan saat ini sudah mendekati angka seratus.

Dakwah memang tidak selalu tumbuh seperti pohon yang langsung tinggi. Kadang ia tumbuh seperti akar. Tidak terlihat, pelan, namun tetapi terus menjalar. Sampai suatu hari kita baru sadar bahwa ternyata pohonnya sudah mulai rindang. 

Setelah prosesi pelantikan dan ikrar selesai, pengajian rutin pun dimulai,, Saya mendapat amanah untuk melanjutkan kajian tentang warisan. Ini sudah memasuki pertemuan keempat.

Kami membahas pembagian warisan sebagaimana yang Allah jelaskan dalam Surah An-Nisa' ayat 11 sampai 14. Tema ini ternyata sangat dekat dengan kehidupan masyarakat. Pertanyaan datang silih berganti. Satu pertanyaan selesai, muncul pertanyaan berikutnya. Waktu terus berjalan.

Pukul 11.30 akhirnya kajian harus kami akhiri meskipun masih ada beberapa pertanyaan yang belum sempat dibahas. Dari sini saya kembali belajar bahwa ilmu yang benar-benar dibutuhkan masyarakat adalah ilmu yang menyentuh kehidupan mereka. Bukan ilmu yang hanya berhenti di mimbar. Bukan ilmu yang hanya tersimpan di buku. Tetapi ilmu yang membantu seseorang memahami persoalan hidupnya.

Selepas salat Zuhur, kami makan siang di rumah Ibu Mansur. Sederhana, hangat, dan penuh suasana kekeluargaan. Setelah makan dan berbincang sejenak, kami pun berpamitan untuk kembali ke Mamuju.Perjalanan pulang kembali panjang. Tetapi hati saya terasa ringan. 

Tubuh mungkin lelah. Tetapi ada energi baru yang justru muncul. Saya sering ditanya, mengapa masih mau datang ke tempat yang jauh seperti Karossa? Jawabannya sederhana.

Karena saya menemukan energi itu di wajah-wajah mereka. Saya melihat semangat, saya melihat ketulusan. Saya melihat orang-orang yang mungkin tidak memiliki banyak fasilitas, tetapi memiliki kemauan besar untuk menghidupkan dan menggerakkan Muhammadiyah.

Dan bagi saya, itulah energi dakwah. Bukan fasilitas yang membuat kita terus bergerak. Tetapi wajah-wajah orang yang menunggu.  Wajah-wajah dan senyuman  jamaah yang ingin belajar. Wajah ibu-ibu yang ingin mengaji. Wajah anak-anak yang ingin tampil.

Dan wajah para penggerak yang tidak ingin Muhammadiyah hanya menjadi nama, tetapi benar-benar hadir dan memberi manfaat di tengah masyarakat.

Sang Surya yang Terus Bersinar

Hari itu, saya kembali menyaksikan satu hal penting. Muhammadiyah tidak akan pernah kekurangan cahaya selama masih ada orang-orang yang mau menyalakan lampunya. Di Kadaila, sebuah ranting 'Aisyiyah baru saja lahir. Mungkin bagi sebagian orang, itu hanya sebuah pelantikan kecil. Tetapi bagi saya, itu adalah tanda bahwa cahaya Sang Surya semakin bersinar.

Dari Mamuju menuju Karossa, dari cabang menuju ranting, dari jamaah yang hanya beberapa orang hingga mendekati seratus, semuanya mengajarkan kepada kita bahwa gerakan besar tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari sebuah pengajian kecil.

Dari tujuh orang, dari beberapa ibu yang rutin mengaji. Dari anak-anak TPA yang melantunkan qasidah. Dari seorang ustadz yang shabar membina. Dari para pengurus yang rela menghidupkan ranting hingga pelosok.

Dan dari orang-orang yang bersedia menempuh perjalanan panjang hanya untuk bertemu, berbagi ilmu, dan menguatkan silaturahmi. Karena sesungguhnya dakwah bukan tentang seberapa jauh kita pergi. Dakwah adalah tentang seberapa banyak cahaya yang kita tinggalkan setelah kita pergi.

Semoga Sang Surya Muhammadiyah terus bersinar di bumi Karossa. Bukan hanya menerangi masjid dan pengajian. Tetapi juga menerangi keluarga, mendidik generasi, menguatkan masyarakat, dan menghadirkan Islam yang mencerahkan kehidupan.

Dan semoga dari ranting-ranting kecil yang hari ini tumbuh di pelosok, kelak lahir pohon besar yang rindang, tempat banyak orang berteduh dan menemukan jalan menuju kebaikan.

Selamat kepada Pimpinan Ranting 'Aisyiyah Kadaila. Semoga amanah, semoga istiqamah, dan  Semoga menjadi akar yang kuat bagi tumbuhnya gerakan Islam berkemajuan di bumi Karossa.  Semoga cahayanya terus bersinar dan tidak pernah padam.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Kultum di Mushola PP Oleh: Khafid Sirotudin Hijrah dapat bermakna fisik (makaniyah) dan non fisik ....

Suara Muhammadiyah

27 July 2025

Wawasan

Madrasah di Tepi Sawah Oleh: Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiyah, Aktifis IPM 1988 - 1991 Kambi....

Suara Muhammadiyah

6 February 2026

Wawasan

Anak Saleh (10) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak Saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

26 September 2024

Wawasan

Oleh: Muhammad Akhyar Adnan, Dosen Prodi Akuntansi, FEB Universitas Yarsi Bahasa adalah cermin buda....

Suara Muhammadiyah

2 June 2025

Wawasan

Wasiat dan Warisan: Memahami Hak Perempuan dalam Perspektif Al-Qur'an Oleh: Donny Syofyan/Dosen Fak....

Suara Muhammadiyah

16 April 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah