Satu-Satunya dari PTMA, Dosen UMY Raih Fellowship JFSEAP di Jepang

Suara Muhammadiyah

12 October 2026

53
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Dosen Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Filosa Gita Sukmono, terpilih mengikuti Visiting Fellowship Japan Foundation Southeast Asia Partnership (JFSEAP) di Center for Southeast Asian Studies (CSEAS), Kyoto University, Jepang. Melalui program ini, Filosa meneliti perubahan praktik produksi film di Asia Tenggara dan Jepang di tengah perkembangan kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI).

Filosa menjadi salah satu akademisi Indonesia yang terpilih dalam program fellowship kompetitif tersebut. Sementara itu, ia menjadi peneliti dari Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah (PTMA) yang mengikuti program JFSEAP. Keikutsertaannya sekaligus membuka peluang memperluas jejaring akademik internasional bagi peneliti Muhammadiyah.

“Program ini memberikan kesempatan kepada peneliti dari negara-negara Asia Tenggara untuk melakukan riset di institusi mitra di Jepang. Alhamdulillah, saya mendapat kesempatan untuk menjalankan penelitian di Kyoto University,” ungkap Filosa kepada Suara Muhammadiyah, Senin (11/10).

Program fellowship yang dijalaninya berlangsung selama empat bulan, mulai Oktober 2026 hingga akhir Januari 2027. Dalam program tersebut, Filosa berkolaborasi dengan akademisi di CSEAS Kyoto University untuk mengembangkan penelitian komparatif mengenai pengaruh AI terhadap produksi film di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara dibandingkan dengan Jepang.

Ketertarikan akademisi Kyoto University terhadap riset yang dikembangkan Filosa menjadi salah satu pintu masuk kolaborasi tersebut. Ia kemudian menyusun proposal penelitian dan mengikuti tahapan seleksi JFSEAP hingga dinyatakan diterima.

Penelitian ini berangkat dari perubahan besar dalam industri film akibat penggunaan teknologi AI. Teknologi tersebut mulai dimanfaatkan dalam berbagai tahapan produksi, mulai dari pengembangan naskah, pravisualisasi, penyuntingan, efek visual, hingga pascaproduksi. Perkembangan itu membuka peluang baru bagi pekerja kreatif, sekaligus memunculkan pertanyaan mengenai proses kreatif, kepengarangan, etika, ketenagakerjaan, dan identitas artistik.

Melalui pendekatan komparatif, Filosa ingin memahami bagaimana pembuat film dan praktisi kreatif di Asia Tenggara dan Jepang mengadopsi serta memaknai teknologi AI dalam pekerjaan mereka. Penelitian ini turut menelaah bagaimana perbedaan lingkungan teknologi, industri film, dan konteks budaya memengaruhi penggunaan AI dalam proses produksi.

“Penelitian saya berfokus pada bagaimana AI memengaruhi produksi film, baik di Indonesia maupun di kawasan Asia Tenggara dan Jepang. Saya ingin melihat bagaimana teknologi ini digunakan, apa tantangannya, serta bagaimana pengaruhnya terhadap proses kreatif dan praktik produksi film,” jelasnya.

Selain aspek teknis, penelitian tersebut juga memberi perhatian pada implikasi budaya dan etika. Penggunaan AI dalam produksi film tidak hanya menyangkut efisiensi teknologi, tetapi juga berkaitan dengan pengambilan keputusan kreatif, peran manusia dalam proses produksi, serta bagaimana identitas dan ekspresi budaya dipertahankan di tengah perubahan teknologi.

JFSEAP merupakan program kemitraan Japan Foundation yang bertujuan memperkuat kolaborasi intelektual, membangun jejaring, dan mendukung penelitian bersama antara Jepang dan negara-negara Asia Tenggara. Program ini menjadi bagian dari upaya mendorong pertukaran akademik dan pembahasan berbagai persoalan global, termasuk kecerdasan artifisial, perubahan iklim, ketahanan energi, keamanan ekonomi, dan kesehatan publik.

Filosa menjelaskan bahwa proses seleksi program tersebut cukup kompetitif. Tahapan seleksi mencakup penilaian administrasi, proposal penelitian, dan riwayat akademik atau curriculum vitae (CV), dilanjutkan dengan wawancara bersama panel profesor dari Jepang. Dalam wawancara tersebut, kandidat diminta mempresentasikan sekaligus mempertahankan gagasan penelitiannya dalam bahasa Inggris.

“Selain proposal yang kuat, CV juga perlu menunjukkan rekam jejak akademik yang mendukung. Setelah seleksi administrasi, ada wawancara dengan enam profesor dari berbagai perguruan tinggi di Jepang. Suasananya cukup menegangkan karena kita harus menjelaskan dan mempertahankan proposal dalam bahasa Inggris,” ujarnya.

Menurut Filosa, kesempatan mengikuti fellowship ini penting bagi pengembangan riset serta menjadi ruang untuk memperkenalkan UMY dan Muhammadiyah dalam ekosistem akademik internasional. Kolaborasi dengan peneliti Jepang diharapkan dapat memperluas pertukaran pengetahuan, membuka peluang kerja sama riset lanjutan, serta memperkuat hubungan akademik lintas negara.

Ia juga mengapresiasi dukungan UMY terhadap pengembangan kapasitas dosen dan peneliti untuk terlibat dalam jejaring internasional. Dukungan tersebut dinilai penting agar akademisi perguruan tinggi Muhammadiyah dapat berkontribusi dalam diskusi global sekaligus membawa pulang pengetahuan dan pengalaman yang bermanfaat bagi pengembangan pendidikan serta penelitian di kampus.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KLATEN, Suara Muhammadiyah - Universitas ‘Aisyiyah Surakarta adalah amal usaha ‘Aisyiyah....

Suara Muhammadiyah

28 April 2025

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Ratusan sobat cilik Lazismu mendapatkan perlengkapan alat tulis sekola....

Suara Muhammadiyah

10 March 2026

Berita

PALEMBANG, Suara Muhammadiyah – Majelis Pendidikan Tinggi Penelitian dan Pengembangan Pimpinan....

Suara Muhammadiyah

9 February 2026

Berita

PALANGKARAYA, Suara Muhammadiyah - Badan Usaha Milik Ikatan Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Kalimantan ....

Suara Muhammadiyah

2 May 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Di era digital ini, perempuan harus mampu beradaptasi dengan teknologi....

Suara Muhammadiyah

28 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah