Papan Permainan Anti-Bullying Hingga Pengolah Limbah Batik: Siswa SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta Borong Penghargaan di IYIA 2026
JAKARTA, Suara Muhammadiyah— Tiga tim peneliti muda dari SD Muhammadiyah Sapen Yogyakarta memborong penghargaan di ajang internasional International Young Inventors Award (IYIA) 2026 yang digelar di SMESCO Jakarta, 3–6 Oktober 2026. Menghadapi ratusan inovator muda dari berbagai negara, para siswa sekolah dasar ini sukses menyabet satu Medali Emas, dua Medali Perak, dan satu penghargaan khusus Best Prize for The Most Creative Idea.
Capaian paling menonjol diraih oleh Tim BECIK yang menyabet Medali Emas pada kategori Social Science, Environmental Protection, and Agriculture, sekaligus dinobatkan sebagai pemilik Best Prize for The Most Creative Idea. Tim yang digawangi Arkatama Shifan Winatra, Lintang Sari Wardana, Nabil Alfarizqi, Elmyra Shanum Prasia, dan Cakra Kalani Al Ghifari ini merancang permainan papan (board game) interaktif untuk menekan angka perundungan sejak dini.
Melalui board game BECIK, pemain ditantang menyelesaikan berbagai skenario perundungan menggunakan Empathy Card dan Action Card. Karakter Pandawa Lima dan nilai-nilai budaya Jawa turut dibenamkan dalam permainan untuk mengajarkan kepedulian secara alami. Atas setiap respons berempati, pemain berhak mendapatkan Love Coin (Koin Cinta).
Lahirnya BECIK dilatarbelakangi maraknya perundungan di lingkungan sekolah. Data BPS (2021) mencatat 26,8% siswa kelas 5 SD di Indonesia pernah menjadi korban perundungan, sementara survei PISA 2018 OECD menunjukkan 41,1% siswa berusia 15 tahun mengalami perundungan berkala. Melalui pendekatan permainan, BECIK hadir sebagai media edukasi yang menyenangkan ketimbang imbauan lisan yang sering kali membosankan bagi anak.
Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), Dr. Diyah Puspitarini, S.Pd., M.Pd., memberikan apresiasinya usai menerima audiensi Tim BECIK di kantor KPAI Pusat, Menteng. Apresiasi serupa disampaikan Staf Khusus Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Didik Suhardi, Ph.D., yang menilai permainan ini efektif melatih komunikasi dan mempererat pertemanan. Untuk meluaskan dampaknya, Tim BECIK kini menggandeng Dikdasmen PNF PDM Kota Yogyakarta, Hope Institute, dan FKIP Universitas Ahmad Dahlan dalam diseminasi karya.
Dua tim inovator cilik lainnya dari SD Muhammadiyah Sapen juga melengkapi dominasi sekolah tersebut dengan meraih Medali Perak:
Tim KIDSAFEHUB (Medali Perak)
Inovator: Nolan Afhamiza & Razka Abrysham Utomo
Karya: KIDSAFEHUB: A Raspberry Pi-Based Per-Child DNS Policy Gateway for Family Internet Safety — Perangkat perlindungan internet keluarga berbasis Raspberry Pi yang mampu menyaring konten digital sesuai usia anak secara personal.
Tim BATIKFIX (Medali Perak)
Inovator: Sheenaz Mutia Abidah, Alesha Janitra Maheswari, & Hasna Sofia Azzahra
Karya: BATIKFIX: A Green Technology Approach for Reducing Dye Pollution in Batik Industry Wastewater — Solusi teknologi hijau ramah lingkungan untuk mengolah limbah cair zat pewarna sintetis dari industri batik.
Kepala SD Muhammadiyah Sapen, Agung Rahmanto, S.H., M.Pd., menegaskan bahwa keberhasilan murid-muridnya membuktikan kemampuan anak usia sekolah dasar dalam merumuskan solusi atas masalah nyata di sekitar mereka, mulai dari isu sosial, keamanan ruang siber, hingga kelestarian lingkungan.

