YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Denyut nadi kesejarahan Nasyiatul Aisyiyah pada awalnya sebagai wadah kaderisasi bagi para kader perempuan-perempuan muda. Adalah penting, hal demikian itu dapat meneruskan perjuangan ‘Aisyiyah berikutnya.
“Jadi Nasyiah hadir salah satunya untuk kebutuhan mendidik, membina, dan juga menggerakkan generasi perempuan muda Muhammadiyah dalam perjuangan dakwah,” ujar Salmah Orbayinah, Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah.
Cikal bakal Nasyiatul Aisyiyah (NA) bermula dari lingkungan ‘Aisyiyah. Pada 1919, dibentuk perkumpulan bernama Siswo Proyo Wanito (SPW) sebagai wadah pembinaan dan pengembangan generasi muda perempuan. Dalam perjalanannya, pada 1931, SPW kemudian berubah menjadi Nasyiatul Aisyiyah.
“Ini menjadi bukti kepedulian 'Aisyiyah, bahwa perjuangan membangun umat tidak cukup hanya dilakukan oleh generasi senior atau generasi dewasa, tetapi juga harus disiapkan sejak dini oleh para generasi muda perempuan,” tegasnya, Jumat (2/10) saat Ta’aruf PP Nasyiatul Aisyiyah periode 2026-2030 di SM Tower Malioboro Yogyakarta.
Salmah menyebut, perjuangan yang dirintis Nasyiatul Aisyiyah ihwal pendidikan dan kaderisasi sejak awal sampai sekarang, masih terawat dengan baik. Demikian Salmah mengapresiasi usaha yang dilakukan Nasyiatul Aisyiyah tersebut.
“Insya Allah ini juga akan menjadi amal jariah bagi para pendahulu karena meninggalkan salah satu organisasi besar yaitu Nasyiatul Aisyiyah. Yang sampai saat ini terus tumbuh, berkembang, semakin besar, dan semakin dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Salmah menaruh harapan kepada para pengurus baru PP Nasyiatul Aisyiyah periode 2026-2030 agar dapat menjaga bangunan ortom ini sebagaimana semestinya. Bersamaan dengan itu, harus menjalankan mandat dengan penuh pertanggungjawaban tinggi.
“Ini adalah suatu amanah yang tidak mudah, komitmen dan tentunya kesiapan kalian semuanya untuk melanjutkan estafet perjuangan,” tekan.
Semangat berdakwah pun, juga dipinta Salmah diejawantahkan secara saksama, sehingga bisa dirasakan manfaatnya oleh masyarakat luas. “Seluruhnya adalah harus melanjutkan komitmen, semangat untuk berjuang di dalam dakwah,” sambungnya.
Lebih jauh lagi, Salmah menggarisbawahi, menjalankan kepemimpinan di Nasyitul Aisyiyah, khsuusnya, secara umum dikategorisasikan sebagai menjalankan kepemimpinan bersifat melayani (servant leadership).
“Jadi bukan hanya sekadar untuk memimpin, tetapi memang melayani umat. Dan saya kira di 'Aisyiyah dan semua orom-orom Muhammadiyah, memang ya kita memimpin ini untuk melayani,” bebernya. (Cris)

