SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Sekolah Ideologi Muhammadiyah menyelenggarakan Malam Muhasabah Ideologi sebagai ikhtiar penguatan ruh ideologis kader Muhammadiyah. Kegiatan ini menghadirkan narasumber utama Ust. Faturahman Kamal, Lc., M.Si., Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Tema yang diusung adalah Tazkiyatun Nafs: Menguatkan Ruhul Jihad dan Ruhul Ikhlas dalam Bermuhammadiyah, yang menjadi refleksi mendalam atas komitmen ideologis dan spiritual kader persyarikatan.
Dalam pemaparannya, Ust. Faturahman Kamal menyampaikan tiga esensi utama tazkiyatun nafs. Pertama, kemurnian tauhid yang diwujudkan dengan keberanian untuk jujur pada diri sendiri dan menjauhi sikap munafik. Tauhid yang murni, menurutnya, menuntut keselarasan antara keyakinan, ucapan, dan perbuatan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk dalam aktivitas bermuhammadiyah.
Esensi kedua adalah tauhid yang menggerakkan, yakni tauhid yang melahirkan keberanian untuk beramar makruf nahi munkar. Amanah jabatan apa pun yang sedang Allah titipkan—baik di ruang publik maupun di internal Muhammadiyah—harus menjadi medan perjuangan nilai, bukan sekadar posisi. Tauhid tidak boleh berhenti sebagai konsep, tetapi harus hidup dalam keputusan dan tindakan nyata.
Esensi ketiga yang ditekankan adalah pentingnya kasih sayang terhadap keluarga. Ust. Faturahman mengingatkan bahwa kesibukan dakwah dan aktivitas organisasi tidak boleh menjadi alasan untuk melupakan keluarga. Keluarga adalah ruang awal pembentukan keikhlasan dan keutuhan ruh jihad seorang kader.
Ust. Faturahman Kamal didampingi Direktur Sekolah Ideologi Muhammadiyah, Dr. Hardi Santosa, M.Pd., yang kemudian memandu sesi refleksi tazkiyatun nafs. Sebagai konselor Islami yang menekuni bidang konseling profetik, Ust. Hardi membawa peserta pada suasana hening dan nyaman untuk melakukan deep talk dengan diri sendiri. Peserta diajak memasuki kondisi reflektif melalui teknik relaksasi dan self-hypnosis, berdialog dengan anggota tubuh—mulai dari mata hingga anggota tubuh lain—yang mungkin selama ini belum digunakan secara amanah dan adil sesuai ridha Allah Swt.
Refleksi dilanjutkan dengan sesi berbagi antarpeserta, di mana mereka diminta menyebutkan tiga orang yang selama ini berperan besar dalam kesuksesan hidupnya. Suasana menjadi sangat emosional; beberapa peserta tampak terisak dan menangis ketika menyadari bahwa kesibukan dan aktivitasnya kerap membuat mereka lalai terhadap pengorbanan orang-orang terdekat.
Pada dini hari, kegiatan dilanjutkan dengan salat tahajud berjamaah, kajian ayat-ayat pilihan, serta tausyiah ideologi oleh Ketua MPKSDI PWM DIY, Ust. Andi Putra Wiyaja, S.E., M.S.I. Ia menegaskan bahwa ideologi yang kuat bukan sekadar cara pandang, tetapi harus bersenyawa dalam tata pikir dan perilaku yang konsisten. Ideologi sejati melahirkan integritas, keberanian memilih kebenaran di persimpangan jalan, dan keteguhan untuk hanya bergantung kepada Allah Swt.
Sementara itu, Ketua PWM DIY Ust. Dr. Ikhwan Ahada, M.Ag., saat dihubungi secara terpisah, menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan Sekolah Ideologi Muhammadiyah. Menurutnya, persoalan ideologi adalah persoalan fundamental yang tidak bisa dibangun secara instan. Seorang ideolog akan senantiasa hadir menjaga marwah gerakan dan persyarikatan melalui pola pembinaan yang sistematis dan ekosistem yang sehat. Ia menilai kegiatan Muhasabah Ideologi ini sebagai salah satu ikhtiar strategis untuk merawat ruhul jihad di tengah tantangan dakwah yang semakin kompleks.

