JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) resmi mengukuhkan dua Guru Besar dalam Sidang Terbuka Senat yang berlangsung di Auditorium dr. Syafri Guricci Fakultas Kedokteran dan Kesehatan UMJ, pada Selasa (13/05/2026). Dua Guru Besar tersebut diantaranya Prof. Dr. Diah Andika Sari, M.Pd., dan Prof. Ir. Nelfiyanti, S.T., M.Eng., Ph.D.
Pengukuhan berjalan dengan khidmat. Keempatnya dikukuhkan oleh Ketua Senat UMJ Prof. Dr. Azhari Aziz Samudra, M.Si. didampingi Rektor UMJ Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si.
Ma’mun menyampaikan bahwa saat ini proses pengurusan guru besar semakin menantang. UMJ mengalami penurunan jumlah guru besar dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2023, UMJ berhasil melahirkan delapan guru besar, kemudian tujuh guru besar pada 2024, dan empat guru besar pada 2025, sementara hingga 2026 belum ada penambahan guru besar baru. Meski demikian, UMJ tetap berkomitmen menjaga dan mendorong dosen-dosennya untuk mencapai jabatan akademik tertinggi tersebut.
“Saat ini UMJ memiliki lebih dari 90 dosen dengan jabatan Lektor Kepala. Setidaknya ada gambaran sekitar dua atau tiga guru besar baru yang akan lahir pada 2026,” ujarnya.
Ia juga menyoroti orasi ilmiah kedua profesor yang dikukuhkan. Menurutnya, orasi Prof. Diah mengangkat keresahan para orang tua masa kini, khususnya terkait tantangan anak yang semakin bergantung pada teknologi. Sementara itu, orasi Prof. Nelfi dinilai sangat menarik karena menekankan bahwa kemajuan teknologi seharusnya mampu meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan justru menggantikan peran manusia.
“Selamat kepada dua guru besar yang dikukuhkan hari ini. Ini merupakan pencapaian yang luar biasa, terlebih keduanya menjalani proses pengurusan guru besar secara diam-diam dan penuh kerendahan hati. Saya kira ini bisa menjadi teladan serta inspirasi bagi dosen-dosen UMJ lainnya,” ujar Ma’mun.
Kepala Bagian Umum Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III Tri Munanto, S.E., M.Ak., mengatakan bahwa pencapaian ini menjadi kebanggaan bukan hanya untuk guru besar yang dikukuhkan tetapi juga bagi LLDIKTI Wilayah III. Menurutnya penambahan guru besar bukan sekadar menambah angka statistik, melainkan juga menjadi suntikan baru bagi penguatan ekosistem akademik di lingkungan LLDIKTI Wilayah III.
Ia menilai, bidang keilmuan yang diusung kedua guru besar tersebut mencerminkan keseimbangan antara fondasi manusia dan sistem kerja. Meski terlihat berbeda, keduanya memiliki tujuan yang sama, yakni mendorong kesejahteraan manusia.
“Gelar guru besar bukanlah garis finis, tetapi membawa tanggung jawab moral yang lebih besar. Saya berharap setelah pengukuhan ini, para guru besar dapat menjadi motor penggerak bagi dosen-dosen muda di UMJ. Jadilah mentor yang inklusif, jangan sampai ilmu berhenti di meja perpustakaan,” ujarnya.
Tri juga menegaskan bahwa tantangan institusi pendidikan ke depan semakin berat, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan (AI) hingga tuntutan relevansi lulusan dengan dunia kerja. Karena itu, UMJ membutuhkan pemikiran segar dari para guru besarnya untuk menjawab tantangan tersebut.
Wakil Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah Prof. Dr. Jamhari Makruf, M.A., menyampaikan bahwa inti dari orasi ilmiah yang disampaikan kedua guru besar adalah pentingnya kembali mendidik manusia secara utuh. Dalam dunia akademik, pengukuhan profesor adalah selebrasi atas prestasi ilmiah yang patut disyukuri.
Menurutnya, tingkat kecerdasan manusia (IQ) secara global terus meningkat dari generasi ke generasi, meski dalam satu dekade terakhir mengalami penurunan akibat pengaruh teknologi dan media sosial. Karena itu, kondisi tersebut perlu dibenahi secara serius agar tidak menimbulkan dampak buruk di masa depan.
“Perguruan tinggi di mana pun sangat bergantung pada kualitas dosennya. Bahkan, sekitar 80 persen kualitas perguruan tinggi ditentukan oleh dosen, baik dari perankingan maupun sitasi ilmiah yang dihasilkan,” jelasnya.
Prof. Dr. Diah Andika Sari, M.Pd., ditetapkan menjadi Guru Besar UMJ dari Fakultas Ilmu Pendidikan UMJ dalam Ranting Ilmu Kepakaran Perkembangan Motorik Anak Usia Dini. Penetapan ini berdasarkan Surat Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Nomor 5333/LL3/DT.04.01/2025 terhitung tanggal 16 Desember 2025.
Prof. Ir. Nelfiyanti, S.T., M.Eng., Ph.D., ditetapkan menjadi Guru Besar UMJ dari Fakultas Teknik UMJ dalam Ranting Ilmu Kepakaran Ergonomi dan Manufaktur. Penetapan ini berdasarkan Surat Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi Wilayah III Nomor 5336/LL3/DT.04.01/2025 terhitung tanggal 16 Desember 2025.
Pengukuhan ini menambah daftar Guru Besar UMJ sekaligus menegaskan langkah strategis universitas dalam memperkuat budaya akademik, riset inovatif, dan kontribusi keilmuan di tingkat nasional maupun global.
Dorong Revitalisasi Motorik Anak
Prof. Dr. Diah Andika Sari, M.Pd., membawakan orasi ilmiah berjudul “Kedaulatan Jasmani: Melalui Revitalisasi Fondasi Motorik Anak Berbasis Budaya Lokal di Tengah Hegemoni Digital.” Menurutnya, di tengah derasnya arus digital, anak-anak kini semakin akrab dengan layar gawai dibanding ruang bermain. Kondisi tersebut memunculkan pentingnya mengembalikan anak pada gerak, permainan, dan pengalaman fisik yang nyata.
Guru Besar ranting ilmu/kepakaran Perkembangan Motorik Anak Usia Dini Fakultas Ilmu Pendidikan UMJ ini menyoroti bagaimana kemajuan teknologi perlahan mendisrupsi pola aktivitas anak. Anak-anak kini lebih sering berinteraksi dengan layar dibanding lingkungan fisik di sekitarnya.
“Pesatnya perkembangan teknologi mendisrupsi pola aktivitas anak, menciptakan ketergantungan pada layar dan mengurangi ruang gerak alami anak,” ujar Diah dalam orasinya.
Menurutnya, kondisi tersebut memunculkan fenomena sedentary behavior atau perilaku minim gerak yang berdampak pada penurunan kualitas tumbuh kembang anak. Tidak hanya kesehatan fisik, tetapi juga perkembangan motorik, kognitif, hingga kematangan emosional.
Ia menjelaskan bahwa kurangnya stimulasi gerak pada masa golden age berpotensi menghambat pembentukan arsitektur saraf anak secara optimal. Karena itu, perkembangan motorik harus kembali ditempatkan sebagai fondasi utama perkembangan anak usia dini.
Dalam pemaparannya, Diah mengungkapkan adanya kesenjangan antara teori perkembangan anak dengan praktik pendidikan di lapangan. Secara teoritis, perkembangan fisik-motorik telah lama ditempatkan sebagai fondasi pembelajaran. Namun pada praktiknya, pendidikan anak usia dini justru lebih banyak berorientasi pada kemampuan akademik.
“Meski para ahli sepakat bahwa motorik adalah ‘nutrisi otak’, kenyataannya 92 persen aktivitas tambahan anak usia dini justru difokuskan pada kemampuan kognitif seperti membaca, menulis, dan berhitung,” ungkapnya.
Ia menilai kondisi tersebut menjadi kritik terhadap pendekatan pendidikan modern yang tanpa disadari melahirkan generasi yang lincah secara digital melalui scrolling dan swiping, tetapi mengalami pelambatan gerak tubuh.
Di tengah kondisi tersebut, Diah menekankan pentingnya keterlibatan keluarga dan sekolah dalam membangun keseimbangan aktivitas digital anak. Konsep digital parenting dan neuroparenting, menurutnya, menjadi bagian penting untuk mengurangi ketergantungan layar sekaligus membangun pengalaman gerak yang nyata bagi anak.
“Teknologi harus dimanfaatkan sebagai katalis pembelajaran, bukan pengganti pengalaman nyata anak,” katanya.
Selain keluarga dan sekolah, budaya lokal juga menjadi bagian penting dalam gagasan “Kedaulatan Jasmani” yang diusungnya. Diah memandang permainan tradisional dan tari daerah bukan sekadar warisan budaya, melainkan media pembelajaran motorik yang kontekstual dan bermakna.
Penelitian yang dipaparkannya menunjukkan bahwa pembelajaran tari tradisional berbasis bermain gerak mampu meningkatkan kemampuan motorik kasar, koordinasi tubuh, keseimbangan, kreativitas gerak, hingga rasa percaya diri anak. Anak-anak juga dinilai lebih antusias ketika pembelajaran dikemas melalui pendekatan bermain, bercerita, dan eksplorasi gerak kreatif.
“Budaya lokal tidak hanya berfungsi sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai media pembelajaran konkret yang kaya stimulasi perkembangan anak usia dini,” tuturnya.
Diah juga menegaskan bahwa pengembangan motorik anak usia dini membutuhkan pendekatan holistik integratif yang melibatkan keluarga, sekolah, lingkungan, budaya lokal, dan teknologi secara bersamaan.
Melalui konsep embodied cognition, ia mengajak masyarakat untuk membangun pemahaman anak melalui pengalaman tubuh yang nyata. Bagi Diah, anak-anak Indonesia tidak cukup hanya unggul secara akademik dan digital, tetapi juga harus tumbuh sehat, kreatif, adaptif, resilien, dan memiliki identitas kebangsaan yang kuat.
“Mengembalikan kedaulatan tubuh anak Indonesia adalah ikhtiar bersama agar mereka tumbuh menjadi generasi tangguh yang berakar pada budaya, namun tetap unggul menghadapi kemajuan zaman,” ujarnya.
Ergonomi Jadi Fondasi Industri Manusiawi
Dalam orasi ilmiahnya yang berjudul ''Ergonomi Dalam Manufaktur Modern: Membangun Sistem Produksi Yang Manusiawi, Efisien Dan Berkelanjutan'', Prof. Ir. Nelfiyanti, S.T., M.Eng., Ph.D., menegaskan bahwa ergonomi kini menjadi isu strategis dalam perkembangan industri modern. Menurutnya, masa depan manufaktur tidak cukup hanya bertumpu pada teknologi dan efisiensi, tetapi harus mampu menyeimbangkan teknologi, produktivitas, keberlanjutan, serta kapasitas manusia sebagai pusat utama sistem produksi.
“Kemajuan teknologi seharusnya meningkatkan kualitas hidup manusia, bukan menggantikannya,” ujarnya.
Nelfiyanti menjelaskan bahwa paradigma ergonomi telah mengalami perubahan signifikan, dari pendekatan lama yang bersifat reaktif dan korektif setelah cedera menjadi pendekatan modern yang proaktif, preventif, dan partisipatif. Dalam paradigma baru ini, pekerja tidak lagi diposisikan sebagai objek pengukuran semata, melainkan sebagai subjek aktif yang terlibat langsung dalam perancangan solusi ergonomi di lingkungan kerja.
"Pekerja bukan lagi objek pengukuran, tetapi subjek yang terlibat aktif dalam membangun solusi ergonomi,” jelasnya.
Ia memaparkan bahwa ergonomi modern mencakup tiga dimensi utama, yaitu ergonomi fisik yang berfokus pada kesesuaian stasiun kerja melalui pendekatan antropometri, biomekanika, dan evaluasi postur, kemudian ergonomi kognitif yang menitikberatkan pada pencegahan human error melalui pengelolaan beban mental serta interaksi manusia dan mesin, serta ergonomi makro yang berkaitan dengan tata kelola organisasi, kebijakan kerja, target waktu, dan struktur kerja. Ketiga dimensi tersebut, menurutnya, harus terintegrasi dalam satu sistem terpadu untuk menciptakan keberlanjutan manusia di lingkungan industri.
Sebagai bentuk implementasi nyata, Nelfiyanti memperkenalkan konsep human sustainability melalui indikator kinerja utama yang mencakup indeks kelelahan pekerja, prevalensi risiko postural, dan indeks stabilitas tenaga kerja. Konsep ini dinilai penting agar keberlanjutan manusia dalam industri tidak hanya menjadi wacana, melainkan dapat diukur secara konkret.
Dalam menghadapi era Industri 5.0, ia juga menyoroti pentingnya transformasi menuju ergonomi prediktif melalui pemanfaatan wearable sensors, digital twins, dan machine learning untuk memprediksi kelelahan pekerja secara real time. Selain itu, ia mengingatkan munculnya ancaman baru berupa beban kognitif digital akibat kompleksitas antarmuka teknologi yang semakin tinggi.
“Masa depan manufaktur adalah kembalinya manusia sebagai pusat desain industri. Sistem produksi, harus tunduk pada kodrat fisiologis dan kognitif manusia agar tercipta industri yang tidak hanya cepat dan efisien, tetapi juga adil, manusiawi, dan berkelanjutan,” tambahnya.
Menurutnya, implikasi strategis ke depan menuntut evaluasi ergonomi sebagai syarat mutlak dalam setiap keputusan industri, keterlibatan pekerja sebagai sensor utama dalam desain ulang sistem produksi, serta redefinisi regulasi keselamatan kerja dari sekadar prosedural menuju kebijakan berbasis hasil.
“Produktivitas tanpa kemanusiaan adalah keruntuhan yang tertunda,” tegasnya.
Pengukuhan ini menjadi tonggak penting bagi UMJ dalam memperkuat kontribusi akademik di bidang teknik, khususnya dalam pengembangan ergonomi dan manufaktur modern yang berorientasi pada keseimbangan antara teknologi dan kemanusiaan.

