BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Dunia kefarmasian saat ini tidak lagi sekedar mencetak label dan menyerahkan obat kepada pasien. Saat ini perkembangannya sudah jauh maju. Perkembangan tersebut dipengaruhi karena teknologi, hukum, dan keahlian klinis manusia itu sendiri.
"Profesi ini telah berevolusi menjadi sistem kompleks yang didorong oleh kecanggihan digital, dibatasi hukum yang ketat, dan dihidupkan oleh keahlian klinis manusia," ujar akademisi sekaligus content creator Dila Anggraeni pada Seminar Nasional Himprofar UM Bandung pada Rabu (29/07/2026).
Acara yang berlangsung di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan, lantai tiga kampus UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, itu bertajuk "Navigasi Farmasi Modern: Persimpangan Antara Teknologi, Regulasi, dan Realitas Profesi".
Dalam pemaparannya, dia menjelaskan bahwa integrasi teknologi digital menjadi penggerak utama perubahan sistem farmasi saat ini. "Kita memanfaatkan kecerdasan buatan atau AI untuk memprediksi interaksi obat, mempercepat penemuan obat baru, serta mengoptimalkan otomatisasi robotik dan telepharmacy guna menekan resiko human error," tuturnya.
Meski demikian, Dila mengingatkan bahwa pesatnya digitalisasi saat ini tetap harus dibatasi oleh regulasi yang ketat agar tetap sesuai dengan sebagaimana mestinya. "Sektor kesehatan menuntut transisi dari sistem AI kotak hitam menuju sistem berbasis aturan klinis yang transparan dan dapat diaudit demi keamanan pasien," tegas Dila.
Pada sisi lain, dia tidak menampik bahwa para praktisi di lapangan masih dihadapkan pada berbagai tantangan nyata. "Misalnya beban kerja yang tinggi kerap memicu kelelahan ekstrim atau burnout. Sementara itu, kurikulum pendidikan farmasi juga dituntut untuk lebih responsif dan adaptif terhadap literasi teknologi dan etika AI," ungkapnya.
Pelayanan Klinis
Selain itu, dia juga menggarisbawahi terjadinya pergeseran peran apoteker yang kini lebih berfokus pada pelayanan klinis dibandingkan dengan urusan logistik semata. "Otomatisasi membebaskan apoteker dari pekerjaan manual sehingga kami bisa fokus memberikan konseling empatik, edukasi pasien, dan berkolaborasi bersama dokter," jelasnya.
Namun, menurutnya, proses verifikasi manual dan pengecekan berlapis di apotek tetap tidak bisa dihilangkan begitu saja. "Pengecekan riwayat alergi hingga penolakan pembelian antibiotik tanpa resep merupakan bukti nyata bahwa sentuhan dan keputusan manusia tidak dapat digantikan oleh mesin," tambahnya.
Sebagai penutup, dia menegaskan bahwa kunci utama dalam menghadapi era baru ini terletak pada keseimbangan seluruh elemen. "Navigasi farmasi modern adalah tentang bagaimana menggunakan teknologi yang cerdas untuk efisiensi, mematuhi regulasi demi keselamatan, dan mempertahankan kepedulian apoteker sebagai fondasi utama penyembuhan," pungkasnya.
Seminar tersebut menjadi puncak perayaan Dies Natalis Himpunan Mahasiswa Farmasi (Himprofar) Universitas Muhammadiyah Bandung yang ke-9. Wakil Ketua Himprofar Ahlamah Syifaul Fatinah mengatakan bahwa perjalanan Himprofar hingga saat ini menjadi bukti semangat dan kreativitas dalam perkembangan mahasiswa Farmasi UM Bandung.
”Perjalanan sembilan tahun Himprofar ini menunjukkan bahwasannya kita memiliki semangat dan komitmen untuk terus memberikan kontribusi dan juga berkembang bagi mahasiswa Farmasi,” katanya.
Pada waktu yang sama, Ketua Prodi Farmasi UM Bandung Mutiara Imansari mengapresiasi kegiatan ini. Menurutnya, kegiatan Himprofar ini sangat bermanfaat karena memberikan berbagai informasi penting dalam membantu mahasiswa beradaptasi di era teknologi saat ini. ”Tidak hanya itu, kegiatan ini juga menjadi kolaborasi dan membangun relasi yang positif di antara akademisi dari kampus lain,” imbuhnya.*(FK)

