Siapa yang Sebenarnya Membesarkan Anak Kita: Orang Tua atau Algoritma?

Suara Muhammadiyah

2 October 2026

254
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Siapa yang Sebenarnya Membesarkan Anak Kita: Orang Tua atau Algoritma?

Oleh: Ahmad Afwan Yazid, M.Pd, Wakil Kepala SD Mupat Kota Malang, Anggota LPP PCM Lowokwaru, Praktisi Pendidikan dan Parenting Keluarga

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan perubahan nilai-nilai sosial modern, para orang tua hari ini dihadapkan pada tantangan pengasuhan (parenting) yang semakin kompleks. Anak-anak tumbuh di dunia di mana algoritma media sosial, tren budaya populer, dan standar sukses materialistik begitu dominan menentukan bagaimana mereka berpikir, berperilaku, dan menilai diri sendiri.

Di sinilah lahir sebuah pertanyaan fundamental bagi setiap orang tua: Pendekatan atau desain seperti apa yang sedang kita terapkan dalam membangun keluarga serta mendidik anak-anak kita?

Secara mendasar, terdapat pergeseran tajam antara Desain Dunia Global yang berfokus pada materialistis-individualistis, dengan Desain Rabbani yang berlandaskan pada tauhid, nilai-nilai Al-Qur'an, dan Sunnah. Memahami perbedaan kedua paradigma ini sangat krusial agar kita tidak terjebak mendidik anak sekadar untuk memenuhi tuntutan zaman, melainkan untuk mengantarkan mereka menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Dalam paradigma Desain Dunia Global, keluarga acap kali dipandang sekadar sebagai pilihan gaya hidup atau kontrak sosial yang dipertahankan selama menguntungkan dan menyenangkan secara pribadi. Filosofi yang terbangun adalah "Keluargaku adalah milikku", di mana anggota keluarga diposisikan untuk memenuhi kebutuhan personal dan pencitraan diri. Begitu pula dengan anak; mereka kerap dianggap sebagai objek penunjang citra orang tua, konsumen bagi pasar digital, atau dipatok identitasnya berdasarkan label Generasi Z atau Generasi Alpha semata.

Sebaliknya, Desain Rabbani menempatkan keluarga dan anak pada kedudukan yang jauh lebih mulia dan sakral. Pernikahan diyakini sebagai mitsaqan ghalidha, perjanjian yang sangat kuat di hadapan Allah (QS Al-Nisa': 21). Seluruh anggota keluarga, termasuk anak, merupakan milik Allah SWT yang dipercayakan kepada orang tua sebagai sebuah amanah.

Allah SWT berfirman:

لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِۗ

“Milik Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.” (QS Al-Baqarah: 284)

 

Anak terlahir membawa fitrah dan potensi ilahiah. Oleh karena itu, hubungan orang tua dan anak dalam Desain Rabbani bukanlah hubungan kepemilikan mutlak atau sekadar penyedia fasilitas fisik, melainkan peran orang tua sebagai murabbi, pelindung, pembimbing, dan mitra pertumbuhan anak menuju ketaatan.

Perbandingan Karakter dan Pengasuhan Anak

Bila kita menelaah lebih dalam mengenai pembentukan karakter anak, terdapat perbedaan yang cukup kontras antara pola yang berkembang dalam budaya global dengan desain pendidikan Rabbani. Dalam dunia global, harga diri anak sering kali dikaitkan dengan penampilan, jumlah pengikut (followers), banyaknya likes, kepemilikan barang bermerek, serta penerimaan sosial, terutama di dunia maya. Sementara itu, dalam desain Rabbani, harga diri anak dibangun di atas keimanan, ketakwaan, keluhuran akhlak, ilmu, dan sejauh mana dirinya dapat memberikan manfaat bagi orang lain. Dengan demikian, ukuran keberhasilan anak tidak hanya dilihat dari apa yang dimiliki atau bagaimana dirinya dipandang orang lain, tetapi juga dari kualitas diri dan kemanfaatannya bagi sesama.

Perbedaan juga terlihat dalam memahami makna kebebasan dan tujuan hidup. Dalam budaya global, kebebasan terkadang dipahami sebagai keleluasaan untuk melakukan apa saja yang diinginkan, mengejar kesenangan, popularitas, kenyamanan, dan pengakuan secara instan. Sebaliknya, dalam desain Rabbani, kemerdekaan sejati dipahami sebagai kebebasan jiwa dari perbudakan hawa nafsu dan ketergantungan kepada makhluk, sehingga manusia dapat sepenuhnya tunduk kepada Allah SWT. Anak diarahkan untuk memahami bahwa hidup bukan sekadar mencari kesenangan, tetapi memiliki tujuan yang lebih tinggi, yaitu beribadah kepada Allah, memakmurkan bumi, memberikan manfaat bagi sesama, dan meraih keridaan-Nya.

Dalam hal ketahanan diri dan pengelolaan emosi, anak yang tumbuh dalam lingkungan yang serba cepat dapat terbiasa menginginkan hasil secara instan, mudah berpindah perhatian, dan mengalami kesulitan ketika harus menghadapi kegagalan atau ketidaknyamanan. Desain Rabbani justru berusaha melatih anak agar memiliki kesabaran, ketekunan, kedalaman dalam menuntut ilmu, serta kemampuan menunda kesenangan demi mencapai tujuan yang lebih besar. Dalam kerangka ini, kesalahan dan kegagalan tidak perlu ditutupi hanya untuk mempertahankan citra diri. Kesalahan diakui, diperbaiki melalui taubat, dan dijadikan pengalaman untuk belajar serta tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik.

Hal yang tidak kalah penting adalah bagaimana anak berinteraksi dengan teknologi. Dalam dunia digital, anak dapat menjadi sasaran dari apa yang sering disebut sebagai ekonomi perhatian, ketika perhatian, kebiasaan, dan pola konsumsi mereka banyak dipengaruhi oleh algoritma berbagai platform. Dalam desain Rabbani, teknologi ditempatkan sebagai alat yang penggunaannya harus tunduk pada nilai, adab, dan kemaslahatan. Anak tidak diarahkan untuk menjauhi teknologi, tetapi dibimbing agar mampu menggunakannya secara sadar, kritis, beradab, dan produktif. Dengan demikian, teknologi menjadi sarana untuk belajar, berkarya, berkomunikasi, dan memberikan manfaat, bukan justru menjadi sesuatu yang mengendalikan kehidupan dan membentuk karakter anak tanpa kesadaran.

Menjaga Amanah: Menghindari Pengkhianatan dalam Keluarga

Setiap amanah yang bernilai tinggi selalu datang bersama tanggung jawab yang besar. Semakin berharga sebuah titipan, semakin besar pula tanggung jawab penjagaannya. Anak dan harta bukan sekadar nikmat untuk dibanggakan, melainkan ujian (fitnah) yang harus dikelola sesuai kehendak Sang Pemberi Amanah (QS Al-Anfal: 28).

Al-Qur'an secara tegas mengingatkan para orang tua:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَخُوْنُوا اللّٰهَ وَالرَّسُوْلَ وَتَخُوْنُوْٓا اَمٰنٰتِكُمْ وَاَنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul, dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanah-amanah yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui.” (QS Al-Anfal: 27)

 

Bentuk pengkhianatan terhadap amanah dalam keluarga tidak selalu berupa kekerasan fisik. Di era modern, pengkhianatan amanah justru sering hadir dalam bentuk yang lebih halus, tetapi tetap dapat memberikan dampak yang besar terhadap perkembangan anak dan keharmonisan keluarga. Misalnya, orang tua hadir secara fisik di rumah, tetapi secara batin justru tidak benar-benar hadir karena perhatian sepenuhnya tersedot oleh gawai (gadget). Pengkhianatan amanah juga dapat terjadi ketika orang tua hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan materi dan pencapaian akademik anak, tetapi mengabaikan kebutuhan emosional, kesehatan mental, pendidikan adab, dan pembentukan keimanan mereka.

Demikian pula ketika aib dan persoalan keluarga diumbar di media sosial demi mendapatkan perhatian, dukungan, atau sekadar menjadikannya sebagai konten, maka privasi dan kehormatan keluarga telah dipertaruhkan. Bahkan, cinta yang berlebihan kepada anak juga dapat menjadi bentuk pengkhianatan amanah apabila membuat orang tua menutup mata terhadap kesalahan anak, membiarkan pelanggaran syariat, atau mengabaikan kewajiban hanya demi memenuhi keinginan anak. Karena itu, cinta kepada keluarga tidak boleh mengalahkan cinta kepada Allah SWT. Cinta Rabbani adalah cinta yang mampu memimpin, mengarahkan, mendidik, dan saling menasihati dalam kebaikan dengan perkataan yang benar (qawlan sadīdan), lembut (qawlan layyinan), dan baik (qawlan ma‘rūfan).

Untuk mengalihkan kemudi keluarga dari arus global menuju Desain Rabbani, diperlukan beberapa langkah strategis yang dimulai dengan meluruskan orientasi dalam berkeluarga, yaitu menjadikan rumah sebagai madrasah utama yang menghadirkan ketenangan (sakinah), ibadah, kasih sayang, dan perlindungan, bukan sekadar tempat untuk tidur atau mengisi daya perangkat elektronik. Pola komunikasi dalam keluarga juga perlu dibangun dengan lebih sehat dengan meninggalkan kebiasaan bereaksi secara emosional, saling menyalahkan, atau mengumbar persoalan keluarga kepada publik, kemudian menggantinya dengan prinsip tabayyun, musyawarah, iṣlāḥ (perbaikan), dan saling memaafkan.

Dalam kehidupan rumah tangga, suami dan istri hendaknya hadir sebagai mitra yang memegang amanah dan saling melengkapi seperti pakaian (libās), dengan menjalankan kepemimpinan melalui keteladanan, kelembutan, dan tanggung jawab. Selain itu, keluarga perlu memiliki disiplin dalam menggunakan teknologi dengan menetapkan batas yang sehat terhadap penggunaan gawai dan media sosial, sehingga Al-Qur’an dan Sunnah tetap menjadi pedoman utama dalam menentukan sikap dan arah kehidupan keluarga, bukan sekadar mengikuti tren, algoritma, atau komentar warganet.

Pada akhirnya, indikator keberhasilan keluarga menurut Desain Rabbani bukanlah seberapa tampak harmonis atau mewahnya kita di media sosial, melainkan seberapa konsisten kita dalam ketaatan, saling menenteramkan, dan menunaikan amanah.

Tujuan akhir dari keluarga Rabbani bukanlah sekadar meraih "sukses bersama selama hidup di dunia", melainkan agar kelak seluruh anggota keluarga—suami, istri, dan anak-anak—dapat dikumpulkan kembali dalam kenikmatan surga-Nya (QS Ar-Ra'd: 23). Mari kita perbaiki desain pengasuhan kita hari ini demi menyelamatkan masa depan generasi mendatang.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Meneladani Semangat Pendidikan KH Ahmad Dahlan sebagai Guru Bangsa  Oleh: Hendra Apriyadi, M.P....

Suara Muhammadiyah

28 November 2025

Wawasan

Tiga Prinsip Hidup Menjaga Kualitas Kemanusiaan Oleh: M. Rifqi Rosyidi, Lc., M.Ag "Wa ja'alanī mu....

Suara Muhammadiyah

27 October 2023

Wawasan

Indonesia Emas Dimulai dari Ruang Kelas Oleh: Candra Kusuma Wardana, MBA, Dosen Universitas Muhamma....

Suara Muhammadiyah

12 August 2026

Wawasan

Pemimpin Berkemajuan Penulis: Iu Rusliana, Penulis adalah dosen Program MM Uhamka Jakarta, Sekretar....

Suara Muhammadiyah

26 December 2025

Wawasan

Kerja Sehat, Kerja Selamat di Lab Radiologi Unisa Yogyakarta  Oleh: Fisnandya Meita Astari, Do....

Suara Muhammadiyah

5 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah