Socio-Spiritual Movement Melalui Masjid
Penulis: Fuandani Istiati, dosen UAD
Awal tahun 2000-an masjid Jogokariyan pernah menjadi primadona masyarakat Islam Indonesia. Keberadaan media sosial pada saat itu belum se-intens sekarang, orang-orang mendengar kebesaran dan keistimewaan masjid ini hanya melalui media massa konvensional dan lebih banyak lewat mulut ke mulut. Kehebatan masjid ini bukan karena megahnya arsitektur bangunannya, melainkan bagaimana manajemen masjid bisa menjadi jantung jalannya sosial bahkan ekonomi masyarakat di sekitarnnya. Masjid Jogokariyan hadir di tengah permasalahan hidup masyarakatnya sehinggan peran masjidlah yang menjadikan masjid Jogokariyan besar, bukan dari arsitektur bangunannya.
Kala itu banyak orang-orang dari luar Jogja berbondong-bondong mengunjungi masjid ini. Mereka tertegun, karena memang secara fisik masjid ini seperti pada umumnya masjid di perkampungan. Tidak ada unsur kemegahan, bahkan luas masjidnya pun tidak lebih dari 400 m persegi. Namun, ruh masjid yang tidak hanya sekedar rumah ibadah semata melainkan seperti ada magnet kuat yang menjadikan masjid ini berwibawa.
Pengelolaan masjid dirancang untuk memberikan kebermanfaatan bagi umat terkhusus masyarakat di sekitar masjid. Saldo infaq setiap hari harus di 0 kan dan uang infaq dimanfaatkan untuk umat dan operasional masjid. Masyarakat sekitar dikerahkan untuk terlibat dalam setiap kegiatan yang diinisiasi oleh masjid. Di tahun 2016 penulis berkesempatan bisa mengikuti buka puasa di masjid Jogokariyan. 2000 porsi menu disediakan untuk siapapun jama’ah yang ingin berbuka di masjid. Menariknya 2000 porsi ini disajikan dalam piring bukan kotak kardus seperti umumnya menu berbuka di masjid-masjid lain dan tradisi ini berlangsung sampai saat ini.
Masjid Jogokariyan adalah bentuk nyata gerakan sosial-agama yang mampu mengubah struktur tatanan dan representasi masjid selama ini. Hasilnya, apa yang dilakukan oleh masjid Jogokariyan banyak diadopsi oleh masjid-masjid lain. Di tahun 2016 pula saya berkesempatan untuk mengikuti ibadah i’tikaf di masjid Jogokariyan selama 10 hari. Dengan membayar Rp 300.000 peserta i’tikaf mendapatkan pelayanan bak jamaah umroh atau haji di tanah suci, meski tidak sepenuhnya mirip. Tapi kenyamanan dan kekhusyukan ibadah benar-benar terasa pada saat i’tikaf. Di masa i’tikaf masjid Jogokariyan banyak menghadirkan tokoh-tokoh hebat seperti imam dari Palestina sampai hafidz-hafidz muda yang kala ini sedang naik daun macam Muzammil Hasballah, Taqy Malik dan lain sebagainya.
Apa yang diinisiasi oleh masjid Jogokariyan beberapa waktu ini merambah ke ranah kampus. Maka, beberapa tahun belakangan ini banyak kampus-kampus di Jogja yang menginisiasi kegiatan ”Ramadan di Kampus” (RDK) sebut saja UAD, UMY bahkan UGM yang notabene bukan kampus berbasis Islam. Bahkan RDK di kampus UGM menghadirkan nafas baru yang unik dengan kegiatan seperti ”Safari Ilmu di Bulan Ramadan” dan ”Ramadan Public Lecture”. RDK di UGM bukan kali pertamanya, bahkan RDK di UGM sudah memasuki usia 50 tahun. Namun, bagaimana pengemasan RDK beberapa tahun terakhir cukup luar biasa. RDK UGM berhasil menghadirkan tokoh-tokoh nasional dalam mengisi kajian baik menjelang berbuka dan setelah salat tarawih.
Tidak sampai disitu, RDK UGM juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa non-muslim untuk menjadi panitia RDK. Inisiasi ini mendobrak tatanan representasi agama yang kaku dan bersifat doktrin. RDK UGM menjadikan masjid sebagai ruang ilmu yang menyadarkan bahwanya tidak ada sekat penghalang antara ilmu pengetahuan dan agama. Keduanya adalah satu kesatuan yang dapat menjadi bekal umat Islam menghadapi tantangan zaman. Selain itu, RDK UGM berhasil menjadikan masjid sebagai ruang dakwah kontemporer. Mengisyaratkan bahwasanya Islam adalah agama yang menjunjung tinggi perkembangan ilmu pengetahuan dan rahmat bagi semesta.
Masjid-masjid yang memiliki dampak luar biasa diatas bukan muncul begitu saja dengan spontan, melainkan melalui proses panjang yang terorganisir. Almarhum ustadz Jazir rahimakumullah awal mula mengubah wajah masjid Jogokariyan dengan program pendekatan manajemen berbasis pelayanan umat. RDK UGM hadir dengan kajian keislaman, pembagian konsumsi buka puasa, dan kegiatan ibadah lainnya yang dilakukan secara terorganisir dan simultan. Dampaknya hari ini RDK UGM menjadikan masjid kampus yang menyasar masyarakat umum, dengan fokus pada pembangunan manusia dan harmoni sosial.
Artinya, masjid dapat menjelma menjadi rumah umat yang ingin terbebas dari kesengsaraan duniawi bukan sekedar bangunan simbolik keagamaan. Masjid dapat hadir membawa solusi bagi tantangan zaman dengan pengorganisasian yang matang. Karena dapat kita perhatikan bersama, orang terlibat di masjid bukanlah orang yang tanpa perencanaan dan asal-asalan. Mereka yang menjalankan salat berjamaah di masjid tentunya berbeda dengan mereka yang tidak pernah hadir di masjid. Kehadiran mereka di masjid menunjukkan adanya kesadaran spiritual, kedisiplinan waktu, serta komitmen terhadap nilai-nilai kebersamaan. Dari aktivitas sederhana seperti salat berjamaah, tumbuh budaya saling mengenal, saling peduli, dan saling membantu dalam kehidupan sosial. Masjid kemudian tidak hanya menjadi ruang ibadah, tetapi juga ruang pembentukan karakter dan penguatan solidaritas umat.
Lebih jauh lagi, masjid memiliki potensi besar sebagai pusat pemberdayaan masyarakat. Melalui kegiatan pendidikan, pengajian, diskusi keilmuan, hingga program sosial dan ekonomi, masjid dapat menjadi wadah peningkatan kualitas hidup umat secara menyeluruh. Di tengah kompleksitas persoalan modern, masjid dapat berperan sebagai pusat pembinaan yang memberikan arah dan solusi seperti yang kita lihat dari masjid Jogokariyan dan masjid kampus UGM dengan RDK nya dan tentunya masjid-masjid lain di luar sana yang belum tersetuh hingar-bingar media sosial.

