Strategi Xingshang Jianshi Mengubah Yiwu Menjadi Kota Berkelas Dunia

Suara Muhammadiyah

24 October 2026

183
Buya Anwar Abbas

Buya Anwar Abbas

Strategi Xingshang Jianshi Mengubah Yiwu Menjadi Kota Berkelas Dunia 

Oleh: Buya Anwar Abbas 

Pada era Mao Zedong (1949–1976), China menganut ideologi komunis dengan sistem ekonomi yang menempatkan kepemilikan alat-alat produksi di tangan negara. Kepemilikan pribadi atas tanah dan usaha dibatasi, sementara perdagangan bebas dan pencarian keuntungan swasta dipandang sebagai bagian dari kapitalisme yang dianggap mengeksploitasi rakyat.

Mao Zedong ingin menciptakan masyarakat tanpa kelas yang hidup setara, dengan prinsip sama rata dan sama rasa. Untuk mewujudkan cita-cita tersebut, pemerintah menghapus hak milik swasta atas berbagai sektor produksi dan mengalihkannya menjadi milik negara atau kolektif. Perdagangan swasta pun dilarang, sedangkan negara bertindak sebagai distributor utama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Pada masa itu, masyarakat China tidak memiliki kebebasan berdagang seperti yang kita kenal sekarang. Berbagai kebutuhan pokok, mulai dari makanan hingga pakaian, didistribusikan melalui toko-toko milik negara dengan menggunakan sistem kupon atau jatah yang ditetapkan pemerintah.

Situasi serupa terjadi di Yiwu. Pada 1970-an, orang yang kedapatan menjual gula atau ayam secara mandiri dapat ditangkap dan diarak keliling desa dengan mengenakan topi tinggi bertuliskan “Saya Kapitalis Jahat”. Perdagangan yang kini menjadi sumber kemakmuran kota itu pernah dipandang sebagai tindakan yang bertentangan dengan ideologi negara.

Namun, keadaan mulai berubah setelah Mao Zedong meninggal dunia dan Deng Xiaoping memimpin reformasi ekonomi China. Pada April 1982, Xie Gaohua, yang saat itu menjabat sebagai Sekretaris Partai Komunis di Yiwu, mengizinkan masyarakat setempat berdagang secara legal. Langkah ini menjadi titik balik penting dalam sejarah perekonomian Yiwu.

Pada 5 September 1982, Yiwu membuka Pasar Huqingmen, yang dikenal sebagai salah satu pasar komoditas kecil bebas pertama di China. Di pasar ini, para pedagang yang sebelumnya berjualan secara informal mulai ditata dan diberi kesempatan untuk membuka lapak secara resmi.

Kebijakan tersebut tidak lahir begitu saja. Xie Gaohua memperoleh dukungan politik dari arah reformasi yang digaungkan Deng Xiaoping di tingkat pusat. Kebijakan itu sekaligus menunjukkan perubahan cara pandang pemerintah terhadap perdagangan: dari kegiatan yang dicurigai sebagai praktik kapitalisme menjadi salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi masyarakat.

Xingshang Jianshi: Perdagangan sebagai Strategi Pembangunan Kota

Untuk memajukan wilayahnya, Yiwu menerapkan strategi yang dikenal sebagai Xingshang Jianshi, yakni mengembangkan perdagangan sebagai fondasi pembangunan kota. Melalui strategi ini, pemerintah menyediakan infrastruktur dan ruang perdagangan, sementara masyarakat diberi keleluasaan untuk memanfaatkannya dalam mengembangkan usaha.

Sejak perdagangan dilegalkan pada 1982, pasar Yiwu terus berkembang. Pasar-pasar yang semula sederhana secara bertahap direnovasi, diperluas, dan dipindahkan ke lokasi yang lebih memadai untuk menampung pertumbuhan aktivitas perdagangan.

Pada 1992, pemerintah mengembangkan pusat perdagangan grosir yang kemudian dikenal sebagai China Small Commodities City. Perkembangan berikutnya semakin pesat ketika China bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization atau WTO) pada 2001. Keanggotaan ini membuka peluang yang lebih besar bagi produk-produk China untuk memasuki pasar internasional.

Pada 22 Oktober 2002, pemerintah Yiwu secara resmi membuka Distrik 1 Yiwu International Trade City. Kehadiran kompleks perdagangan modern ini menandai babak baru dalam perjalanan Yiwu, dari pasar tradisional menuju pusat perdagangan berorientasi global.

Kompleks tersebut dilengkapi berbagai fasilitas untuk mendukung aktivitas perdagangan, mulai dari layanan logistik hingga fasilitas penunjang bagi pembeli internasional. Seiring meningkatnya kebutuhan pasar, pembangunan kemudian dilanjutkan ke Distrik 2, 3, 4, dan 5.

Kompleks pasar Yiwu kini membentang di area bisnis seluas lebih dari 6,4 juta meter persegi, dengan ribuan kios yang menjadi tempat bertemunya produsen, pemasok, pedagang, dan pembeli dari berbagai negara. Pasar ini bukan sekadar tempat jual beli, melainkan juga jaringan perdagangan yang menghubungkan produk-produk China dengan pasar dunia.

Besarnya perkembangan tersebut membuat Yiwu dikenal luas sebagai salah satu pusat perdagangan grosir komoditas kecil terbesar di dunia. Produk-produk yang diperdagangkan di sana menjangkau lebih dari 200 negara dan wilayah. Pengakuan internasional terhadap peran Yiwu dalam perdagangan global semakin memperkuat posisinya sebagai salah satu simpul penting rantai pasok dunia.

Dari Pasar Tradisional Menuju Perdagangan Digital

Yiwu tidak berhenti pada keberhasilan membangun pasar grosir berskala besar. Kota ini terus beradaptasi dengan perubahan zaman melalui pengembangan perdagangan digital.

Pada 2022, Yiwu mulai membangun pusat perdagangan generasi baru yang diarahkan untuk mengintegrasikan aktivitas perdagangan fisik dengan teknologi digital. Transformasi ini kemudian berkembang melalui proyek Yiwu Global Digital Trade Center (GDC), yang dikenal sebagai bagian dari pengembangan pasar generasi keenam atau Distrik 6.

Pembangunan tersebut mencerminkan ambisi Yiwu untuk melampaui model pasar grosir tradisional. Pemerintah kota berupaya membangun ekosistem perdagangan yang menggabungkan pemasaran digital, transaksi lintas negara, logistik, dan layanan bagi pelaku usaha global.

Dengan skala yang sangat besar dan jaringan perdagangan yang menjangkau berbagai belahan dunia, Yiwu kerap dijuluki sebagai “supermarket dunia”. Berbagai produk yang dibutuhkan pasar internasional dapat ditemukan di kota ini, mulai dari barang kebutuhan sehari-hari hingga aneka komoditas untuk berbagai sektor usaha.

Perjalanan Yiwu memberikan pelajaran penting tentang bagaimana kebijakan ekonomi, keberpihakan kepada pelaku usaha, penyediaan infrastruktur, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan dapat mengubah wajah sebuah kota. Wilayah yang dahulu membatasi perdagangan rakyat kini justru menjadikan perdagangan sebagai kekuatan utama pembangunan.

Keberhasilan Yiwu juga menunjukkan bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari perusahaan-perusahaan raksasa. Pemerintah dapat membuka ruang bagi masyarakat untuk berusaha, menyediakan fasilitas yang dibutuhkan, lalu membiarkan kreativitas dan semangat kewirausahaan tumbuh secara berkelanjutan.

China memang memperlihatkan perkembangan ekonomi yang luar biasa. Ambisinya untuk menjadi kekuatan ekonomi nomor satu dunia dan menyaingi Amerika Serikat masih bergantung pada banyak faktor. Namun, kisah Yiwu menunjukkan satu hal yang tidak dapat diabaikan: perubahan kebijakan yang memberi ruang bagi inisiatif masyarakat dapat menjadi fondasi bagi lahirnya kekuatan ekonomi berskala global.

Buya Anwar Abbas, Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Pemikiran Revitalisasi Ajaran Islam Oleh: Dr. Masud HMN, Dosen Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. H....

Suara Muhammadiyah

5 June 2024

Wawasan

Merawat Tradisi Wakaf Literasi Oleh: Khafid Sirotudin, MPKSDI PP Muhammadiyah Bagi warga Muhammadi....

Suara Muhammadiyah

3 March 2025

Wawasan

Memaknai Basmalah sebagai Fondasi Ilmu-Adab Oleh: Piet Hizbullah Khaidir, Ketua STIQSI Lamongan; Se....

Suara Muhammadiyah

15 October 2025

Wawasan

Ketika Amanah Menguji Integritas Oleh: Amrizal Musuh terbesar idealisme kader bukanlah tekanan d....

Suara Muhammadiyah

2 March 2026

Wawasan

Menemukan Kembali Ruh Khittah Palembang Menjelang Muktamar ke-49 Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif,....

Suara Muhammadiyah

8 October 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah