Suara Muhammadiyah Merawat Sejarah Banuhampu Lewat Minang Inn Malioboro
YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Minang Inn Malioboro akan menjadi wajah baru penginapan di Kota Yogyakarta. Bisnis Suara Muhammadiyah itu tidak hanya sebatas berbentuk properti hotel, namun Deni Asy'ari menyingkap, dibalik itu sarat pergumulan sejarah yang demikian rupa.
Jejak historitasnya berangkat dari sebuah tempat asrama mahasiswa yang dimiliki oleh Yayasan Banuhampu yang ada di Yogyakarta. Demikian dibentangkan saat Malam Tasyakuran, Jumat (30/10) di Letjen Suprapto, Pringgokusuman, Gedong Tengen, Kota Yogyakarta.
"Banuhampu ini adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Agam yang berada di Sumatera Barat. Kalau kita mendengar ada istilahnya Bukit Tinggi, di Sumatera Barat juga ada Kabupaten Agam dan salah satu kecamatannya adalah Banuhampu," terang Deni.
Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media/Suara Muhammadiyah itu menyebut, tokoh sentral di Banuhampu itu adalah Mr Assaat, Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dengan Badan Pekerja (1946-1949) dan Pejabat Presiden Republik Indonesia di Yogyakarta (Desember 1949 - Agustus 1950).
"Dan beliau juga salah satu founder, pendiri Universitas Gadjah Mada yang ada hari ini. Jadi, rasa-rasanya tidak asing nama Banuhampu dengan Yogyakarta, nama Banuhampu dengan Republik Indonesia," bebernya.
Sepanjang tarikan napas kehidupannya, Mr Assaat berkiprah dan memberikan kontribusi demikian rupa di bidang dunia pendidikan, dalam dunia politik, dalam konteks kebangsaan.
"Dan asrama ini merupakan tempat yang ketika masyarakat Minangkabau melakukan migrasi ke tanah Yogyakarta, ini menjadi selain tempat hunian asrama, juga menjadi tempat tali silaturahim para perantau Minang yang ada di Yogyakarta," tambahnya, menerangkan lebih lanjut.
Pada saat yang sama, asrama tersebut menjadi pusat simbol interaksi budaya Minang dan Yogyakarta. "Jadi, ketika hadir asrama ini, ini menjadi simbolisasi untuk interaksi budaya Minang yang juga halus dengan budaya Jogja yang ramah ini," ujarnya.
Sehingga kemudian menjadi sebuah asrama pada saat itu. Tetapi kemudian, lambat laun seiring waktu dan perubahan zaman, asrama bagi mahasiswa tidak lagi menjadi sebuah identitas yang bisa dibanggakan.
"Kita lihat-lihat beberapa asrama-asrama mahasiswa dari berbagai daerah di Yogyakarta tidak terlalu ramai," bongkarnya. Tetapi dulu, asrama ini menjadi identitas dan kebanggaan kita.
"Kalau ditanya tinggal di mana? Tinggal di asrama, itu bangganya luar biasa. Merasa kita ini orang terdidik, orang yang spesial, orang yang memiliki strata tertentu, kira-kira begitu dibandingkan kita ngekos ataupun ngontrak," tutur Deni.
Tetapi hari ini, tampak terjadinya pergeseran term tinggal di asrama. "Seakan-akan kurang wah, kurang mewah, dan merasa terdiskriminasi," ungkap Wakil Ketua Majelis Ekonomi dan Bisnis Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu. Sehingga lambat laun, asrama ini pun juga berhenti denyut nadi aktivitasnya sebagai asrama mahasiswa.
"Melalui holding SM Tower Malioboro Hotel, kita ingin bersinergi bagaimana yang asrama ini tidak aktif, asrama ini yang tidak produktif, kita transformasikan untuk memberikan value, dampak manfaat bagi masyarakat Yogyakarta, bagi masyarakat yang berkunjung ke Yogyakarta, dan bilkhusus kepada mahasiswa Banuhampu yang ada di Yogyakarta," jelasnya. (Cris)