Suara Perubahan
Suara Perubahan
Cerpen: Affan Safani Adham
HINGAR-BINGAR pesta Pilkada dapat dirasakan oleh siapapun di kampung itu. Mata warga merasakan kesemarakan, meski banyak pula yang mengabaikan foto serta slogan dari para tokoh di dalam alat kampanye itu.
Warga salah satu kampung memperbincangkan pemilihan kepala daerah (Pilkada). Hal tersebut setelah selebaran, poster, spanduk beragam ukuran, stiker, dan bendera partai bertebaran di kampung itu. Di warung kopi para lelaki tua berkumpul membahas calon-calon yang akan bertarung. Di sudut ruangan, Ani salah satu mahasiswi yang baru pulang dari kampus, mendengarkan dengan seksama.
Dari sekian banyak perangkat kampanye yang juga masuk ke gang-gang kecil kampung -- bahkan sampai ke depan pintu rumah -- tidak ada nama anak muda. Atau, tokoh masyarakat yang sangat dikenal. Bukan karena keterampilannya dalam berbicara, tapi karena peran aktifnya dalam turun tangan berkegiatan sosial.
"Calon A itu hanya janji manis," kata pak Andi juru parkir. "Dia sudah dua kali mencalonkan diri tapi tidak ada perubahan."
"Betul. Tapi, calon B juga tidak jauh berbeda. Dia hanya datang saat kampanye," sahut Joko.
Mendengar apa yang dibicarakan warga kampung itu, Ani merasa prihatin. Ia tahu betapa pentingnya pemimpin yang baik untuk kota mereka. Lalu, ia memutuskan untuk ikut serta dalam proses itu. Bukan hanya sebagai pendengar, tapi sebagai penggerak.
*
Beberapa hari kemudian Ani mengajak teman-teman kampusnya untuk mengadakan diskusi di kampungnya. Mereka mengundang ketiga calon walikota untuk hadir dan menjelaskan visi misi mereka. Dengan semangat, Ani berusaha membawa generasi muda untuk peduli pada nasib kampungnya.
Hingga akhirnya setelah ditunggu-tunggu ketiga calon walikota itupun datang ke kampung tersebut. Calon A datang dengan pakaian rapi bersama tim suksesnya. Calon B hadir dengan sederhana tanpa tim sukses. Calon C hadir seadanya. Ani lantas memperkenalkan mereka kepada warga dan memberikan kesempatan untuk bertanya.
"Bagaimana Anda akan mengatasi masalah sampah di kota ini?" tanya seorang ibu.
Calon A menjawab dengan retorika yang menarik. Giliran calon B dia menjelaskan rencana konkret beserta langkah-langkah yang akan ia lakukan di kampung itu. Calon C malah menyampaikan soal kesehatan dampak dari sampah yang menumpuk.
"Mas calon A, Anda yakin bakal menjadi kepala daerah di kota ini? Jadi walikota itu berat loh," kata Amran salah satu warga yang sangat khawatir.
"Yakin nggak yakin juga sih," kata si calon A ragu.
Ketika giliran calon B sempat gamang, apalagi ketika warga masyarakat mempertanyakan kesiapan serta kesungguhannya apabila nanti jadi walikota.
Tiba giliran calon C hanya sampaikan singkat soal kesehatan.
"Mas calon A, calon B dan calon C saya harap jangan suka ngasih harapan. Jangan suka PHP. Belum jadi walikota saja sudah PHP-in orang," nasihat Nunung.
"Mas calon A, calon B dan calon C, apa sangat yakin bakal menjadi walikota? Jadi walikota itu berat loh," kata Dodik salah satu warga.
Terlihat Ani tampak khawatir ketika melihat perdebatan itu.
"Lha gimana toh?"
Suasana pun jadi hening.
"Kalau jadi pimpinan nggak yakin, terus menerima kepemimpinan tapi nggak tahu apa yang harus dilakukan, bisa diamuk massa nanti," ungkap salah satu warga.
Setelah diskusi Ani merasakan perubahan di wajah-wajah warga. Mereka pun mulai tertarik pada calon B yang tampak lebih tulus. Malam itu Ani merasa harapannya tumbuh. Dan masyarakat mulai berpikir kritis.
*
Pilkada pun tiba. Ani mendorong warga untuk datang dan memberikan suara. Suara mereka adalah harapan untuk perubahan. Suara warga mengalir ke dalam kotak suara. Ani berdiri di luar TPS menyaksikan antusiasme para pemilih. Semua orang tampak bersemangat dan berharap ada perubahan di masa mendatang.
Hasil pemilihan diumumkan. Calon B mendapat suara terbanyak. Sorak-sorai menggema di kampung itu. Ani merasa bahagia dan bangga. Tidak hanya karena calon yang ia dukung menang, tapi karena masyarakat sudah mulai berani bersuara dan menyadari pentingnya suara mereka.
Beberapa bulan setelah pelantikan Kepala Daerah, perubahan nyata terjadi: sekolah diperbaiki dan anak-anak mulai bermimpi lebih besar. Juga masalah sampah yang selama ini jadi perbincangan warga masyarakat.
Ani tersenyum. Tahu bahwa suara dari kampung tersebut akhirnya didengar.
Calon B yang dikenal sebagai pemuda trengginas beruntung. Laki-laki itu sangat santun, rendah hati dan jujur. Itu pula brand image dirinya di sekitar kampung hingga kemantren. Dibilang beruntung karena ia baru setahun ini menikahi gadis cantik putri seorang lurah.
Jamilah nama si gadis itu. Nama yang cocok antara paras dan artinya. Cantik fisik dan juga pribadinya. Mereka pun mendadak jadi idola di kota itu yang warganya tahu betul kehidupan keluarga baru dengan sang nahkoda bahtera rumah tangga nan pemalu itu. Calon B itu tak pernah banyak omong, namun setiap berbicara isi perkataannya 'full quotes'. Pokoknya paslah untuk status di media sosial bagi para netizen di kampung itu dan sekitarnya. Yogyakarta, November 2024.
Affan Safani Adham adalah anggota Majelis Pustaka dan Informasi PWM/PDM Kota Yogyakarta dan anggota Satupena DIY.
Sumber: Majalah SM Edisi 1 Tahun 2025