Sumber Kedermawanan
Oleh: Miqdam Awwali Hashri, S.E., M.Si, Anggota Lembaga Dakwah Komunitas PP Muhammadiyah
Sebagian besar para seniman, terutama mereka yang telah melahirkan karya-karya monumental dan abadi, senantiasa meninggalkan jejak diri dalam setiap detail karyanya sebagai salah satu ciri khas yang menandakan bahwa itu adalah karya otentik mereka. Para pecinta seni memahami hal itu dengan sangat baik, sehingga hanya dengan sekadar melihat sapuan kuas pada sebuah lukisan atau mendengarkan alunan komposisi musik, mereka langsung mengenal siapa sosok seniman di balik ciptaan tersebut karena terdapat kekhasan mendasar yang mustahil dipalsukan. Fenomena penandaan ini menunjukkan bahwa setiap karya yang utuh senantiasa merefleksikan karakter dan identitas asli dari penciptanya.
Begitu juga dengan manusia sebagai mahakarya ciptaan yang paling sempurna, di mana di dalam diri manusia sesungguhnya juga terdapat "jejak" dari Sang Pencipta. Jejak spritual yang paling mudah dikenal dan dirasakan dalam pengalaman hidup sehari-hari adalah sifat rahman dan rahim-Nya Allah SWT. Maka tidak heran jika Islam mengajarkan umatnya untuk senantiasa membaca "bismillahirrahmanirrahim" setiap kali hendak mengawali aktivitas, yang bukan sekadar ritual lisan, melainkan pengingat bahwa sifat pengasih dan penyayang di dalam diri ini merupakan modal utama bagi manusia untuk mengarungi kehidupan di dunia.
Sifat rahman dan rahim yang terpatri dalam diri manusia secara alamiah mendorong manusia untuk hidup secara harmonis. Keharmonisan ini meliputi relasi yang menyeluruh, baik keharmonisan terhadap Tuhan, sesama manusia, maupun makhluk lainnya termasuk alam semesta. Sifat pengasih dan penyayang ini juga berkaitan erat dengan sikap saling menghormati antarmanusia, sebuah prinsip yang amat mendasar mengingat jika Allah SWT saja memerintahkan malaikat dan iblis untuk bersujud kepada manusia sebagai bentuk rasa hormat, maka sudah sepatutnya sesama manusia saling menghormati harkat dan martabat satu sama lain. Bedanya, dalam tatanan tauhid yang murni, manusia hanya diperintahkan untuk sujud dan menyembah kepada Allah SWT, bukan kepada yang lain termasuk tidak diperbolehkan sujud di hadapan sesama manusia.
Dari kedalaman sifat rahman dan rahim inilah, kedermawanan sejatinya berasal dan menemukan akar spiritualnya. Kedermawanan bukanlah sekadar dorongan materialistis atau kalkulasi finansial, melainkan pancaran alami dari rasa kasih dan sayang yang menggerakkan empati seseorang tatkala menyaksikan penderitaan sesamanya. Namun, sifat rahman dan rahim ini tidak bekerja secara otomatis tanpa perawatan, sebab jika kedua sifat tersebut tidak dipelihara dengan baik, maka perlahan kepedulian itu bisa luntur dan mengeras oleh egoisme serta kesibukan duniawi.
Cara memelihara sifat mulia ini agar tetap selalu ada dan hidup dalam sanubari adalah dengan meningkatkan ibadah sebagai sarana untuk senantiasa mengingat Allah SWT dan kepekaan terhadap sesama manusia. Melalui kesadaran spiritual yang terjaga, jiwa manusia akan terus terhubung dengan Sumber Kasih Sayang Sang Pencipta sehingga koneksi kebaikannya tidak pernah terputus.
Di samping itu, manusia juga perlu senantiasa berada dan berinteraksi di dalam komunitas karena perlu diingat bahwa manusia tidak hidup sendirian. Manusia terhubung dengan sesama makhluk Tuhan yang lain. Dalam ruang sosial inilah sifat rahman dan rahim kemudian termanifestasikan, di mana kedermawanan tumbuh menjadi tindakan nyata yang merekatkan hubungan antarsesama sekaligus mempertegas jejak ketuhanan yang bersemayam dalam diri setiap manusia dan alam disekitarnya. Wallahua’lam

