Tangis Perpisahan Bulan Ampunan

Publish

23 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
70
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Tangis Perpisahan Bulan Ampunan

Oleh Sobirin Malian, Dosen UAD

Suasana di penghujung Ramadan selalu membawa getaran yang berbeda. Ada semilir angin yang terasa lebih berat, seolah membawa pesan perpisahan dari langit dan bumi. Alam semesta—bumi yang kita pijak hingga planet-planet di cakrawala—seakan tertunduk lesu. Mereka bersedih karena tamu agung, bulan penuh ampunan, akan segera melangkah pergi.

Selama sebulan penuh, pintu-pintu surga dibuka lebar-lebar. Namun kini, pintu itu perlahan mulai merapat. Para malaikat yang turun menyertai keberkahan Lailatul Qadar mulai membentangkan sayap untuk kembali naik ke langit. Langit yang tadinya sibuk dengan lalu lalang makhluk cahaya, kini mulai terasa sunyi. Keberkahan yang tumpah ruah itu mulai ditarik kembali ke haribaan-Nya.

Hati Rasulullah SAW adalah yang paling merasa kehilangan. Menjelang akhir Ramadan, beliau justru semakin "mengencangkan ikat pinggang." Beliau meninggalkan tempat tidur dan menghidupkan malam dengan sujud yang panjang. Beliau bersabda: “Sekiranya umatku tahu keutamaan Ramadan, niscaya mereka mengharapkan agar sepanjang tahun menjadi Ramadan.” Kesedihan beliau adalah bentuk kasih sayang, khawatir jika ada umatnya yang belum sempat membasuh noda hitam di hatinya sebelum bulan ini berlalu. 

Jeritan Penyesalan: "Celakalah Ia..."

Di balik syahdunya perpisahan, terselip peringatan keras bagi mereka yang lalai. Rasulullah SAW bersabda: "Celakalah seseorang yang bulan Ramadan menemuinya, kemudian bulan itu berlalu sebelum ia mendapatkan ampunan." (HR. Tirmidzi). 

Ini adalah tragedi spiritual. Betapa pedih menyadari bahwa saat pintu surga dibuka lebar dan setan dibelenggu, seseorang masih gagal mendapatkan rida-Nya karena terlalu sibuk dengan urusan duniawi yang fana. Penyesalan itu akan semakin menyesakkan ketika kita sadar bahwa kesempatan ini mungkin takkan datang lagi.

Apakah kita akan bertemu lagi dengan Ramadan tahun depan? Tak ada jaminan dari fajar yang terbit besok bahwa umur kita akan sampai pada Ramadan berikutnya. Umur adalah rahasia yang terkunci rapat di Lauhul Mahfuz.

Kesedihan alam semesta adalah peringatan bagi kita: bahwa kesempatan emas ini mungkin adalah yang terakhir. Maka, selagi hilal Syawal belum tampak, jangan biarkan air mata perpisahan ini sia-sia. Bersimpuhlah sedalam-dalamnya, memohon agar nama kita tidak termasuk golongan yang merugi saat pintu surga benar-benar tertutup rapat.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Cahaya Iman dalam Syukur dan Sabar Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta Seorang mukmin, dala....

Suara Muhammadiyah

15 February 2025

Wawasan

Oleh: Muhammad Ridha Basri (Dosen Universitas Ahmad Dahlan) Di Indonesia, tradisi Maulid Nabi seri....

Suara Muhammadiyah

15 September 2025

Wawasan

Anak Saleh (4) Oleh: Mohammad Fakhrudin Ada dua masalah pokok yang telah diuraikan di dalam &ldquo....

Suara Muhammadiyah

14 August 2024

Wawasan

Bung Hatta: Sepatu Bally yang Menginspirasi Anti Korupsi Oleh: Babay Parid Wazdi, Kader Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

26 December 2025

Wawasan

Refleksi Pilpres 2024 (1) Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah Tinggal di Magelang Kota JA....

Suara Muhammadiyah

19 February 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah