Tetap Waras dan Berintegritas di Dalam Sistem yang Tidak Sempurna

Suara Muhammadiyah

29 August 2026

56
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Tetap Waras dan Berintegritas di Dalam Sistem yang Tidak Sempurna

Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

Kita hampir tidak pernah hidup di dalam sistem yang sepenuhnya ideal. Tempat kerja memiliki politik, organisasi memiliki kepentingan, birokrasi memiliki kelemahan, pemimpin memiliki keterbatasan, dan masyarakat memiliki berbagai ketidakadilan yang tidak selalu dapat kita ubah dengan segera. Pada titik tertentu, hampir setiap orang akan berhadapan dengan dilema yang sama, apakah mengikuti arus agar tetap aman, atau menyampaikan apa yang dianggap benar dengan risiko dianggap sulit, tidak loyal, terlalu idealis, bahkan dijauhi. Di sinilah kedewasaan sebenarnya diuji. Bukan sekadar apakah kita berani berbicara, tetapi apakah kita mampu mempertahankan kejernihan pikiran dan integritas tanpa kehilangan kemampuan untuk bertahan dan memberi pengaruh.

Hal pertama yang perlu dijaga adalah kebebasan berpikir. Kita boleh bekerja di dalam sebuah sistem tanpa harus menyerahkan pikiran kita kepada sistem tersebut. Kita boleh mengikuti prosedur tanpa harus menganggap semua prosedur benar. Kita boleh menghormati pemimpin tanpa harus meyakini bahwa pemimpin selalu benar. Kita bahkan boleh melakukan kompromi terhadap hal-hal kecil tanpa harus berkompromi terhadap hal-hal yang menyentuh prinsip.

Kemampuan membedakan hal-hal inilah yang sangat penting. Tidak semua ketidaksepakatan adalah persoalan moral, dan tidak semua persoalan harus dijadikan pertarungan. Ada hal yang sekadar berbeda selera, ada yang kurang efisien, ada yang berisiko, dan ada pula yang sungguh-sungguh menyentuh kejujuran, keselamatan, keadilan, atau pelanggaran terhadap hak orang lain. Orang yang matang tidak memperlakukan semua persoalan dengan intensitas yang sama.

Karena itu, jangan menjadikan “orang kritis” sebagai identitas. Jadilah orang yang berpikir dengan baik. Kritik yang terus-menerus, tanpa prioritas dan tanpa kualitas, pada akhirnya dapat kehilangan daya. Sebaliknya, seseorang yang dikenal tenang, adil, kompeten, dan tidak mudah bereaksi justru memiliki bobot lebih besar ketika akhirnya mengatakan, “Ada sesuatu yang menurut saya perlu kita perhatikan.” Kritik menjadi kuat bukan karena kerasnya suara, melainkan karena orang lain mengetahui bahwa kita tidak berbicara sembarangan.

Sebelum mengkritik orang atau keputusan, biasakan mengkritik pemikiran sendiri terlebih dahulu. Tanyakan, apakah saya benar-benar memiliki fakta yang cukup? Apakah ada informasi yang belum saya ketahui? Apakah saya menolak keputusan ini karena memang berbahaya, atau hanya karena bukan keputusan yang saya sukai? Apakah saya masih bersedia berubah pikiran bila bukti yang lebih kuat muncul? Kemampuan untuk mempertanyakan diri sendiri bukan tanda kelemahan. Justru itulah yang membedakan pemikiran kritis dari kebiasaan membantah. Orang yang benar-benar kritis tidak memiliki kebutuhan untuk selalu menang. Ia memiliki kebutuhan untuk semakin mendekati kebenaran.

Ketika akhirnya perlu berbicara, pikirkan bukan hanya apa yang akan dikatakan, tetapi bagaimana, kapan, dan kepada siapa hal itu sebaiknya disampaikan. Isi yang benar dapat ditolak apabila disampaikan dengan cara yang membuat orang lain merasa dipermalukan atau diserang. Ini bukan berarti kita harus memanjakan ego orang lain atau menyembunyikan kebenaran. Ini berarti memahami bahwa manusia tidak hanya memproses informasi secara rasional; mereka juga memiliki harga diri, posisi, rasa aman, dan kekhawatiran terhadap bagaimana dirinya terlihat di hadapan orang lain. Jika tujuan kita sungguh-sungguh memperbaiki keadaan, cara penyampaian merupakan bagian dari tanggung jawab kita.

Mulailah sebanyak mungkin dari tujuan bersama. Alih-alih mengatakan, “Keputusan ini keliru,” kita dapat mengatakan, “Saya kira kita mempunyai tujuan yang sama, tetapi saya melihat risiko yang mungkin belum cukup dipertimbangkan.” Alih-alih menyerang orang, jelaskan persoalannya. Alih-alih hanya menunjukkan kelemahan, tawarkan alternatif jika memang tersedia. Dan ketika belum memiliki solusi, jangan berpura-pura memilikinya. Mengatakan, “Saya belum tahu jalan keluarnya, tetapi data ini menunjukkan masalah yang sebaiknya tidak kita abaikan,” jauh lebih jujur daripada menyembunyikan masalah hanya karena kita belum mempunyai jawabannya.

Pilih pula arena yang tepat. Tidak setiap koreksi perlu dilakukan di depan banyak orang. Banyak persoalan dapat diselesaikan dengan lebih baik dalam percakapan pribadi yang jujur. Memberi ruang kepada seseorang untuk mempertimbangkan kembali pandangannya tanpa kehilangan muka sering kali meningkatkan kemungkinan perubahan. Namun ada pula persoalan yang terlalu serius untuk hanya diselesaikan secara informal. Ketika menyangkut manipulasi, keselamatan, penyalahgunaan kekuasaan, pelanggaran hukum, atau kerugian serius terhadap orang lain, dokumentasi dan jalur yang lebih formal mungkin diperlukan. Kearifan bukan berarti selalu halus; kearifan berarti mampu menyesuaikan tindakan dengan besarnya persoalan.

Jangan pula menganggap diamnya orang lain sebagai bukti bahwa mereka setuju. Dalam banyak lingkungan, orang dapat menyimpan pandangan yang berbeda tetapi memilih tidak mengungkapkannya karena merasa risikonya terlalu besar. Karena itu, sebelum merasa sendirian, carilah percakapan yang sehat dengan orang-orang yang dapat dipercaya. Bukan untuk membentuk kelompok gosip atau oposisi, melainkan untuk menguji persepsi kita. Tanyakan dengan rendah hati, “Apakah kamu juga melihat hal yang sama, atau mungkin ada sesuatu yang saya lewatkan?” Kita membutuhkan orang lain bukan hanya sebagai sekutu, tetapi juga sebagai cermin yang mengoreksi kemungkinan bias kita sendiri.

Di sisi lain, jangan menggantungkan seluruh keberanian pada harapan bahwa orang lain akan mendukung. Ada saat ketika seseorang tetap harus mengambil posisi meskipun popularitas berada di arah sebaliknya. Untuk itulah setiap orang membutuhkan batas moral pribadi. Kita perlu mengetahui sejak awal hal-hal apa yang masih bisa dinegosiasikan dan hal-hal apa yang tidak akan kita lakukan, bahkan jika terdapat tekanan. Tanpa batas seperti itu, manusia sangat mudah menyesuaikan diri sedikit demi sedikit. Kompromi yang pada awalnya terasa mengganggu perlahan menjadi biasa, kemudian dibenarkan, dan akhirnya tidak lagi dianggap sebagai kompromi. Integritas jarang hilang sekaligus; ia lebih sering terkikis secara perlahan.

Pada saat yang sama, jangan romantisasi keberanian. Mengorbankan diri bukan selalu bentuk keberanian tertinggi. Kadang-kadang menunggu, mengumpulkan bukti, memperkuat posisi profesional, membangun relasi, atau mencari waktu yang lebih tepat justru lebih efektif daripada konfrontasi spontan. Tujuan kita bukan membuktikan kepada dunia bahwa kita berani. Tujuan kita adalah memberi peluang terbesar agar sesuatu yang benar dapat menghasilkan perubahan. Keberanian yang matang mempertimbangkan konsekuensi tanpa menjadikan konsekuensi sebagai satu-satunya dasar keputusan.

Karena itu, bangunlah kehidupan yang membuat kita semakin mampu mengatakan “tidak”. Tingkatkan kompetensi. Jaga reputasi. Bangun hubungan yang sehat. Miliki keterampilan yang bernilai di luar satu institusi. Kelola keuangan dengan baik. Jangan membuat seluruh harga diri dan masa depan bergantung pada penerimaan satu kelompok atau satu pemimpin. Semakin sedikit pilihan yang kita miliki, semakin besar kemungkinan kita dipaksa mengorbankan suara hati demi rasa aman. Kemandirian profesional dan finansial bukan hanya persoalan karier; dalam banyak keadaan, keduanya juga menjadi fondasi kebebasan moral.

Dan akhirnya kita harus menerima kenyataan yang sulit, tidak semua sistem dapat kita perbaiki. Ada lingkungan yang bersedia mendengar kritik meski tidak nyaman. Ada lingkungan yang lambat berubah tetapi masih memiliki ruang untuk perbaikan. Namun ada pula lingkungan yang secara konsisten menghukum kejujuran, menyukai kabar yang menyenangkan daripada kenyataan, menganggap pertanyaan sebagai pembangkangan, dan menuntut kesetiaan terhadap orang lebih tinggi daripada kesetiaan terhadap kebenaran. Jika berbagai cara yang wajar telah dicoba dan sistem tetap menuntut kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan prinsip paling mendasar, meninggalkan sistem tersebut bukan selalu kegagalan. Kadang-kadang bertahan justru mempunyai harga moral yang terlalu tinggi.

Hidup di dalam sistem yang tidak sempurna membutuhkan keseimbangan yang tidak sederhana. Kita perlu cukup realistis untuk memahami kekuasaan, tetapi tidak sampai menjadi oportunis. Cukup berani untuk mengatakan yang benar, tetapi tidak sampai kehilangan pertimbangan. Cukup adaptif untuk bekerja bersama orang lain, tetapi tidak sampai kehilangan diri sendiri. Dan cukup rendah hati untuk mengetahui bahwa kita pun dapat salah.

Barangkali pegangan yang paling sederhana adalah, jangan menjual hati nurani hanya agar diterima, tetapi jangan pula menghabiskan seluruh kemampuan kita untuk berbuat baik hanya demi memenangkan satu perdebatan. Jaga prinsip, periksa fakta, pilih pertempuran dengan hati-hati, berbicaralah dengan tujuan memperbaiki, bangun kekuatan agar tidak mudah dipaksa, dan ketahuilah batas yang tidak akan kita lewati.

Sistem boleh tidak sempurna. Kita pun tidak akan pernah sempurna. Tetapi di antara keduanya masih tersedia satu ruang yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab kita, memilih bagaimana kita berpikir, bagaimana kita berbicara, bagaimana kita memperlakukan orang lain, apa yang bersedia kita kompromikan, dan pada titik mana kita akan mengatakan, dengan tenang tetapi tegas, “Sampai di sini saya masih bisa menyesuaikan diri; setelah ini saya akan kehilangan diri saya sendiri.” Menjaga ruang itulah barangkali salah satu bentuk integritas paling penting dalam kehidupan.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Berprasangka Baik di Bulan Mulia Oleh: Dr. Amalia Irfani, M.Si, LPPA PWA Kalbar & Dosen  F....

Suara Muhammadiyah

19 March 2025

Wawasan

Baju Lebaran, Simbol Kesucian atau Ritual Konsumsi Tahunan? Oleh: Ratna Arunika, Anggota LLHPB &nda....

Suara Muhammadiyah

17 March 2026

Wawasan

Oleh: Suko Wahyudi, PRM Timuran Yogyakarta Takut dicela dan menjaga kehormatan di mata manusia mema....

Suara Muhammadiyah

30 January 2025

Wawasan

Dokter, Pasien, dan Media Sosial: Ketika Komunikasi Berubah Menjadi Konflik di Ruang Publik Oleh: d....

Suara Muhammadiyah

10 August 2026

Wawasan

Dinamika Gerakan Merintis AUM di Bidang Pendidikan Oleh: Noval Sahnitri, Ketua Bidang KDI PW IPM La....

Suara Muhammadiyah

25 January 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah