Tingginya Keimanan, Nabi Ibrahim Menyingkap Kebenaran di Tengah Belenggu Kesesatan

Publish

22 July 2025

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
1079
Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

Dr KH Muhammad Saad Ibrahim, MA

PONOROGO, Suara Muhammadiyah – Nabi Ibrahim merupakan nabi pilihan Allah yang dijuluki Ulul Azmi, yakni gelar yang diberikan untuk Nabi dan Rasul yang memiliki ketabahan dan kesabaran luar biasa dalam menjalankan tugas kenabian.

Dalam sejarahnya, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Saad Ibrahim menyebut, Nabi Ibrahim menetap di Palestina bersama istrinya yang bernama Sarah dan anaknya yang bernama Ishak.

“Lalu istri beliau yang kedua Hajar, itu tinggal di Makkah. Jarak antara Kota Makkah dengan Palestina, kalau penerbangan kira-kira hampir 1000 kilometer,” ujarnya saat Pengajian Ahad Pagi Al Manar di Universitas Muhammadiyah Ponorogo, Jawa Timur, Ahad (20/7).

Kepribadian Nabi Ibrahim, singkap Saad, merupakan pribadi yang sangat gigih dan berani dalam menjalankan dakwah. Lebih-lebih, dalam menghancurkan berhala milik sesembahan Raja Namrud, raja jahat, bengis, pongah, dan zalim.

“Beliau menghancurkan berhala dengan kapak, kecuali satu—berhala yang paling besar. Berhala besar tidak dihancurkan, lalu menggantungkan kapak yang digunakan untuk menghancurkan berhala-berhala kecil itu di tangan patung besar tersebut,” terangnya.

Di situlah Raja Namrud sangat gusar, lalu mencari siapa pelakunya. Akhrinya kemudian, persangkaan jatuh kepada pemuda, Nabi Ibrahim. Di sini Nabi Ibrahim menjawab tuduhan penghancuran itu, “Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya. Maka tanyakanlah kepada berhala itu jika dia dapat berbicara.”

“Intinya kemudian Nabi Ibrahim mengatakan, “La ya wong begitu kok kalian sembah. Mereka yang hancur tidak bisa membela diri. Bahkan yang terbesar pun juga tidak bisa menolong di situ, lalu kok kalian sembah,” cerita Saad.

Namun, matinya akal jernih dan terpojok atas kebenaran autentik, kaum yang menuduh itu tidak terima, kendati rasional. “Kadang-kadang, orang itu mendahulukan emosinya, mengabaikan logika-logikanya,” tegasnya. Lalu Nabi Ibrahim dibakar secara hidup-hidup. “Tapi, Allah selamatkan Nabi Ibrahim dari kobaran api itu,” sambungnya.

Di situlah manifestasi sifat tawakal Nabi Ibrahim. Ia mendapat pertolongan Allah dengan diselamatkan dari kobaran api. “Wahai api, jadilah kalian itu dingin dan tidak membahayakan untuk Nabi Ibrahim,” tuturnya.

Lantas, api itu menjadi dingin atas titah Allah. Bahkan, pakaian yang dikenakannya tetap utuh—tidak hangus terbakar. “Inilah Nabi Ibrahim,” ucap Saad, yang menjadi teladan utama atau uswatun hasanah bagi umat Islam kini dan di masa depan. (Cris/Anggi/Nurvi)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakart....

Suara Muhammadiyah

10 April 2025

Berita

MELBOURNE, Suara Muhammadiyah — Dosen Arsitektur Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Maka....

Suara Muhammadiyah

7 November 2024

Berita

BENGKULU, Suara Muhammadiyah – Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar konsolida....

Suara Muhammadiyah

21 August 2025

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah – Di tengah melonjaknya angka penderita diabetes melitus di Indon....

Suara Muhammadiyah

17 September 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Tiada yang diketahui banyak dari Bumi Sulawesi Selatan. Lebih....

Suara Muhammadiyah

24 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah