Ujian Allah atau Kesalahan Diri

Suara Muhammadiyah

25 September 2026

156
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Ujian Allah atau Kesalahan Diri

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi

Jalan pagi saya bersama istri di Komplek Pondok Hijau terhenti sejenak setelah disalip sepeda motor yang dikendarai pasangan suami-istri.

Motor itu melaju sangat pelan, tetapi terlihat oleng. Perempuan yang duduk di jok belakang tampak pucat. Tangannya mulai lepas dari pegangan dan hampir jatuh.

Beberapa meter kemudian, motor itu menepi dan berhenti. Perempuan pucat itu langsung jatuh pelan-pelan sambil disangga suaminya untuk rebahan di pinggir aspal.

Istri saya segera membantu mengganjal kepalanya agar tidak terbentur aspal.

Tidak lama kemudian ia muntah. Suaminya tampak cemas, istrinya terkulai dan pingsan.

Saya mengetuk pagar sebuah rumah, entah siapa penghuninya, untuk meminta air hangat. Siapa tahu bisa membantu. Apes, tidak ada orang.

Sementara itu, suaminya terus memijat dan mengajak istrinya bicara. Perempuan itu hanya mengeluarkan napas terengah-engah dengan mata terpejam.

Beberapa menit kami berada dalam situasi panik.

Tiba-tiba, ada lelaki yang saya tahu letak rumahnya. Ia seorang dokter yang sedang jogging. Ia berhenti dan memeriksa perempuan tersebut.

Setelah itu, ia bertanya dengan nada santun.

“Rumah di mana?”

“Kami di Legoso, dekat Kompleks Telkom,” jawab sang suami.

“Tunggu sebentar, ya. Saya ambil mobil,” sahut dokter itu.

Saya tidak tahu nama dokter itu. Namun, di depan rumahnya memang ada plang nama dokter dan beberapa mobil terparkir di garasinya.

Selang beberapa menit, dokter itu datang dengan mobil sedan Mercedes berwarna hitam. Ia kemudian meminta suaminya menaikkan istrinya yang masih pingsan ke dalam mobil untuk diantar ke rumah pasien.

Sambil melanjutkan jalan kaki, saya sempat membatin,

“Mengapa dokter baik itu memilih mobil Mercedes untuk mengantar orang sakit yang tidak ia kenal? Bukankah ada beberapa mobil lain di rumahnya yang bisa digunakan?”

Saya enggan menerka-nerka alasannya.

Yang pasti, saya kagum pada kebaikan dokter itu. Saya hanya bisa mengucap syukur karena Allah telah mempertontonkan sebuah kebaikan yang belum mampu saya tiru.

Peristiwa sederhana itu kemudian membuat saya berpikir tentang perjalanan hidup saya sendiri.

Dalam hidup ini, saya sering mengalami rasa sakit, entah karena penyakit, karena perasaan ini dan itu, kegagalan, ataupun berbagai keadaan yang membuat saya terpuruk.

Namun, jika saya mau melihat kembali dengan cermat dan pikiran yang jernih, ternyata dari berbagai peristiwa itu toh nyatanya saya tetap mampu bertahan hingga sekarang.

Meski terkadang harus jatuh hingga tumbang, entah bagaimana, selalu ada saja kekuatan baru yang datang melalui perantara, entah siapa dan dari arah mana yang membantu saya bangkit.

Perlahan-lahan saya pun bisa berdiri kembali.

Mungkin seperti perempuan yang terkulai di pinggir jalan tadi. Ketika ia tidak berdaya, tiba-tiba ada orang yang datang menolong.

Dokter itu hadir melalui jalan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya.

Saya pun harus haqqul yakin bahwa Allah memberikan berbagai ujian dalam kehidupan ini.

Bentuknya bisa sangat beragam. Namun, pertolongan-Nya pun dapat datang melalui berbagai perantara: melalui orang lain, anugerah kekuatan yang tak kasat mata, kesabaran, kemampuan menerima keadaan, atau jalan keluar yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan.

Seberat apa pun ujian yang saya alami di mata orang lain, kenyataannya saya mampu melewatinya.

Karena itu, saya merasa perlu lebih adil dalam memaknai setiap peristiwa yang terjadi.

Jika saya melakukan hitung-hitungan, dari 60 tahun perjalanan hidup yang telah saya lalui, berapa lama sebenarnya saya merasakan sakit, kesengsaraan, atau kegagalan dalam mendapatkan apa yang saya inginkan?

Rasanya, tidak sampai bisa dihitung dengan jari.

Sebaliknya, coba lihat betapa besar dan luasnya rezeki serta kenikmatan yang telah saya peroleh selama ini.

Jika dibandingkan antara hal-hal yang negatif dan positif, sungguh sangat jauh perbedaannya.

Namun, introspeksi tidak cukup hanya dengan menghitung nikmat dan menyebut penderitaan sebagai ujian.

Saya juga perlu bertanya dengan jujur,

“Mengapa saya gagal? Mengapa saya pernah hidup sengsara dan terpuruk?”

Jawabannya tentu tidak sesederhana bahwa semua itu terjadi karena kehendak Allah sebagai ujian.

Bisa jadi, sebagian penderitaan itu terjadi karena sikap hidup saya sendiri yang berlebihan.

Bisa jadi karena saya serakah, selalu ingin memperoleh hasil secara instan, ceroboh, lalai, atau mengabaikan aturan hingga menyebabkan kerugian bagi orang lain.

Artinya, tidak semua keterpurukan harus segera saya sebut sebagai ujian.

Ada kalanya Allah menguji saya dengan sebuah peristiwa. Namun, ada pula peristiwa yang terjadi sebagai konsekuensi dari pilihan dan kesalahan saya sendiri.

Di sinilah saya perlu belajar lebih jujur kepada diri sendiri.

Jangan-jangan selama ini saya terlalu cepat menyebut penderitaan sebagai ujian, padahal ada bagian dari penderitaan itu yang justru lahir dari kesalahan saya sendiri.

Keserakahan, kecerobohan, kelalaian, dan sikap abai bisa menjadi pintu masuk bagi kesengsaraan.

Maka, ketika mengalami keterpurukan, mungkin saya tidak cukup hanya bertanya,

“Apa ujian yang sedang Allah berikan kepada saya?”

Saya juga perlu bertanya,

“Apa yang telah saya lakukan sehingga keadaan ini terjadi?”

Pertanyaan kedua mungkin lebih menyakitkan. Namun, bisa jadi justru di situlah letak pelajaran yang paling penting: belajar menerima bahwa tidak semua kesalahan harus dibebankan kepada keadaan, apalagi kepada orang lain. Sebagian mungkin memang harus saya akui sebagai kesalahan diri sendiri.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Oleh: Deni Asy'ari, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah Disela-sela acara ....

Suara Muhammadiyah

20 November 2025

Humaniora

Cerpen: Mustofa W Hasyim Dengan mudik dia merasa menjadi manusia. Dia baru menyadari ketika mudik d....

Suara Muhammadiyah

26 January 2024

Humaniora

Milad ke-66 Oleh : ESu Setahun usiakudi atas usiamuaku lahir lima enamengkau didirikan lima tujuht....

Suara Muhammadiyah

18 November 2023

Humaniora

Transformasi Muhammadiyah (Selarik Catatan Perjalanan) Oleh: Herman Oesman, Dosen Sosiologi S1 dan ....

Suara Muhammadiyah

15 December 2024

Humaniora

Suatu Hari  Cerpen Naora Nandini  Pada suatu hari di Sekolah, ada seorang anak bernama A....

Suara Muhammadiyah

25 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah