AIK Jaga Kemandirian Paradigma Keilmuan Kampus Muhammadiyah

Suara Muhammadiyah

11 February 2026

555
Foto Istimewa

Foto Istimewa

BANDUNG, Suara Muhammadiyah - Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Zamah Sari MAg menegaskan pentingnya Al-Islam Kemuhammadiyahan (AIK) sebagai fondasi utama penyelenggaraan pendidikan di Perguruan Tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah (PTMA).

Hal tersebut disampaikannya saat membuka Seminar dan Workshop Kurikulum Akademik bertema “Transformasi Kurikulum & Pembelajaran Nyata Al-Islam Kemuhammadiyahan: Rekonstruksi Epistemologis dari Teks ke Konteks” yang digelar oleh LPPAIK di Auditorium KH Ahmad Dahlan pada Selasa (10/02/2026).

Menurut Zamah, keberadaan AIK bukan sekadar pelengkap kurikulum, melainkan alasan mendasar berdirinya perguruan tinggi Muhammadiyah. “Kenapa harus ada AIK? Karena PTMA berdiri memang atas dasar Al-Islam dan Kemuhammadiyahan. Ratusan kampus Muhammadiyah berdiri karena AIK ini, bukan motif yang lain,” ujarnya.

Dia menambahkan bahwa penerapan AIK juga dilakukan di sejumlah kampus Muhammadiyah di luar negeri. Hal ini menunjukkan bahwa nilai tersebut menjadi identitas global pendidikan persyarikatan Muhammadiyah.

Dia menjelaskan bahwa perguruan tinggi Muhammadiyah memiliki dua fungsi utama, yakni menjadi pusat keunggulan dan kekuatan penggerak inovasi. “Kampus Muhammadiyah harus menjadi pusat unggulan dan kekuatan penggerak. Dakwah dan tajdid, termasuk inovasi keilmuan, merupakan tanggung jawab perguruan tinggi Muhammadiyah,” tegasnya.

Oleh karena itu, kampus Muhammadiyah, termasuk UM Bandung, tidak boleh sekadar mengikuti arus pengembangan pendidikan global. Namun, kampus-kampus Muhammadiyah harus membangun tradisi keilmuan yang berakar pada epistemologi Islam.

Zamah menilai AIK berperan penting dalam menjaga kemandirian paradigma keilmuan kampus Muhammadiyah. “Kampus Muhammadiyah tidak menari dengan gendang orang lain. Oleh karena itu, mesin keilmuan dan teknologi yang kampus kita kembangkan harus mencerminkan epistemologi Islam,” katanya.

Dengan pendekatan tersebut, kata Zamah, pengembangan ilmu pengetahuan di PTMA diharapkan mampu menghadirkan perspektif yang orisinal sekaligus relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa internalisasi AIK tidak hanya menjadi tanggung jawab mahasiswa, tetapi harus dimulai dari seluruh pimpinan dan sivitas akademika. “AIK jangan hanya dikonsumsi mahasiswa. Yang harus lebih dulu memahami dan menginternalisasikannya adalah pimpinan, dosen, dan tenaga kependidikan,” ujarnya.

Dia juga menambahkan bahwa pada hakikatnya seluruh dosen di UM Bandung adalah dosen AIK. Kenapa? Karena setiap mata kuliah memiliki tanggung jawab mengintegrasikan nilai-nilai Islam dalam proses pembelajaran di kampus.

Melalui penguatan AIK sebagai ruh pendidikan tinggi Muhammadiyah, UM Bandung diharapkan mampu melahirkan lulusan yang unggul secara akademik, memiliki integritas keislaman yang kuat, dan mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat.*(FA)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Ratusan jamaah mendapatkan sayuran dan lauk pauk setelah pengajian di ....

Suara Muhammadiyah

27 July 2026

Berita

SOLO, Suara Muhammadiyah - Fakultas Farmasi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) kembali menyele....

Suara Muhammadiyah

15 January 2024

Berita

BOGOR, Suara Muhammadiyah – PCM dan PCA Gunung Putri merespons cepat musibah banjir yang terja....

Suara Muhammadiyah

5 March 2025

Berita

BULUKUMBA, Suara Muhammadiyah - Madrasah Aliyah Swasta (MAS) Palampang Bulukumba dalam dua tahun ter....

Suara Muhammadiyah

18 July 2024

Berita

SEMARANG, Suara Muhammadiyah — Mengusung semangat kemandirian ekonomi umat yang murni mengakar....

Suara Muhammadiyah

19 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah