Anak yang Sering Diingatkan, Kini Berkali-kali Juara Matematika

Suara Muhammadiyah

31 July 2026

130
Istimewa

Istimewa

Anak yang Sering Diingatkan, Kini Berkali-kali Juara Matematika

Oleh: Ahmad Mahmudi

"Pendidikan yang sesungguhnya bukan tentang menemukan anak yang paling pintar, melainkan menemukan kelebihan yang tersembunyi di dalam diri setiap anak."

Di sudut sebuah ruang kelas di SD Muhammadiyah 16 Surabaya, seorang guru hampir setiap hari mengucapkan kalimat yang sama.

"Yusuf, ayo fokus."

Beberapa menit kemudian, kalimat itu kembali terdengar.

"Yusuf, bukunya dibuka dulu."

Sesekali Yusuf berdiri tanpa alasan yang dipahami teman-temannya. Ia berjalan ke sana kemari, larut dalam dunianya sendiri, lalu tiba-tiba tersenyum atau mengucapkan sesuatu yang spontan. Bagi orang yang baru mengenalnya, perilaku itu mungkin dianggap sebagai tanda bahwa ia sulit mengikuti pembelajaran.

Tidak sedikit orang yang menilai kemampuan seorang anak hanya dari apa yang tampak di permukaan.

Namun, semua anggapan itu runtuh ketika nama Mukhammad Yusuf Ibrahim Hidayatulloh berkali-kali dipanggil sebagai peraih medali Olimpiade Matematika.

Anak berkebutuhan khusus yang setiap hari masih membutuhkan arahan dalam aktivitas belajar justru mampu mengalahkan ribuan peserta dari berbagai daerah, bahkan dari berbagai negara.

Prestasinya berbicara lebih lantang daripada segala prasangka.

Ia meraih Gold Medal International Kangaroo Mathematics Contest (IKMC) 2026, Gold Medal Surabaya Open Math Challenge (SOMC) 2026, Silver Medal Olimpiade Omni Sains Indonesia (OSI), dan Gold Medal National Education Olympiad (NEO).

Prestasi yang bahkan tidak mudah diraih oleh siswa reguler sekalipun.

Sebagai guru kelas Yusuf pada tahun ajaran 2025/2026, saya menyaksikan sendiri perjalanan itu.

Setiap pagi saya bertemu anak yang sama.

Anak yang harus diingatkan untuk kembali duduk.

Anak yang perlu diarahkan ketika mulai kehilangan fokus.

Anak yang masih membutuhkan pendampingan saat berwudu dan melaksanakan salat.

Anak yang terkadang sulit dipahami oleh orang-orang yang baru mengenalnya.

Namun, semua itu berubah ketika angka-angka hadir di hadapannya.

Di depan soal-soal matematika, Yusuf seperti menemukan dunianya sendiri.

Matanya berbinar.

Konsentrasinya tumbuh.

Ia mengerjakan soal demi soal dengan ketekunan yang mengagumkan.

Saat itulah saya belajar satu pelajaran yang tidak pernah diajarkan di bangku kuliah.

"Keterbatasan seseorang tidak pernah mampu menjelaskan seluruh kemampuannya."

Perjalanan memahami makna pendidikan inklusif sesungguhnya juga merupakan perjalanan saya sebagai seorang guru.

Ketika pertama kali bergabung di SD Muhammadiyah 16 Surabaya pada akhir tahun 2017, saya datang dengan membawa keraguan.

Sebelumnya saya mengajar hampir sepuluh tahun di Kota Soto. Saya terbiasa mengajar di sekolah dengan pola pembelajaran yang relatif seragam.

Ketika melihat murid reguler belajar dalam satu kelas bersama murid berkebutuhan khusus, muncul pertanyaan yang terus mengganggu pikiran saya.

"Apakah model pembelajaran seperti ini benar-benar dapat berhasil?"

Keraguan itu bertahan cukup lama.

Namun, seiring waktu, rasa ragu berubah menjadi rasa ingin tahu.

Saya memilih kembali menempuh pendidikan di Universitas Muhammadiyah Surabaya untuk memperdalam Pendidikan Dasar, kemudian melanjutkan studi magister di Universitas Negeri Surabaya.

Semakin dalam saya mempelajari pendidikan inklusif, semakin saya memahami bahwa keberhasilan sekolah bukanlah menyamakan semua anak.

Justru sebaliknya.

Sekolah yang baik adalah sekolah yang mampu menemukan keunikan, potensi, dan cara belajar setiap anak.

Keyakinan itu benar-benar menemukan maknanya ketika saya mendampingi Yusuf.

Dialah yang mengubah cara pandang saya tentang pendidikan.

Yusuf bukanlah satu-satunya bukti bahwa setiap anak memiliki panggungnya sendiri.

Di kelas yang sama, saya juga mendampingi Quinzafira Ariella Puspita Bening, siswi yang berulang kali mengukir prestasi nasional di cabang olahraga Wushu.

Beberapa bulan kemudian, empat siswi SD Muhammadiyah 16 Surabaya kembali mengharumkan nama Indonesia dengan meraih Silver Medal Japan Design Idea and Invention Expo (JDIE) 2026 di Osaka, Jepang.

Prestasi demi prestasi lahir dari anak-anak yang memiliki karakter, cara belajar, dan bakat yang berbeda.

Ada yang unggul di bidang akademik.

Ada yang bersinar dalam olahraga.

Ada yang menunjukkan kreativitas luar biasa.

Tidak semua anak memiliki kemampuan yang sama.

Namun, setiap anak memiliki kesempatan yang sama untuk berhasil.

Di sekolah ini saya belajar bahwa tidak ada istilah anak gagal.

Yang ada hanyalah anak yang belum menemukan kekuatan terbaik dalam dirinya.

Karena itu, sekolah tidak lagi sibuk menentukan siapa yang menjadi juara kelas.

Sekolah justru berusaha memastikan setiap anak mampu menjadi juara bagi dirinya sendiri.

"Setiap anak adalah bintang. Tugas pendidikan bukan membuat semua bintang bersinar dengan cara yang sama, melainkan memastikan tidak ada satu pun yang kehilangan cahayanya."

Sering kali saya membayangkan...

Bagaimana jika Yusuf sejak awal hanya dinilai dari kekurangannya?

Mungkin ia akan terus dicap sebagai anak yang sulit diatur.

Mungkin ia tidak pernah diberi kesempatan mengikuti olimpiade.

Mungkin ia tidak pernah berdiri di podium menerima medali.

Dan mungkin dunia tidak akan pernah mengetahui bahwa di balik segala keterbatasannya tersimpan kecerdasan yang luar biasa.

Hari ini, saya tidak lagi mengingat Yusuf sebagai anak yang sering harus diingatkan.

Saya mengenangnya sebagai murid yang telah mengajarkan pelajaran paling berharga kepada gurunya.

Bahwa tugas seorang pendidik bukan memilih siapa yang pantas berhasil.

Melainkan membuka jalan agar setiap anak memperoleh kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka mampu.

Sebab pada akhirnya, pendidikan inklusif bukan sekadar menghadirkan anak-anak dengan latar belakang yang berbeda dalam satu ruang kelas.

Pendidikan inklusif adalah keyakinan bahwa setiap anak memiliki martabat, hak, dan potensi yang sama untuk tumbuh menjadi manusia yang bermanfaat.

Dan ketika seorang guru memilih untuk melihat potensi sebelum melihat keterbatasan, saat itulah pendidikan benar-benar memanusiakan manusia.

"Anak berkebutuhan khusus tidak membutuhkan belas kasihan. Mereka membutuhkan kesempatan. Sebab ketika kesempatan itu diberikan, mereka sering kali mampu melampaui batas yang selama ini diciptakan oleh prasangka."

Penulis merupakan Guru di SD Muhammadiyah 16 Surabaya Jatim


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Proyek 1 Triliun Oleh: Joko Intarto  Permata Bank Syariah (PBS) sebagai wakif sistem informas....

Suara Muhammadiyah

20 November 2023

Humaniora

Washli Sjafie: Nusantarakan Pendidikan Muhammadiyah Kalimantan Barat Oleh: Amalia Irfani Keb....

Suara Muhammadiyah

6 October 2023

Humaniora

Oleh: Deni Asy'ari, Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah Disela-sela acara ....

Suara Muhammadiyah

20 November 2025

Humaniora

In Memoriam Hakim Bismar Siregar : Dari Sipirok Menegakkan Keadilan dengan Hati Oleh: Haidir Fitra ....

Suara Muhammadiyah

19 April 2025

Humaniora

SM Tower dan Semangat Pemberdayaan "Business is Business",  memang demikianlah ekosistem sebua....

Suara Muhammadiyah

15 October 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah