YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta kembali mengukuhkan reputasinya sebagai madrasah kader berprestasi di tingkat nasional. Dalam ajang OlympicAD VIII (Olimpiade Ahmad Dahlan) yang digelar di Makassar pada 12–14 Februari 2026, Mu’allimin mengirimkan 38 siswa dan 2 guru untuk berpartisipasi dalam kejuaraan tersebut.
Kontingen Mu’allimin sukses memborong 32 medali, 20 siswa memperoleh medali emas, 1 guru mendapatkan medali emas dan 11 siswa medali perak, dari 21 cabang lomba yang diikuti.
Ajang OlympicAD merupakan kompetisi dua tahunan bergengsi yang mempertemukan sekolah tingkat SMP dan SMA Muhammadiyah sederajat dari seluruh Indonesia. Tidak sekadar menjadi arena adu prestasi, OlympicAD adalah panggung pembuktian kualitas kader Muhammadiyah dalam bidang akademik, seni, literasi, teknologi, hingga keislaman.
Atmosfer kompetisi yang kompetitif dan penuh sportivitas menjadikan setiap peserta tertantang untuk tampil terbaik sekaligus menjunjung tinggi nilai-nilai persyarikatan.
Keberhasilan Mu’allimin diraih melalui proses panjang dan persiapan yang matang. Sejak jauh hari, madrasah melakukan pemetaan potensi santri, seleksi internal berjenjang, serta program pembinaan intensif yang terstruktur dan terukur. Para pembina mendampingi peserta melalui simulasi lomba, penguatan materi, hingga pelatihan mental bertanding.
Dengan manajemen persiapan yang profesional dan semangat kolektif yang kuat, para santri tampil maksimal, percaya diri, dan mampu menunjukkan performa unggul di berbagai cabang lomba, mulai dari Poster, Dakwah Digital, Musabaqah Fahmil Qur’an (MFQ), Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ), Musabaqah Hifzhil Qur’an (MHQ), Olimpiade IPA dan Fisika, ISMU in English dan Arabic, Musikalisasi Puisi, hingga Inovasi Pembelajaran Guru.
Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta, Mhd. Lailan Arqam, menegaskan bahwa kompetisi adalah bagian integral dari proses kaderisasi. “Karena lomba motivasinya adalah motivasi untuk berprestasi. Untuk menjadi berprestasi harus punya mental-mental juara,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa medali hanyalah indikator, sedangkan nilai utama dari kompetisi adalah pembentukan karakter tangguh, daya juang tinggi, ketekunan, serta kemampuan bekerja dalam tekanan.
Sebagai sekolah kader di bawah naungan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Mu’allimin memandang prestasi bukan sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai sarana membangun generasi yang berdampak (impactful).
Semangat kompetisi yang dikembangkan adalah kompetisi yang sehat—mendorong kolaborasi, integritas, dan kontribusi nyata. Para santri tidak hanya dilatih untuk unggul secara individu, tetapi juga untuk membawa manfaat bagi lingkungan, persyarikatan, dan masyarakat luas.
Capaian 21 emas dan 11 perak ini sekaligus mempertegas konsistensi Mu’allimin dalam membangun budaya mutu dan tradisi prestasi.
Madrasah terus melakukan inovasi dalam sistem pembinaan, penguatan kurikulum, serta integrasi nilai Al-Islam dan Kemuhammadiyahan dengan penguasaan sains, teknologi, bahasa, dan seni. Sinergi antara pimpinan, guru, pembina, santri, dan orang tua menjadi fondasi kokoh dalam melahirkan generasi unggul yang siap bersaing di level nasional maupun global.
Momentum OlympicAD VIII menjadi energi baru bagi Mu’allimin untuk terus melangkah lebih jauh. Dengan komitmen kuat terhadap kualitas, karakter, dan keberdampakan, Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta menegaskan diri sebagai pusat kaderisasi yang tidak hanya melahirkan juara, tetapi juga pemimpin masa depan yang berintegritas, visioner, dan membawa kemaslahatan bagi umat dan bangsa. (Humas/Nafisa)

