Sjafruddin Prawiranegara dan Motif Ekonomi yang Tidak Manusiawi
Oleh: Buya Anwar Abbas
Setiap orang yang melakukan suatu pekerjaan tentu memiliki motif yang mendorongnya. Dalam kegiatan ekonomi dan bisnis, terdapat salah satu motif yang sangat menonjol, yaitu motif ekonomi, di mana pelaku berusaha memperoleh keuntungan sebesar-besarnya dengan tenaga, modal, dan biaya yang sekecil-kecilnya. Akibatnya, kita kerap melihat orang menjual barang dagangannya dengan harga setinggi mungkin demi meraih keuntungan maksimal sesuai harapannya.
Banyak pihak memandang bahwa motif ekonomi tersebut merupakan hukum alam yang berlaku universal. Namun, pandangan ini dibantah oleh Sjafruddin Prawiranegara. Ia menegaskan bahwa hal itu bukanlah hukum alam, melainkan hasil dorongan hawa nafsu dari masing-masing individu. Dengan demikian, motif ekonomi sebagaimana dipahami dalam perspektif Barat, menurut Sjafruddin, tidak lain adalah cerminan dari kerakusan dan ketamakan manusia.
Oleh karena itu, jika ada individu atau masyarakat yang bertindak semata-mata berdasarkan motif ekonomi, maka menurut Sjafruddin, mereka termasuk dalam kategori yang tidak beradab. Jika kegiatan ekonomi dalam suatu masyarakat hanya dikelola dengan berlandaskan motif tersebut, maka masyarakat yang terbentuk bukanlah masyarakat yang baik dan beradab, melainkan masyarakat yang kehilangan nilai kemanusiaan. Hal ini terjadi karena dalam praktiknya, mereka tidak lagi memperhatikan, mempertimbangkan, dan menjunjung tinggi nilai-nilai moral serta akhlak.
Sjafruddin kemudian membedakan hal tersebut dengan sikap orang-orang yang masih tunduk dan patuh pada ajaran agama Islam. Menurutnya, kekuatan yang mendorong perilaku dalam bidang ekonomi dan bisnis bukanlah motif ekonomi, melainkan ajaran agama itu sendiri. Dalam bahasa yang lebih spesifik, tindakan tersebut didorong oleh motif takwa, yakni dorongan untuk memperlakukan sesama manusia dengan adil dan sebaik-baiknya, sebagaimana memperlakukan diri sendiri, sesuai perintah Allah SWT.
Dengan demikian, seorang Muslim yang baik, menurut Sjafruddin, tidak akan bertindak semata-mata berdasarkan motif ekonomi. Sebab, hal itu sama saja dengan menindas sesama manusia secara tidak manusiawi. Tindakan semacam ini jelas bertentangan dengan ajaran agama yang menjunjung tinggi keadilan dan kemanusiaan.
Buya Anwar Abbas, Pengamat Sosial Ekonomi dan Keagamaan

