Hikikomori, Alienasi, dan Solusi Religi

Foto Ilustrasi
Foto Ilustrasi

Hikikomori, Alienasi, dan Solusi Religi

Oleh : Dr. Nugroho Dwi Priyohadi, MSc. MH, Psi., alumnus S3 PIO Universitas Airlangga dan UGM, Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik

Berhati-hatilah jika anak kita, bahkan Anda sendiri, mulai tidak menyukai dunia luar. Hanya suka berdiam diri di kamar, asyik dengan diri sendiri, dan jam biologis terbalik; siang tidur, malam terjaga. 

Di Jepang, hal ini sudah lama menjadi diskusi mendalam di antara ahli perilaku tentang adanya fenomena HIKIKOMORI.

Dari pengertian umum, hikikomori adalah gejala perilaku aneh ketika seseorang menarik diri dari kehidupan sosial dan mengurung diri di dalam rumah atau kamar secara terus-menerus selama minimal enam bulan. Individu dengan gejala ini tanpa terasa melakukan isolasi diri selama 6 bulan, yang akhirnya bisa berkepanjangan bertahun-tahun, bahkan hingga puluhan tahun.

Dari siis historis psikologis, fenomena ini muncul di seputaran akhir 1980 -  1990, dan fenomena ini mulai teramati secara luas di Jepang. Dari sisi ekonomi, hal ini  bertepatan dengan terjadinya krisis dan stagnasi ekonomi panjang setelah pecahnya gelembung ekonomi (bubble economy) di Jepang. Selanjutnya istilah khusus tersebut muncul pada tahun 1998. Istilah hikikomori dipopulerkan pada tahun 1998 oleh seorang psikiater asal Jepang, Profesor Tamaki Saito, melalui kajiannya mengenai anak muda yang menarik diri dari masyarakat.

Menurut Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang, hikikomori adalah kondisi ketika seseorang menolak keluar rumah, tidak sekolah atau bekerja, serta mengisolasi diri dari masyarakat selama lebih dari enam bulan

Individu tidak merasa nyaman dengan lingkungan social, cenderung menghindari kontak dengan pihak luar. Mereka tidak bersekolah, tidak bekerja, dan enggan berinteraksi langsung dengan keluarga maupun masyarakat luar.

Tentu saja dalam situasi lokal di Indonesia, mereka bisa mahasiswa yang ada gejala depresi, atau pengangguran yang terkena PHK namun masih bisa hidup minimalis dalam kesehariannya. Aktivitas rutin diisi dengan aktivitas daring, online, waktu sehari-hari banyak dihabiskan di kamar untuk bermain games, menggunakan media sosial, atau menjelajahi internet. Tidak mengherankan, pola tidur terbalik: Cenderung terjaga sepanjang malam dan tidur pada siang hari.

Suasana hatinya terbolak balik, ketika orang lain asyik bekerja atau berinteraksi, individu ini malah bisa tidur seharian, sehingga malamnya menjadi terang benderang dan ia pun kembali asyik masyuk dengan gadget atau online. 

Penyebab Umum

Ada beberapa hal yang bisa memicu hikikomori ini, misalnya adanya tekanan akademik atau pekerjaan. Individu dengan tata nilai (value) perfectionis, melihat banyak beban berat untuk sukses dan ketakutan akan kegagalan di sekolah maupun tempat kerja. Bisa jadi ia juga mengalami perundungan (Bullying) atau Trauma, bisa berupa pengalaman buruk, penolakan sosial, atau perilaku direndahkan oleh lingkungan kerja atau  lingkungan sekolah.

Dari sisi pola asuh, bisa jadi karena faktor keluarga, misalnya hubungan keluarga yang terlalu bergantung (amae) atau pola asuh yang kurang tepat, atau pembiaran tidak saling peduli di antara anggota keluarga. Anak yang cenderung dimanja juga berpotensi hikikomori, sebab bisa tertanam bahwa “dunia luar berbahaya, perbanyak di rumah saja”, yang pada akhirnya justru menjadi simpton psikologis tersebut. 

Di sisi lain, bukan tidak mungkin ada juga disebabkan adanya kecanduan digital. Kemudahan teknologi dan internet membuat interaksi fisik terasa seakan-akan tidak diperlukan lagi, atau dalam bahasa awam “males ngobrol tidak berguna, ber haha hihi tidak lucu”, sehingga individu akan menggumuli internet atau gadgetnya ketimbang melakukan relasi social. 

Jika individu mengalami hal tersebut tanpa ada upaya menghentikan atau mencari konselor, bukan tidak mungkin ada terjadi gangguan kesehatan mental. 

Hikikomori dapat memicu stres berat, depresi, kecemasan sosial, hingga risiko keinginan bunuh diri. Bahkan dari sisi Kesehatan fisik, menurunnya kualitas tidur, melemahnya kebugaran tubuh, serta risiko penyakit metabolik atau kardiovaskular akibat kurang bergerak, menyebabkan individu semakin malas bergerak, apatis, hampa, dan tendency tidur ketika tidak ada hal yang dikerjakan. Bahkan ironisnya, apa yang dia kerjakan tidak lebih dari main games, searching internet, media social, dan sejenisnya. 

Jika ini menimpa seorang suami yang tertimpa PHK, maka ada aspek social adanya beban ekonomi dan emosional bagi keluarga yang harus memenuhi kebutuhan harian. Bukan tidak mungkin akan menjadi sosok suami yang selalu “dimarahi istri”, atau malahan terjadi KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) karena sosok suami yang selalu mengurung diri, tanpa ada produktivitas ekonomi.

Catatannya, berbeda  jika suami tersebut memang menjalankan bisnis online dengan penghasilan besar, namun pasti bukan judi online atau terkait pinjam meminjam online. 

Hikikomori dan Alienasi 

Apakah Hikikomori (kesepian bersifat kinis) dan alienasi (keterasingan) ada keterkaitan erat dalam sosiologi dan psikologi, atau  keduanya  justru merupakan konsep yang berbeda ? Mari kita telaah sedikit terkait hubungan Hikikomori dan Alienasi

Dari sisi persamaan (Manifestasi), pelaku hikikomori (penarikan diri sosial ekstrem selama minimal 6 bulan) sering kali mengalami perasaan terasing dari masyarakat, keluarga, serta diri mereka sendiri. Kondisi ini dapat dilihat sebagai perwujudan fisik dari rasa alienasi. Manifestasi hamper mirip, sama-sama terisolasi secara social. 

Namun dari sisi perspektif Sosiologis (Marx), hikikomori lebih ke arah personal, sementara alienasi ada kaitannya dengan komunal. 

Dalam teori Karl Marx, alienasi bermula dari keterasingan manusia terhadap hasil kerja, proses kerja, sesama manusia, dan hakikat dirinya akibat sistem sosial atau kapitalisme yang keras. Dalam konteks modern, hikikomori bisa dibaca sebagai bentuk protes pasif atau pelarian dari tuntutan kompetitif sistem sosial dan ekonomi tersebut.

Dapat kita lihat bahwa perbedaan utamanya adalah bahwa  alienasi adalah konsep filosofis dan sosiologis mengenai perasaan terasing (seseorang bisa merasa terasing tapi tetap bekerja dan beraktivitas di luar), sementara itu Hikikomori adalah kondisi klinis/pola perilaku konkret berupa isolasi fisik total di dalam kamar atau rumah selama berbulan-bulan hingga bertahun-tahun tanpa bersekolah atau bekerja.

Bagaimana pun, agama adalah pedoman bagi masyarakat beriman. Hikikomori, dalam situasi tertentu bisa saja diterjemahkan dengan perilaku uzlah, jika tujuannya muhasabah dan mengurangi interaksi dengan public. Tentu itu terjemahan awam, karena sejatinya fundamental tujuannya berbeda: uzlah untuk muhasabah dan perenungan diri, sedangkan hikikomori lebih focus pada menarik diri dari “ancaman” social.

Apalagi adanya cenderung kontra produktif sebagaimana uraian fenomena perilaku hikikomori di atas, maka agama justru dapat berperan untuk “menyembuhkan” karena beberapa realitas, khususnya muslim, dengan penjelasan sebagai berikut;

Pertama, para ahli perilaku menyarankan agar pasien hikikomori secara bertahap diajak “Kembali” ke social untuk berinteraksi, jika dalam khasanah muslim ini kita lakukan dengan “ajakan shalat berjamaah di masjid”. 

Ini bukan hal normative, namun jika perilaku shalat berjamaah di masjid menjadi kebiasaan, maka secara konseptual tidak mungkin orang akan mengisolasi terus menerus, sebab seharian dia akan menjalani shalat wajib di masjid minimal 5 kali waktu. 

Di dalamnya ada relasi social. Maka dalam situasi tertentu, tradisi dzikir keras (bersuara) setelah shalat wajib, ada manfaatnya terutama bagi individu yang ingin merasakan “berada di antara komunitas social”, meskipun ini lebih dikenal dalam kazanah nadlizin, dan bukan di Muhammadiyah yang dzikir sirri (hening) setelah shalat. 

Kedua, agama menyarankan bahwa sebaik-baik individu adalah yang bermanfaat bagi orang lain. Meskipun ini bisa dilakukan dengan kegiatan online, namun pasien hikikomori dapat diajak untuk relasi social dengan ajakan “agar bermanfaat lebih”, sehingga mau tidak mau, secara otomatis, individu akan kembali bergaul menjalin relasi social. 

Mengubah pola pikir ini dinamakan sebagai Terapi Rational Emotif (TRE), yang dalam pelaksanaan memang perlu berkomunikasi dengan Psikolog professional. 

Berdasarkan estimasi pemerintah Jepang pada tahun 2019 saja, jumlah hikikomori di Jepang yang berusia 15-64 tahun mencapai 1,1 juta jiwa. Angka ini menurut Prof. Saito Tamaki, seorang peneliti fenomena ini bisa jadi  terlalu rendah dan memperkirakan jumlah sebenarnya bisa mencapai 10 juta jiwa. Hal ini dikarenakan banyak keluarga merasa malu untuk mengakui salah satu anggota keluarganya adalah hikikomori. 

Bagaimana tahun 2026, jika diasumsikan tumbuh 10 % saja, maka penderita hikikomori akan melonjak di angka 11 juta orang, lantas bagaimana dengan Indonesia? 

Fungsi agama di Indonesia yang tidak hanya bergerak di ranah personal namun juga social, idealnya dapat dioptimalkan sebagai salah satu solusi untuk mengatasi fenomena hikikomori. Dakwah perlu digencarkan untuk kalangan muda, dewasa, dan bahkan kasepuhan, supaya semua berlomba dalam kebaikan (fastabighul hairat). Dengan demikian, semua ada terlibat dalam kegiatan social, dan tidak terjerat dalam fenomena hikikomori. 

Diskusi kalangan professional yang lebih mendalam pasti masih sangat dibutuhkan, namun mencermati dunia global yang semakin tidak bisa ditebak, bisa jadi karena sebagian para talenta  (generasi unggul), malahan kejebak dalam fenomena hikikomori. 

Apakah demikian, mari kita cermati di sekitar kita. Wallahu’alam. (***)