In Memoriam Tun Dr Siti Hasmah, antara Keberanian Kemanusiaan dan Komunikasi Diplomatik

Suara Muhammadiyah

29 September 2026

434
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Bersama teman-teman dan pembimbing sesaat setelah wisuda program Doktor UKM Malaysia, 2016 (dok. Istimewa).

In Memoriam Tun Dr. Siti Hasmah, antara Keberanian Kemanusiaan dan Komunikasi Diplomatik

Penulis: Haidir Fitra Siagian, Dosen Komunikasi Politik UIN Alauddin Makassar / Alumni Program Doktor, FSSK Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM) Bangi, Selangor Darul Ehsan.

Kabar berpulangnya ke Rahmatullah  Tun Dr. Siti Hasmah Mohamad Ali dari Kuala Lumpur pada 28 September 2026 terasa begitu menyentuh hati. Saya termasuk yang sedih dan berduka cita. Istri mantan Perdana Menteri Malaysia, Tun Dr. Mahathir Mohamad, itu meninggal dunia di Institut Jantung Negara (IJN) dalam usia 100 tahun. Jenazah mendiang kemudian dimakamkan di Pusara Negara, Putrajaya, dengan penghormatan kenegaraan.

Bagi saya, Siti Hasmah bukan hanya istri seorang mantan perdana menteri. Ia adalah seorang dokter, tokoh kesehatan masyarakat, perempuan yang aktif dalam kegiatan sosial, dan sosok yang memiliki kepedulian besar terhadap persoalan kemanusiaan. Selama beberapa tahun di Malaysia, sosok ini beberapa kali muncul di TV Malaysia, media sosial dan beberapa iklan kemanusiaan di sekitar Kuala Lumpur.

Berita duka tersebut membawa ingatan saya kembali ke masa 2011–2015 ketika saya menyelesaikan program doktor di Pusat Kajian Media dan Komunikasi, Fakulti Sains Sosial dan Kemanusiaan, Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), Bangi, Selangor, bersama Ustaz Dasad Latif, Ruslan Ramli, Suhartono Nurdin, Sudarmono, Arham Selo, dan teman-teman lainnya. Kami sekolah di sini atas beasiswa Gubernur Sulawesi Selatan saat itu, H. Syahrul Yasin Limpo.

Pada kuliah tersebut, salah antara tempat yang sering kami  kunjungi adalah Perpustakaan Tun Sri Lanang. Di tempat yang tenang itu, saya banyak membaca buku dan tulisan mengenai politik Malaysia, termasuk perjalanan politik Tun Dr. Mahathir Mohamad. Selain membaca buku, juga tempat berkumpulkan pelajar-pelajar Indonesia dari berbagai provinsi di tanah air.

Dari berbagai bacaan tersebut, ada satu kisah yang sampai sekarang masih saya ingat, yaitu perjalanan Siti Hasmah ke Irak pada Maret 2000. Pada waktu itu, Irak sudah sekitar sepuluh tahun berada dalam situasi amat sulit setelah menginvasi Kuwait pada Agustus 1990. Perang Teluk dan sanksi ekonomi internasional yang berlangsung selama bertahun-tahun telah memberikan dampak besar kepada masyarakat sipil Irak yang tiada berdosa.

Dalam salah satu pidatonya, Siti Hasmah menceritakan bahwa pada Maret 2000 ia memimpin kelompok perempuan dari beberapa organisasi sosial untuk melihat sendiri keadaan masyarakat Irak. Tujuannya sederhana: ingin mengetahui keadaan sebenarnya, terutama dampak sanksi terhadap kesehatan dan kehidupan masyarakat.

Kunjungan tersebut memberi pengalaman langsung kepadanya. Tun melihat persoalan pangan, kesehatan, air dan sanitasi, serta penderitaan anak-anak dan perempuan. Sebagai seorang dokter, melihat keadaan seperti itu tentu bukan pengalaman biasa. Tun tidak hanya membaca laporan atau mendengar cerita dari orang lain. Walaubagaimanapun  datang, melihat, dan mendengarkan sendiri.

Dalam aspek ini,  saya melihat keberanian Siti Hasmah sebagai seorang perempuan. Ia tidak sekadar menjalankan kegiatan sosial dari tempat yang aman. Malahan  bersedia hadir di tengah masyarakat jauh dari negerinya yang sedang mengalami kesulitan akibat konflik dan tekanan ekonomi internasional.

Satu hal yang menarik bagi saya, ia datang bukan sebagai politisi atau pejabat militer. Ia datang sebagai dokter dan tokoh masyarakat (opinion leader). Pengetahuan dan profesinya menjadi bagian dari cara ia melihat persoalan Irak. Keberanian seperti ini tidak selalu berarti berada di medan perang atau mengambil keputusan politik yang besar. Kadang-kadang keberanian berarti bersedia datang ke tempat yang sulit, melihat penderitaan secara langsung, lalu menyampaikan apa yang dilihat kepada masyarakat.

Perjalanan tersebut juga mempertemukannya dengan Presiden Irak Saddam Hussein. Menurut penuturan Siti Hasmah, pertemuan itu tidak direncanakan sebagai agenda utama. Mahathir tidak memintanya mengatur pertemuan dengan Saddam. Namun, apabila Saddam sendiri yang meminta bertemu, ia diperbolehkan memenuhi permintaan tersebut. Pertemuan itu kemudian berlangsung secara tertutup dan menjadi salah satu pengalaman penting dalam kunjungannya ke Irak.

Bagi saya, kisah tersebut menarik jika dilihat dari perspektif komunikasi politik. Siti Hasmah dapat dipahami sebagai komunikator yang membawa pengalaman masyarakat Irak dari lapangan ke ruang publik. Ia tidak melakukan diplomasi formal seperti seorang menteri luar negeri. Namun, kunjungan, kesaksian, dan pengalaman langsungnya memiliki nilai komunikasi yang kuat. Sesuatu yang jarang dilakukan perempuan istri pemimpin lainnya.

Komunikasi politik memang tidak selalu berbentuk pidato, kampanye, konferensi pers, atau perundingan antarnegara. Tindakan dan kehadiran seseorang juga dapat menyampaikan pesan politik. Dalam konteks ini, perjalanan Siti Hasmah dapat dibaca sebagai komunikasi simbolik yang memiliki dimensi kemanusiaan dan diplomasi.

Saya juga melihat kisah ini dari perspektif Islam. Sebagai seorang dokter dan Muslimah, kepeduliannya terhadap manusia yang sedang menderita sejalan dengan ajaran Islam tentang pentingnya menjaga kehidupan. Al-Qur'an dalam QS Al-Ma'idah ayat 32 menegaskan tingginya nilai menyelamatkan kehidupan manusia.

Karena itu, bagi saya, pemergian Siti Hasmah bukan hanya kehilangan bagi keluarga Mahathir dan masyarakat Malaysia. Ia meninggalkan cerita tentang seorang perempuan yang menggunakan ilmu, kedudukan, dan pengaruhnya untuk mendekati persoalan kemanusiaan. Pengaruh yang positif dan mencerminkan nilai-nilai luhur.

Siti Hasmah juga menunjukkan bahwa kedekatan dengan kekuasaan tidak boleh  membuat seseorang jauh dari penderitaan manusia. Sebaliknya, posisi publik dapat digunakan untuk mendekat, melihat, mendengar, dan menyuarakan persoalan masyarakat.

Itulah yang membuat kisah perjalanan Siti Hasmah ke Irak tetap menarik untuk dikenang. Ia mengingatkan kita bahwa komunikasi politik pada akhirnya bukan hanya tentang kekuasaan, tetapi juga tentang manusia.

Selamat jalan, Tun Dr. Siti Hasmah. Semoga Allah SWT menerima segala amal pengabdian mendiang dan menempatkannya di tempat terbaik di sisi-Nya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Prof Dr  Siti Chamamah Soeratno: Penjaga Ingatan Peradaban Penulis: Abd Rohim Ghazali, Se....

Suara Muhammadiyah

8 July 2026

Humaniora

In Memoriam: dr. H. Subari Damopolii – Dokter Langka, Ustaz, dan Akademisi Oleh: Haidir Fitra....

Suara Muhammadiyah

12 November 2024

Humaniora

Washli Sjafie: Nusantarakan Pendidikan Muhammadiyah Kalimantan Barat Oleh: Amalia Irfani Keb....

Suara Muhammadiyah

6 October 2023

Humaniora

Oleh: Buya Ari Al Linggawi, Alumnus Megister ITB Ahmad Dahlan Di kaki Gunung Singgalang, dihembus a....

Suara Muhammadiyah

25 November 2025

Humaniora

Lebaran Terakhir  Cerpen Affan Safani Adham Siapa yang tahu kalau saat ini adalah waktu terak....

Suara Muhammadiyah

7 June 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah