Kemenangan: Antara Sejati dan Semu dalam Kehidupan
Oleh: Rumini Zulfikar (Gus Zul), Penasehat PRM Troketon, Pedan, Klaten
"Tatkala ruhani kita masih berkabut serta kering kerontang, maka kehidupan kita akan kalang kabut."
Ramadhan barusan meninggalkan kita semua. Selama sebulan tersebut, pasti masing-masing orang mempunyai catatan atau cerita sendiri-sendiri. Dalam hal ini, sebuah ungkapan sangat relevan, yaitu puasaku, puasamu, puasa kita. Secara implisit, setiap proses perjalanan masing-masing individu untuk mencapai tujuan ditempuh dengan jalan yang berbeda-beda, walaupun tujuannya sama.
Bagi penulis, ritme dalam menata kehidupan umat yang mengaku beriman dan bertauhid adalah puasa itu sendiri untuk mencapai rasa syukur, diawali dari sebuah ketaatan (ketundukan), dilanjutkan dengan bentuk aplikasi nyata (takwa) menuju syukur. Sehingga dalam menyambut hari kemenangan tersebut, bisa selaras antara ruhani dan jasmani.
Bagi penulis (Gus Zul), Hari Raya Idul Fitri tahun ini banyak memberikan pelajaran dan hikmah sebagai refleksi diri.
Pada Kamis, 19 Maret, penulis diminta mengisi kajian di Mushola Al-Ikhlas di Kampung Ngalasan, dekat tempat tinggal penulis. Mushola tersebut memang nadzirnya NU, tetapi beberapa tahun ini penulis diminta untuk mengisi pengajian Senja Ramadhan. Tahun ini, jadwal penulis justru di akhir Ramadhan.
Ada sebuah cerita menarik dan mengharukan saat ketua takmir mushola berbincang dengan penulis:
Ketua Takmir Mushola: “Pak, ampun kesupen, lho. Jenengan pokoknya jatah tanggal 19 Maret, pas akhir Ramadhan, Pak.”
Gus Zul: “Njih, Pak.”
Ketua Takmir Mushola: “Lha besok kalau Lebaran tidak sama, bagaimana, Pak?”
Gus Zul: “Ya tidak apa-apa, Pak. Saya hari Jumat, Pak.”
Ketua Takmir Mushola: “Berarti nanti kalau sudah mengisi pengajian, jenengan takbirnya di batin dulu, nggih, Pak!”
Gus Zul: “Ya nanti saya lewat HP saja, Pak, biar yang dengar di sekitar saya juga ikut,” jawab penulis sambil tertawa, dan sang ketua takmir pun turut tertawa.
Setelah itu, penulis melanjutkan sholat Magrib berjamaah di mushola sebelum pamit pulang untuk menjemput istri.
Pagi hari sekitar pukul 05.45, penulis bersama istri dan anak laki-laki bergegas menuju tempat sholat Idul Fitri di lapangan SDN 1 Troketon yang berjarak kurang lebih 1 km. Kami hanya bertiga, karena anak perempuan sedang belajar di LPK dan merayakan lebaran di Jakarta.
Saat sholat Idul Fitri, sang anak mengabari melalui pesan bahwa ia melaksanakan sholat Id di Cilandak, Jakarta Selatan, bersama ribuan jamaah di PCM Cilandak. Penulis pun terhanyut dalam suasana bahagia.
Khatib saat itu, Jalal Suyuti (PCM Pedan), menyampaikan khutbah tentang pentingnya menjaga diri dari sikap tercela dan dosa, sekaligus menjadi beban moral agar kita terus berjuang menjadi lebih baik setelah Ramadhan.
Sehabis sholat Idul Fitri dan makan bersama dengan hidangan khas lebaran, nasi opor dan rempeyek, penulis menerima sungkem dari istri dan anak laki-laki.
Dalam kesempatan itu, penulis berpesan kepada istri agar menjaga hati dengan sebaik-baiknya dan tidak mudah mengikuti ego. Kepada anak laki-laki, penulis berpesan agar belajar dengan tekun, menjaga sholat, serta berbakti kepada orang tua dengan akhlak yang baik.
Sementara kepada anak perempuan melalui video call, penulis berpesan untuk membangun hati yang bersih dan suci (ya sa‘a qolbu), serta menjaga diri dengan dzikrullah, karena saat ini jauh dari keluarga.
Kejujuran Lahir dan Batin
Idul Fitri tidak dapat dipisahkan dari tradisi silaturahim. Pada hari kedua lebaran, Sabtu, 21 Maret 2026, penulis bersilaturahim ke beberapa saudara.
Sebuah pelajaran berharga didapatkan, yakni pentingnya kejujuran dalam mengakui kesalahan, menjaga silaturahim, serta ketulusan dalam meminta dan memberi maaf.
Ada dua kalimat yang sangat membekas. Pertama, pentingnya menjaga keseimbangan lahir dan batin dalam segala hal, termasuk dalam meminta maaf. Kedua, saat penulis pamit pulang, seorang ibu berkata dengan terbata-bata:
"Le, besok nek aku ora ono, tulung silaturahimnya ojo kepedhot.”
(Jika suatu saat saya sudah tiada, jangan putus silaturahimnya).
Penulis menjawab, “Inggih, Mbah, bismillah kita jaga silaturahim keluarga besar.”
Memberi Petuah Saat Menerima Tamu
Penulis juga menerima tamu yang bersilaturahim, mulai dari keponakan, ketua RT, pedagang motor, tukang cukur, sopir truk, hingga memantau rekan yang sedang dalam pemulihan dari sakit jantung dan stroke.
Dalam kesempatan tersebut, penulis menitipkan pesan:
Jaga nilai-nilai ibadah kepada Allah, terutama sholat.
Kendalikan amarah dan ego dalam kehidupan.
Jaga keseimbangan hidup agar tidak mudah goyah.
Penulis juga menukil firman Allah dalam QS Asy-Syu‘ara ayat 62:
"Inna ma‘iya rabbî sayahdîn."
Bahwa Allah bersama kita dan akan menunjukkan jalan.
Kunci ketenangan (sakinah) adalah hati yang bersih. Hal ini dapat dicapai dengan menggenggam kuat komitmen (temen), disertai ketekunan (tekun), hingga tujuan tercapai (tekan).
Hal ini selaras dengan firman Allah dalam QS Ar-Ra’d ayat 28:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ
(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.Ayat tersebut memberikan petunjuk bahwa untuk mencapai kemenangan sejati, kuncinya adalah ketenangan dalam diri. Jika kita jujur, banyak masalah muncul karena kita masih mengikuti hawa nafsu dan ego berlebihan.
Akibatnya, masalah datang bertubi-tubi, baik dalam kehidupan sosial, budaya, ekonomi, politik, bahkan dalam beragama dan berbangsa.
Dengan ketenangan, kita tidak menjadi insan yang rapuh, baik secara ruhani maupun jasmani. Sehingga kita akan mendapatkan kemenangan yang sejati, bukan kemenangan semu.
